Kompetensi Inti & Dasar Kurikulum 2013 Enggak Nyambung

Jum'at, 15 Februari 2013 18:34 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

(Foto : Dede Kurniawan/Okezone) (Foto : Dede Kurniawan/Okezone) JAKARTA - Dalam pembuatan kurikulum baru, rumusan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) hendaknya terkait satu sama lain. Namun, pada kenyataannya, banyak yang tidak sesuai.  
Demikian disampaikan Ketua Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Sulistyowati. Dia menyebutkan, adapun KI meliputi empat hal, yakni semangat religius, sikap sosial sebagai anggota masyarakat dan sebagai bangsa, pengetahuan baik faktual, konseptual, prosedural, maupun meta kognitif, serta aplikasi ketiga poin tersebut merupakan satu kesatuan.
 
"KI poin satu dan dua tidak diajarkan langsung (indirect teaching). Sementara KI mengikat semua KD dari semua mata pelajaran di mana poin pertama dalam KI mengutamakan semangat religius," papar Retno di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (15/2/2013).
 
Dia menilai, sepertinya para penyusun bekerja dengan cara mengambil salah satu kalimat yang ada pada KI kemudian dikaitkan dengan materi-materi yang akan diajarkan. Sehingga tidak mengherankan ketika muncul KD dan KI lucu yang ada dalam pelajaran matematika.
 
"Jadilah hubungan antara disiplin, konsisten, jujur, dan aturan eksponen serta logaritma. Maupun perbedaan di dalam masyarakat majemuk dan persamaan dan pertidaksamaan linear, dan seterusnya," jelasnya.
 
Menurut Retno, dia bersama Koalisi Tolak Kurikulum 2013 merasa bingung jika kompetensi dasar tersebut yang dianggap sebagai kurikulum hebat yang dibutuhkan oleh seluruh anak Indonesia. Apalagi, lanjutnya, tidak ada yang baru dalam kurikulum 2013.
 
"Tidak ada yang baru dalam kurikulum. 2013 karena tematik integratif yang selalu diiklankan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) juga ada dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Demikian pula dengan proses pembelajarannya," imbuh Retno.
 
Retno menambahkan, proses penilaian KTSP maupun kurikulum baru hendaknya tidak menggunakan Ujian Nasional (UN). Sebab kedua kurikulum tersebut mengedepankan proses. Sehingga salah satu kegagalan KTSP adalah terbunuh oleh UN.
 
Dia berpendapat, akan lebih baik jika sekolah tetap menganut kurikulum 2006, yakni KTSP. "Oleh karena itu, kembali saja ke KTSP dan benahi guru serta LPTK," tandasnya.
 
(rhs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 24
    April
    Kamis, 24 April 2014
    Serunya Ikut PNJ Fair 2014
  • 26
    April
    Sabtu, 26 April 2014
    Korean Culture Day 2014 di UI
  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป