Revisi PP 74, Mesin Pembunuh Organisasi Guru

Selasa, 15 Januari 2013 14:57 wib | Senny Ferdian Ciu - Okezone

Salah satu aksi unjuk rasa guru Indonesia. (Foto: dok. Okezone) Salah satu aksi unjuk rasa guru Indonesia. (Foto: dok. Okezone) JAKARTA- Perubahan Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 tahun 2008 tentang guru mendapat penolakan dari beberapa organisasi guru di Indonesia seperti Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Ikatan Guru Indonesia (IGI), dan Federasi Guru Independen Indonesia (FGII). Untuk menyampaikan masukan mengenai revisi tersebut, mereka didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum mendatangi kantor Wantimpres, Jakarta, Selasa (15/1/2013).

Ketua Presidium FSGI, Guntur Ismail mengilustrasikan PP tersebut sebagai mesin pemusnah organisasi profesi guru di Indonesia, karena membatasi kebebasan guru untuk berserikat, berkumpul, dan berpendapat.

"Revisi PP 74 tahun 2008 ini bisa diilustrasikan sebagai mesin pembunuh organisasi guru nasional. Terutama pasal 44 ayat 3 yang mengatakan syarat berdirinya organisasi guru harus memiliki keanggotaan yang merata se-Indonesia dan kepengurusannya harus tersebar di seluruh provinsi, minimal 75 persen dari kabupaten/kota. Syarat tersebut hanya mampu dipenuhi oleh PGRI," tutur Guntur di kantor Wantimpres, Jakarta Pusat, Selasa (15/1/2013).

Kemudian, lanjutnya, perubahan PP tersebut juga akan semakin menurunkan mutu pendidikan Indonesia. Pasalnya, revisi tersebut membatasi ruang guru untuk mengkritik kebijakan pemerintah. Secara tidak langsung, hal itu akan berpengaruh pada siswa yang dididik oleh guru tersebut.

"Kan siswa diharapkan dapat bersikap kritis. Kalau gurunya saja dilarang untuk kritis, bagaimana anak didiknya bisa bersikap kritis," imbuh Guntur.

Selain itu, dia menjelaskan, kedatangannya bersama FSGI, IGI dan FGII bertujuan untuk memberi masukan kepada presiden melalui Wantimpres agar presiden dapat membuat pertimbangan sebelum menandatangani revisi PP No. 74 tahun 2008.

"Dengan kedatangan kami ini, saya berharap kami dapat memberi masukan kepada presiden agar presiden bisa mempertimbangkan dan tidak salah mengambil keputusan," jelasnya. (rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 24
    April
    Kamis, 24 April 2014
    Serunya Ikut PNJ Fair 2014
  • 26
    April
    Sabtu, 26 April 2014
    Korean Culture Day 2014 di UI
  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป