Kuliah di Iran, Pria & Wanita Harus Terpisah

Sabtu, 11 Agustus 2012 09:12 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

Image: Corbis Image: Corbis IRAN - Saat ini, lebih dari 600 program studi (prodi) sarjana di 60 universitas di Iran dipisahkan berdasarkan gender. Ini merupakan upaya pemerintah untuk memisahkan antara pelajar pria dan wanita.

Hasil ini merupakan studi yang dilakukan oleh StudentNews yang dirilis secara online minggu lalu oleh kelompok aktivis HAM Iran. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh mahasiswa pada universitas dan sekolah yang akan mengajarkan pria dan wanita dalam kelas terpisah mulai tahun ajaran mendatang. Kebijakan ini tidak hanya meningkatan pemisahan jenis kelamin tetapi juga di diskriminasi gender.

Para pelajar mengatakan, dengan adanya kebijakan ini, kemungkinan wanita untuk masuk pada program kuliah pilihan mereka lebih kecil. Bahkan, kemungkinan mereka dapat disalurkan ke program lain atau ke universitas yang kurang bergengsi. Padahal jumlah perempuan mencapai 60 persen dari mereka yang lulus ujian masuk universitas tahun ini.

Studi ini berisi daftar semua universitas dan prodi yang sekarang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tetapi juga mencatat ada langkah yang jelas di beberapa perguruan tinggi untuk mengarahkan mahasiswa perempuan pada ilmu pengetahuan bergengsi dan program-program teknik. Bahkan, sejumlah lembaga pendidikan telah ditutup bagi perempuan untuk semua bidang studi yang berkaitan dengan industri minyak.

Beberapa universitas pun membatasi perempuan untuk mempelajari Teologi dan Sastra Arab saja, karena jumlah prodi humaniora telah dibatasi karena disebut 'pengaruh Barat'.

Meskipun angka StudentNews tidak dapat diverifikasi secara independen, kantor berita semi resmi Mehr melaporkan, pada 6 Agustus 2012, sekira 36 universitas di Iran menutup 77 bidang studi untuk wanita. "Perkembangan baru ini tidak diumumkan pada brosur universitas yang telah dibagikan sebelumnya," kata Mehr. Demikian, seperti dikutip dari University World News, Sabtu (11/8/2012).

Namun, studi mahasiswa menunjukkan, jumlah perguruan tinggi yang dipengaruhi oleh pemisahan ini lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 40 universitas. Padahal secara resmi diumumkan pada Agustus 2011, sebanyak 20 universitas dan 40 departemen akan mulai menerima mahasiswa laki-laki atau perempuan.

Menurut beberapa laporan berita, sejumlah politisi telah memprotes kebijakan "penghapusan perempuan di beberapa disiplin ilmu."

Mehr menyebutkan, Ardebil Mohaghegh University telah menutup pintu bagi perempuan dalam 24 bidang studi. Sementara pada Lorestan University, 18 bidang studi sekarang dilarang untuk perempuan. Tahun ini, Teheran University hanya menerima pelamar laki-laki untuk departemen teknik, sumber daya alam dan kehutanan, matematika, dan teknik pertambangan.

Di Lorestan, bidang studi sains bagi mahasiswa perempuan hanya prodi kimia dan biologi tanaman. Mata pelajaran seperti geomorfologi, ilmu iklim, dan akuntansi akan dibatasi hanya untuk pria di universitas tersebut.

Di University of Mazandaran di Babolsar, prodi pariwisata dikhususkan untuk laki-laki saja. Sementara di University of Bushehr di Teluk Persia, hanya jurusan ilmu perpustakaan dan informasi akan menerima wanita, sedangkan matematika dan tenik hanya untuk laki-laki.

"Dalam tren utama, perempuan diperbolehkan untuk memilih mata pelajaran seperti rekayasa perangkat lunak, teknologi informasi, perpustakaan, dan ilmu informasi," kata laporan StudentNews.

Beberapa universitas yang tidak memisahkan siswa yang diamati secara aktif melakukan diskriminasi terhadap perempuan untuk menjaga jumlah tersebut tetap rendah. Misalnya, di Razi University di Kermanshah. Untuk bidang ilmu kedokteran hewan, agronomi, teknik pertanian, kehutanan, dan sumber daya alam, hanya 34 perempuan yang diterima sedangkan jumlah laki-laki yang diterima sebanyak 100 orang.

Daerah lain di mana rasio pria dan wanita digambarkan 'tidak adil' yakni prodi teknik di Amirkabir University of Technology di Teheran. Di tempat lain, untuk bidang humaniora, pria dan wanita yang diajarkan di kelas terpisah, atau seperti dalam kasus dari University of Zabol, pria dan wanita mempelajari sastra Arab atau Persia, serta geografi dan perencanaan perkotaan atau pedesaan, mengambil kelas di semester alternatif di institusi yang sama. (rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014
  • 02
    Mei
    Jum'at, 02 Mei 2014
    ITS Expo 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป