Kisruh UI Dibukukan

Selasa, 16 Oktober 2012 14:05 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

Ilustrasi : ist. Ilustrasi : ist. JAKARTA - Korupsi telah menjalar ke berbagai bidang kehidupan tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Maka, untuk memberantasnya hingga ke akar, diperlukan peran serta masyarakat kampus.  
Demikian diungkapkan aktivis Indonesian Corruption Watch (ICW) Tama S Langkun dalam acara peluncuran buku Membangun di Atas Puing Integritas : Belajar dari Universitas Indonesia (UI) besutan sejumlah anggota gerakan UI Bersih di Fakultas Kedokteran UI Salemba, Jakarta Pusat.
 
“Masyarakat kampus harus bergerak untuk melawan tumbuhnya korupsi di dunia  pendidikan yang sekarang menjadi sektor terkorup di Indonesia. Pada 2009, pendidikan adalah sektor terkorup nomor empat, pada 2010 menjadi nomor tiga, dan pada dua tahun terakhir menjadi sektor terkorup di Indonesia,” ujar Tama, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Selasa (16/10/2012).
 
Buku setebal 802 halaman ini merupakan karya bersama gerakan UI Bersih yang selama satu tahun terakhir berupaya membersihkan UI dari praktek mismanajemen dan korupsi. Dalam acara yang dihadiri sekira 250 peserta itu, Ekonom Faisal Basri, anggota Komisi X DPR Dedi Gumelar atau yang akrab disapa Miing, Hendriana Yadi (IJTI), serta perwakilan mahasiswa, yakni Andreas Senjaya didapuk sebagai pembicara.
 
Para pembicara bersama-sama menyatakan, UI harus menjadi contoh bagaimana masyarakat kampus bisa melawan tumbuhnya korupsi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “Kampus harus kembali menjadi kekuatan yang mengutamakan nilai-nilai kebenaran,” kata Faisal Basri.
 
Hendriana menuturkan, perlawanan korupsi di UI merupakan fenomena luar biasa. "Ini bisa memberi contoh bagaimana para dosen dan mahasiswa bisa melawan penguasa yang melakukan kesalahan tata kelola," papar Hendriana.
 
Menurut Miing, apa yang terjadi di UI bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh instansi pendidikan tinggi lainnya untuk tetap waspada akan adanya praktik korupsi di kampus. “UI adalah contoh bagaimana politik kotor masuk sampai ke kampus,” tukas Miing.
 
Buku ini menampilkan puluhan karya dosen, guru besar, serta mahasiswa UI tentang bagaimana UI hancur akibat kehilangan landasan ‘kebenaran,keadilan dan kejujuran’ yang seharusnya dijunjung tinggi. Tiga editor yaitu, Riris Sarumpaet, Manneke Budiman, dan Ade Armando menyunting puluhan tulisan yang terentang dari  tulisan reflektif, pengalaman langsung, data empirik, analisis mendalam serta juga prosa liris dan pusi dan sejumlah surat-surat personal dan juga organisasional kepada para pejabat UI dan pemimpin negeri tentang kehancuran UI.
 
Sebagian tulisan memang pernah dimuat di media massa atau di berbagai  acara publik, namun sebagian besar lainnya adalah karya-karya yang baru pertama kali dipublikasikan. Berikut beberapa nama penulis yang menyumbangkan karya dalam buku tersebut, di antaranya Emil Salim, Pratiwi Sudarmono, Akmal Taher, Anwar Nasution, Mayling Oey, Rhenald Kasali, Yunita Winarto, Sulistyowati L Irianto, Edy Sedyawati, Anna Erliyana, Effendi Ghazali, Gadis Arivia, Tamrin Amal Tomagola, Taufik Bahaudin, Nina Mutmainnah Armando, Kristi Poerwandari, dan Rocky Gerung.
(mrg)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 26
    April
    Sabtu, 26 April 2014
    Korean Culture Day 2014 di UI
  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014
  • 02
    Mei
    Jum'at, 02 Mei 2014
    ITS Expo 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป