Poltek Fakfak, "Mahar" Kemendikbud untuk Papua

Rabu, 10 April 2013 10:24 wib | Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone

Mendikbud M Nuh meletakkan batu pertama pembangunan Politeknik Negeri Fakfak, Papua Barat. (Foto: Kemendikbud) Mendikbud M Nuh meletakkan batu pertama pembangunan Politeknik Negeri Fakfak, Papua Barat. (Foto: Kemendikbud) JAKARTA - Dalam beberapa tahun mendatang, Bumi Cenderawasih akan memiliki satu pusat unggulan (center of excellence) pendidikan tinggi. Hal itu ditandai dengan dimulainya pembangunan Politeknik Negeri Fakfak, Papua Barat.

Tidak main-main, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengucurkan Rp35 miliar untuk membangun kampus di lahan seluas 15 hektare (ha) itu.

"Ini adalah mahar atau mas kawin dari Kementerian kepada masyarakat Papua Barat, khususnya putra-putri Fakfak," ucap Nuh dalam acara peletakan batu pertama Politeknik Negeri Fakfak, seperti dikutip dari laman Kemendikbud, Rabu (10/4/2013).

Menurut Nuh, pembangunan kampus politeknik negeri pertama di Papua itu merupakan investasi untuk generasi mendatang agar memiliki kompetensi sesuai zamannya. Kompetensi ini, kata Nuh, meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Tidak hanya itu, mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini juga berharap Politeknik Negeri Fakfak bisa menjadi pusat unggulan, tidak hanya bagi putra daerah, tetapi juga dunia pendidikan Tanah Air. Karena itulah, Nuh mengingatkan, ada sedikitnya empat tahapan yang harus dipersiapkan Politeknik Fakfak.

Pertama, menyiapkan dosen. Nuh menjamin, kementerian akan memberikan beasiswa bagi putra-putri Fakfak maupun Papua Barat yang bercita-cita menjadi dosen. Pemberian beasiswa itu diharapkan dapat membantu mereka mendapatkan pendidikan lebih tinggi sehingga siap mengajar di Politeknik Negeri Fakfak.

Kedua, membangun tradisi budaya akademik yang exellence. "Caranya, dengan menyiapkan suasana kampus  yang nyaman untuk mengembangkan keterampilan keilmuan dan sikap," imbuh Nuh. 

Ketiga, menyiapkan sistem manajemen yang akuntabel dan transparan. Nuh mengingatkan, hal itu penting agar kampus terhindar dari penyelenggaraan pendidikan yang tidak sesuai aturan-aturan  akuntabilitas manajemen modern.

"Tahap keempat adalah menumbuhkan keramahan sosial sehingga warga miskin tetap mendapatkan akses pendidikan," tutur Nuh.

Harapan yang sama dilontarkan Bupati Fakfak Muhamad Uswanas. Dia memiliki visi untuk menjadikan Politeknik Negeri Fakfak sebagai basis persiapan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dalam pembangunan Papua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saat ini, Politeknik Negeri Fakfak menggunakan dana APBD untuk membiayai operasional tahun pertamanya. Selain itu, Politeknik Negeri Fakfak juga bekerjasama dengan Universitas Papua (Unipa) dan Universitas Cenderawasih (Uncen) dalam menyediakan dosen.

"Kami berharap Kemendikbud dapat segera membantu merealisasikan fisik pembangunan kampus Politeknik Negeri Fakfak dan memberikan prioritas kepada angkatan pertama untuk dapat magang di berbagai perguruan tinggi dan politeknik di seluruh Indonesia," imbuhnya.  (rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERITA TERKAIT

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014
  • 02
    Mei
    Jum'at, 02 Mei 2014
    ITS Expo 2014

SPEAK UP

UN Perlu Pakai Ritual Nggak Sih?

Ujian nasional (UN) sudah di depan mata. Duh, harus rajin belajar nih. Sebelum menghadapi UN, perlu ritual khusus nggak sih buat kalian? Kirimkan pendapat kalian ke rubrik Suara Mahasiswa periode 8-16 Maret 2014 dengan tema "UN Perlu Pakai Ritual Nggak Sih?" ke alamat email kampus@okezone.com. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling kece pastinya.. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป