Gonjang-ganjing Uang Kuliah Tunggal

Senin, 01 April 2013 13:42 wib | -

Mukhlis Ndoyo Said. (Foto: dok. pribadi) Mukhlis Ndoyo Said. (Foto: dok. pribadi) BEBERAPA bulan belakangan ini, dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi negeri (PTN), digegerkan dengan rencana kebijakan pembayaran kuliah cara baru yang sangat berbeda dibandingkan dengan cara lama, yakni Uang Kuliah Tunggal (UKT). Maka dari itu jangan kaget kalau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) akan menjadi trending topic obrolan masyarakat Indonesia beberapa waktu ke depan.
 
Suara dan teriakan penolakan UKT pun dimulai dan tentunya dilakukan oleh mahasiswa di berbagai daerah. Di Yogyakarta misalnya, aksi penolakan digawangi oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Semarang dimotori mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Indonesia (UI) bergerak di Jakarta dan sekitarnya, dan masih banyak lagi.
 
UKT mulai menjadi perbincangan sejak dikeluarkannya surat edaran DIKTI Nomor 97/E/KU/2013 yang menginstruksikan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk:

  • Menghapus uang pangkal bagi mahasiswa baru program S-1 Reguler mulai tahun akademik 2013/2014.
  • Menetapkan dan melaksanakan tarif Uang Kuliah Tunggal bagi mahasiswa baru S-1 Reguler mulai tahun akademik 2013/2014.
 
Surat edaran tersebut menyiratkan bahwa dalam waktu dekat UKT harus segera diterapkan oleh seluruh PTN di Indonesia. Tiap PTN pun memerlukan waktu untuk dapat menyesuaikan sistem internal mereka, terutama yang berkaitan dengan sistem keuangan, dengan system UKT ini. Tujuannya, agar mereka dapat mengidentifikasi seberapa besar stabilitas pengeluaran dan pemasukan. Selain itu, kebijakan tersebut memunculkan spekulasi, mengapa yang dikeluarkan harus surat edaran? Sementara, secara derajat keabsahan, kebijakan seperti UKT seharusnya dikeluarkan dengan peraturan selevel Peraturan Menteri (Permen) atau bahkan Undang-undang.
 
Pertanyaan tersebut terjawab dengan fakta bahwa saat ini Kemendikbud masih menyosialisasikan ke internal tiap-tiap PTN di Indonesia sembari melakukan proses penyesuaian neraca keuangan masing-masing PTN. Langkah ini ditempuh agar UKT terdistribusi secara komprehensif dan tidaklah parsial. Sedangkan sosialisasi ke masyarakat umum mengenai UKT akan menunggu kesepakatan dari seluruh PTN di Indonesia tentang bujet operasional kampus. Dari masukan ini kemudian akan menjadi rujukan keluarnya Peraturan Menteri. Itu berarti sosialisasi akan dilakukan oleh Kemendikbud sekira bulan April-Mei. Sebenarnya yang paling krusial adalah bagaimana konsep UKT tersebut dapat tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat umum, terutama yang tengah dan atau sedang menikmati proses pendidikan di PTN.
 
Selain itu, ternyata ada sesuatu hal yang sebelumnya tidak kita ketahui bahkan birokrat di tataran universitas atau institut tinggi, yakni perihal sasaran dari kebijakan UKT. Pada surat edaran tersebut jelas tertulis bahwa penghapusan uang pangkal dan pemberlakuan UKT adalah untuk mahasiswa S-1 reguler. Ternyata faktanya, beberapa perguruan tinggi juga memberlakukan UKT untuk mahasiswa program D-3.
 
Kesalahan fatal seperti ini dikhawatirkan akan menurunkan kredibilitas Kemendikbud. Bisa juga ini adalah bentuk dari ketidaksiapan Kemendikbud dalam memberlakukan UKT. Namun yang pasti, kebijakan baru tentu ada plus minus-nya. Maka dari itu, kita selaku pribadi yang peduli dengan pendidikan Indonesia sudah selayaknya berpikir dan bergerak bersama untuk mencari objektivitas dari gonjang-ganjing yang terjadi. Saya juga sebagai sesama mahasiswa turut menghimbau kepada seluruh mahasiswa Indonesia untuk menjaga ketertiban dalam menyuarakan pendapat. Boleh Protes Asal Paham. Boleh Aksi Asal Jangan Anarki.
 
Mukhlis Ndoyo Said
Mahasiswa Teknik Industri
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
Ketua HMTI ITS 2012/2013
Penerima Beasiswa PPSDMS Angkatan VI Regional IV Surabaya

(//rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 24
    April
    Kamis, 24 April 2014
    Serunya Ikut PNJ Fair 2014
  • 26
    April
    Sabtu, 26 April 2014
    Korean Culture Day 2014 di UI
  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป