Menyikapi Tawuran Pelajar dengan Teori

Rabu, 03 Oktober 2012 16:28 wib | -

Menyikapi Tawuran Pelajar dengan Teori Pandu Wibowo (Foto: dok. pribadi) TAWURAN pelajar seakan menjadi hal yang turun temurun diwariskan dari pelajar yang satu kepada pelajar lainnya. Belum lama kita melihat dan mendengar tewasnya seorang pelajar SMA akibat tawuran, terjadi lagi kasus yang sama. Kali ini siswa SMK tewas terbunuh di kawasan Jakarta Pusat akibat tawuran antarpelajar. Hal tersebut mendapat perhatian khusus dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Pemerintah Daerah, dan pihak sekolah yang terkait. Selama dua tahun terakhir, Komisi Nasional Anak mencatat, telah terjadi 139 kasus tawuran dan menewaskan 36 pelajar pada tahun 2011. Sedangkan dari awal tahun 2012 sampai september, kasus tawuran antar pelajar mencapai 127 kasus dan menewaskan 26 pelajar.  
Dari rentetan kasus tawuran tersebut, sebenarnya tawuran yang terjadi hanya karena masalah sepele atau ringan. Penyebab sepele ini akhirnya menyulut tindak kekerasan yang dilakukan antarpelajar hingga berujung tewasnya beberapa siswa. Penyebab banyaknya kasus tawuran ini bisa kita lihat dan analisis dari dua sudut pandang teori. Pertama, teori Frustasi – Agresi dan yang kedua, teori Kekerasan Kolektif.
 
Teori Frustasi – Agresi adalah usaha seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan mengalami hambatan. Kondisi ini akan menimbulkan dorongan untuk bertindak agresif yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku untuk melukai seseorang atau merusak objek yang menyebabkan frustasi. Jika dikaitkan dengan kejadian tawuran yang baru-baru ini terjadi, dapat dikatakan, ketika pelajar melakukan tawuran mereka tidak segan-segan untuk melukai satu sama lain. Mereka tidak memikirkan apakah akan ada korban tewas atau terluka. Ini semua dilakukan karena sikap frustrasi pelajar dan didukung oleh jiwa yang labil akibat salah dalam pergaulan.
 
Penyebab penyebab tawuran tersebut sebenarnya hanya karena masalah ringan. Misalkan, ada sebuah kelompok pelajar yang menamai mereka sebagai pelajar dari sekolah A yang mempunyai tujuan untuk menguasai tempat berkumpulnya pelajar atau tempat nongkrong tertentu. Tapi tiba-tiba pelajar dari sekolah lain (sekolah B) juga memilki keinginan yang sama. Akhirnya untuk mencapai tujuan tersebut, para pelajar yang masih berjiwa labil mudah frustasi dan emosi. Pada tahap ini, mereka cenderung akan memotivasi diri untuk saling menguasai tempat tersebut walau harus saling melukai.
 
Sebenarnya masih banyak lagi penyebab terjadinya tawuran selain berebutan tempat. Contoh saling ejek antara pelajar sekolah A dan sekolah B, dan adanya dendam antara satu pelajar sekolah A kepada pelajar sekolah B, yang menular kepada pelajar yang lain. Dari situlah timbul rasa untuk saling menguasai dan mencapai tujuan di antara para pelajar walau harus saling melukai.
 
Teori Kekerasan Kolektif adalah kekerasan yang dilakukan oleh sekumpulan orang secara bersama-sama. Tujuannya, untuk menunjukan kelompok pelajar mana yang lebih kuat dan patut ditakuti. Tindak kekerasan (tawuran) yang dilakukan bersama-sama ini seakan sudah menjadi warisan bagi pelajar. Banyak sekali kasus yang sudah terjadi akibat tawuran antarpelajar. Dan sampai saat ini pihak sekolah, pemerintah, dan LSM belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini.
 
Tawuran pelajar bukan hanya merugikan pelajar yang terlibat, tetapi merugikan orang lain juga khususnya siswa lain yang tidak ikut tawuran. Gangguan psikologi siswa yang merasa sudah tidak nyaman lagi belajar karena adanya sebuah ancaman dan kekerasan menjadi faktor utama. Selain itu akibat tawuran, banyak fasilitas umum yang rusak. Hal ini menandakan bahwa tawuran yang dilakukan oleh beberapa pelajar benar-benar tidak hanya merugikan pelajar yang bertawuran tapi juga merugikan orang banyak.
 
Saran saya, untuk mengatasi peristiwa tawuran berdarah antarpelajar ini adalah, sebaiknya pihak sekolah memberikan sanksi yang ketat bagi siswanya jika melanggar aturan. Kemudian sekolah harus menambah waktu belajar mereka, serta memberikan tugas setiap hari agar siswa setelah pulang dari sekolah langsung pulang ke rumah. Selain itu, pihak sekolah juga harus saling bekerjasama dengan sekolah-sekolah lain untuk menghilangkan tawuran ini. Misalkan membuat program studi banding antarsekolah, buka puasa bersama, kerjasama ekstrakurikuler, dan lain-lain.
 
Tidak hanya pihak sekolah, polisi dan pemerintah juga harus saling bekerjasama dengan sekolah sekolah untuk menghilangkan kebiasaan buruk pelajar ini. Pemerintah harus tegas mengatasi masalah tawuran ini tanpa pandang bulu. Siswa yang diketahui tawuran harus dipecat atau dikeluarkan dari sekolah dan mendekam di penjara beberapa hari atau bulan. Itu semua dilakukan agar siswa yang terlibat tawuran merasa menyesal dan tidak mengulanginya lagi. Pemerintah juga harus bertindak tegas kepada sekolah yang siswanya ketahuan tawuran. Sekolah yang terkait harus diberi sanksi seperti penurunan akreditasi sekolah. Tujuannya jelas, agar sekolah benar-benar serius mendidik siswanya agar tidak melakukan hal yang merugikan orang banyak dan sekolahnya sendiri.
 
Pandu Wibowo
Mahasiswa FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Ketua Himpunan Diskusi Mahasiswa    
(//rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Mahasiswa dan Suara Politik

Dalam urusan memilih pemimpin, apakah suara mahasiswa dalam pemilu juga penting dan ikut menentukan nasib bangsa di masa depan? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 29 Juni - 6 Juli 2014 dengan tema "Mahasiswa dan Suara Politik" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »