Pergaulan Intens Antarteman Sebaya Picu Tawuran

Jum'at, 03 Mei 2013 16:07 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

Ilustrasi tawuran antarpelajar (Foto : Heru Haryono/Okezone) Ilustrasi tawuran antarpelajar (Foto : Heru Haryono/Okezone) JAKARTA - Beberapa waktu lalu, dunia pendidikan Indonesia masih dihantui dengan adanya aksi tawuran antarpelajar. Bahkan, aksi yang semakin brutal itu kerap menimbulkan korban jiwa.

Hal tersebut mendasari Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Khamim Zarkasih Putro untuk menjadikannya sebagai bahan penelitian guna meraih gelar doktor di UMY. Untuk melengkapi penelitian tersebut, dia melakukan studi kasus di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

Dalam disertasi berjudul “Agresivitas Pelajar di Kota Yogyakarta" itu, Khamim menyebut, interaksi antarteman sebaya menjadi pengaruh dominan dalam perilaku agresivitas remaja. Sebab, masa remaja merupakan fase di mana mereka senang hidup berkelompok dengan teman yang berusia sebaya (peer groups).

Adanya teman sebaya ini juga memiliki peranan yang sangat penting pada diri remaja, khususnya dalam hal menunjukkan identitas diri. Dari pergaulan itulah, kemudian memuncul fenomena genk dalam kehidupan pelajar.

“Genk-genk itu muncul karena adanya pergaulan yang intens antarteman sebaya. Karenanya terkadang timbul tawuran antar pelajar, yang sebenarnya hal itu hanya untuk menunjukkan eksistensi diri mereka,” ujar Khamim, seperti dilansir oleh Okezone, Jumat (3/5/2013).

Menurut peraih predikat sangat memuaskan pada sidang doktoral itu, pemilihan subjek penelitian itu dikarenakan banyak masalah tawuran, pemerkosaan, pencurian, dan pemalakan yang juga terjadi pada remaja. Oleh karena itu, penelitian tersebut diharapkan mampu mencari pemecahan yang tepat untuk mengatasi persoalan itu.

“Untuk itulah, saya mengambil subjek penelitian ini untuk mengetahui tingkat agresivitas pelajar, khususnya di Yogyakarta. Kemudian untuk menyelesaikan persoalan agresivitas yang terjadi dan menemukan solusi yang tepat,” imbuh lulusan doktor UMY kedelapan itu.

Dosen yang juga mengajar di UIN Sunan Kalijaga itu mengimbau, untuk menetralisir perilaku agresif pelajar dibutuhkan peran serta orangtua, sekolah, dan lingkungan pelajar. Selain itu, sistem pembelajaran yang diciptakan harus kondusif dan sehat, serta tidak banyak waktu kosong yang kemudian membuat mereka melakukan hal-hal yang sia-sia.

“Sekolah juga hendaknya berupaya memfasilitasi siswa agar dapat selektif dalam memilih teman. Kemudian, orangtua sebagai sekolah pertama anak, hendaknya juga bisa menerapkan pola asuh yang dapat memberikan contoh baik, sehingga dapat menjadi teladan bagi anak, serta dapat mencegah perilaku agresif anak,” urai Khamim.

Sementara itu, salah seorang penguji sidang doktoral Khamim, yakni Sarbiran menambahkan, tidak selamanya perilaku agresif itu dimaknai dengan konotasi negatif. Sebab ada pula perilaku agresif yang positif.

"Contohnya mendorong siswa untuk lebih berprestasi dan percaya diri menggunakan kemampuannya secara maksimal. Jadi, kalau dalam mengajar, usahakan pula untuk tetap menonjolkan agresivitas positif tersebut,” papar Sarbiran. (mrg)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 26
    April
    Sabtu, 26 April 2014
    Korean Culture Day 2014 di UI
  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014
  • 02
    Mei
    Jum'at, 02 Mei 2014
    ITS Expo 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป