Untuk Maju, Universitas Myanmar Harus Ubah Kurikulum & Perilaku

Senin, 20 Agustus 2012 18:05 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

Untuk Maju, Universitas Myanmar Harus Ubah Kurikulum & Perilaku Ilustrasi : Corbis SEORANG Asisten Profesor di Tufts University School of Medicine, Amerika Serikat, Dr Myint Oo menyebutkan, prospek pekerjaan bagi lulusan universitas di Myanmar tidak bisa ditebak. Subjek yang mereka pelajari di universitas sering tidak sesuai pekerjaan yang mereka jalani.  
Lulusan fisika tidak menjadi ahli fisika tapi bekerja sebagai supir taksi. Lulusan matematika tidak akan menjadi ahli matematika, tetapi mungkin menjadi pengayuh becak. Lulusan sejarah dapat menjadi penjaga keamanan. Lulusan lainnya berakhir bekerja di non-profesional posisi seperti broker atau bahkan melakukan pekerjaan yang aneh.
 
Di negara-negara tetangga, lulusan pria Myanmar umumnya berakhir sebagai pekerja kasar, sementara lulusan wanita menjadi pengasuh anak atau pembantu rumah tangga. Para lulusan ini tidak memiliki keterampilan yang cocok untuk bekerja di bidang yang mereka tekuni ketika kuliah.
 
Menurut Myint, pemerintah Myanmar telah gagal untuk menciptakan lapangan kerja baru sehingga membiarkan puluhan ribu lulusan menunggu selama bertahun-tahun untuk mengisi posisi kosong di sektor publik. "Saat ini, lebih dari 6 ribu lulusan medis menganggur di negara dengan populasi 60 juta penduduk. Dana Moneter Internasional memperkirakan, tingkat pengangguran di Myanmar sebesar 5,5 persen sementara di Thailand sebesar 0,7 persen," ujar Myint, seperti dikutip dari University World News, Senin (20/8/2012).
 
Dia menyebutkan, kurikulum dan bahan pembelajaran di universitas-universitas Myanmar ketinggalan zaman dan tidak relevan. Para lulusan kekurangan keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi kebutuhan mendesak negara sehingga menghancurkan Myanmar selama beberapa generasi. Selama bertahun-tahun, sekira 25 persen dari anggaran Myanmar dialokasikan kepada angkatan bersenjata sementara hanya 1,3 persen dihabiskan untuk pendidikan.
 
Sikap umum mahasiswa, guru, dan orangtua adalah fokus untuk lulus ujian dan mendapatkan satu atau lebih titel. Mereka terdorong untuk budaya belajar hafalan dengan sedikit penekanan pada pemahaman informasi atau kemampuan untuk menerapkannya.
 
Perilaku interpersonal dan keterampilan komunikasi tidak diajarkan di universitas. Jika seorang mahasiswa dapat belajar kata demi kata jawaban dan mengulanginya dengan benar dalam ujian, maka dia akan diberikan nilai tertinggi atau dikreditkan dengan 'D' untuk pembedaan.
 
"Sistem ujian yang berfokus menghambat perkembangan siswa berpikir analitis dan keterampilan teknis. Hasil ujian yang baik dapat diperoleh dengan uang dan pengaruh. Korupsi, favoritisme, dan kecurangan yang umum. Negara terakreditasi pendidikan telah kehilangan kredibilitas," tukasnya.
 
Myint mengungkapkan, hampir tidak ada universitas Myanmar yang memiliki situs sendiri dan mahasiswa tidak memiliki akun email universitas. "Untuk mendapatkan kembali prestis masa lalu dan kemuliaan universitas, Myanmar perlu mengubah sikap terhadap pendidikan. Universitas Myanmar harus memperkenalkan kurikulum berbasis kecakapan dan afiliasi dengan universitas internasional," paparnya.
(mrg)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia

Tahun ini Republik Indonesia memasuki usia 69 tahun. Bagaimanakah anak muda memaknai dan mengisi kemerdekaan Tanah Air? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 15-22 Agustus 2014 dengan tema "Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »