NEWS KAMPUS
95% Koruptor RI Lulusan Perguruan Tinggi
Jum'at, 31 Agustus 2012 17:04 wib
Salman Mardira - Okezone
Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. (Foto: dok. Okezone)
BANDA ACEH - Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyatakan, 95 persen koruptor di Indonesia adalah lulusan perguruan tinggi. Ini terjadi karena dunia pendidikan di Indonesia sekarang mengalami disorientasi.
"Sembilan puluh lima persen koruptor itu lulusan perguruan tinggi. Semakin tinggi pendidikannya, semakin canggih pula cara korupsinya," kata Mahfud dalam orasi ilmiahnya di acara Dies Natalies ke-51 Universitas Syiah Kuala, Aceh, di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Jumat (31/8/2012).
Menurut Mahfud, pendidikan kita selama ini hanya mampu melahirkan orang-orang pandai, tapi tidak terdidik. Pendidikan hanya fokus pada kepandaian otak, tapi tidak membangun watak dan hati manusia, sehingga banyak orang pandai tapi hatinya jahat yang ujung-ujungnya justru menjadi beban bagi negara. "Pandai otaknya tapi tidak bermoral," ujar Mahfud.
Dalam banyak fakta, sebut dia, perguruan tinggi hanya menjadi tempat mencetak sarjana, bukan melahirkan kaum intelektual atau orang terdidik yang memiliki sikap cendikiawan sebagaimana tujuan utamanya.
"Saat ini kita membutuhkan sarjana yang intelektual, sarjana yang cendikiawan. Sarjana intelektual itu selaras kepandaian otak dengan hati dan wataknya," tutur Mahfud.
Mahfud mengimbuh, sistem perekrutan pegawai di Indonesia yang sebatas formalitas pun telah mendorong kebanyakan orang hanya mengejar ijazah dan gelar, bukan menjadikan dirinya sebagai orang terdidik.
"Ijazah seakan sudah menjadi simbol derajat seseorang, simbol kedudukan seseorang. Seberapa pintar seseorang, rasanya tidak lengkap kalau tidak punya ijazah. Sekarang orang mengejar itu, bukan mengejar keterdidikannya," katanya.
Mahfud menilai, pendidikan Indonesia harus segera dikembalikan kepada khittahnya. Pendidikan harus mampu mencerdaskan bangsa untuk kemajuan negara ini di masa mendatang. Negara harus menunaikan hak dan kewajibannya sebagaimana diamanahkan Undang-Undang Dasar.
Memberi pendidikan kepada warga negara adalah kewajiban negara sesuai amanah konstitusi. "Negara harus membiayai pendidikan terhadap warga negara, itu kewajiban negara," katanya.
Mahfud juga menceritakan salah satu alasan pihaknya membatalkan UU Badan Hukum Pendidikan, karena UU tersebut hanya akan mengalihkan kewajiban negara kepada masyarakat sehingga berpotensi orang-orang miskin akan sulit memperoleh pendidikan tinggi khususnya di perguruan tinggi terkemuka.
Dia menegaskan, penyelenggaraan ilmu pendidikan di Indonesia jangan lagi terjebak pada rasionalisme, karena rasionalisme itu hanya mengakui hal-hal yang bisa dilakukan eksperimen semata. Selain itu pendidikan juga tak perlu memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama. "Ilmu dengan agama itu harus berjalan integral untuk membentuk intelektual," tukasnya. (rfa)
Berita Selengkapnya Klik di Sini
Disclaimer
vadlina » 0 Tanggapan
tau kenapa? Kesuksesan seharusnya sudah tidak lagi diukur melalui timbunan kekayaan yang melimpah. Persepsi serempak seluruh umat manusia dari berbagai kalangan tentang kesuksesan dengan makna yang baru sangat diperlukan. Kesuksesan adalah tercapaian kebahagiaan yang sejati yang dirasakan oleh hati. Tetapi manusia cenderung mengejar kebahagiaan yang hanya sementara. Hanya beberapa segelintir orang saja yang menyadari bahwa ternyata uang bukan segala-galanya. Kecerdasan fikir sangat perlu diimbangi dengan kesalehan yang sebenarnya yakni saleh individual dan sosial. Jika terdapat orang-orang yang secara prestasi memukau, secara akademik sangat mengagumkan tetapi tidak berjalan sebanding dengan akhlak (lahir dan batinnya) maka sudah sepantasnya hati-hati mereka direhabilitasi. Manusia yang melakukan segala sesuatunya secara berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, maka dia sedang sakit Jiwanya. Manusia yang tidak mampu membedakan mana yang baik dan buruk maka dia sedang sakit hatinya. Kalau agama menjadi boomerang karena banyaknya agama di Indonesia, alih alih malah justru dijadikan kambing hitam. mari kita kembalikan segala sesuatunya kepada hati nurani manusia, yang lebih bersifat universal untuk mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk tidak hanya benar dan salah. sekian.
Beri Tanggapan Laporkan
ben » 0 Tanggapan
kalau begitu ganti semua pejabat lulusan SD pak..
Beri Tanggapan Laporkan
ekmanok ceko » 0 Tanggapan
saya menggunakan solder tidak ada api hanya panas dan berasap
Beri Tanggapan Laporkan
jj » 0 Tanggapan
ga nyambung ni yang dibahas...mang ada gto pejabat yang lulusan SMA ya??? semuanya pasti lewat perguruan tinggi.. itu yang 5% paling cuma polisi tentara dan sejenisnya kale.....
Beri Tanggapan Laporkan
imuz » 0 Tanggapan
yang saya alami perguruan tinggi itu seperti bermuka dua, mreka akn baik kpdmu kalo kamu punya sesuatu mreka membantu bukan dr hati, nilai adalah segalanya wlwpun hasil dr kanan terlebih kalau dg uang. SEMUA PENUH DG SANDIWARA LOGIKA
Beri Tanggapan Laporkan