Begini Cara Asary Atasi Limbah Sawit

Jum'at, 25 Mei 2012 09:02 wib | Rifa Nadia Nurfuadah - Okezone

M Asary dari UB menawarkan solusi mengatasi limbah kelapa sawit. (Foto: dok. UB) M Asary dari UB menawarkan solusi mengatasi limbah kelapa sawit. (Foto: dok. UB) JAKARTA - Banyak ide konservasi alam lahir dari pemikiran mahasiswa, termasuk solusi mengatasi limbah kelapa sawit yang ditawarkan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang, ini.

Muhammad Asary adalah mahasiswa asli Kalimantan Tengah. Di tanah kelahirannya ini, dia menjumpai banyak industri pengolahan kelapa sawit belum menangani limbah yang mereka hasilkan dengan baik. Limbah tersebut kebanyakan hanya dibuang begitu saja. Padahal, limbah pengolahan kelapa sawit akan mencemari ekosistem air.  

Hati mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya (Faperik UB) ini pun tergerak untuk mencari solusi pencemaran tersebut. Sebab, selain mencemari air dan mengancam kesehatan masyarakat, limbah tersebut juga akan menambah kandungan timbal (Pb) di dalam tanah.

"Tanah di Kalimantan Tengah mayoritas bergambut yang sangat sedikit sekali mengandung unsur hara. Jika limbah kelapa sawit yang mengandung timbal mencemari tanah gambut, maka akan menjadi semakin tidak subur untuk ditanami," kata Asary seperti dikutip dari laman UB, Prasetya Online, Jumat (25/5/2012).

Menurut Asary, pencemaran ekosistem akibat limbah sawit dapat dikurangi dengan mengolah limbah menjadi lebih berdaya guna. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan limbah agar menjadi unsur hara bagi tanaman. Asary menjelaskan, lahan gambut hanya memiliki sedikit unsur hara. Untuk menambahnya, kita bisa memanfaatkan limbah tandan kosong dari kelapa sawit yang sudah diproses. Dengan begitu, kita akan mendapatkan tambahan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

"Proses pengolahan, penghalusan, dan pendiaman limbah kelapa sawit kita akan mendapat kandungan unsur hara sekira 25 persen. Kandungan limbah tandan kosong yang bisa menyuburkan tanah tersebut mengandung Magnesium (Mg), Calcium (Ca), dan Fosfor (P)," ujar Asary mengimbuhkan.

Selain itu, langkah birokratis juga bisa ditempuh dalam upaya mengurangi pencemaran akibat limbah kelapa sawit. Pemerintah, kata Asary, harus lebih selektif terhadap perusahaan-perusahaan yang berhubungan langsung dengan pengolahan kelapa sawit. Menurut mahasiswa semester enam tersebut, pemerintah harus jeli memilih mana perusahaan yang tidak merusak lingkungan dan yang lebih bertanggungjawab.

Solusi yang ditawarkan pegiat di Komunitas Indonesia Youth Water (IYW), Malang, tersebut dituangkan dalam sebuah esai dan dikompetisikan dalam Indonesia Youth Conference (IYC) pada 3-6 Juli mendatang di Jakarta. Jika ingin melaju ke tingkat nasional, Asary harus mampu menyisihkan 500 kontestan dari perguruan tinggi di Jawa Timur. (rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 26
    April
    Sabtu, 26 April 2014
    Korean Culture Day 2014 di UI
  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014
  • 02
    Mei
    Jum'at, 02 Mei 2014
    ITS Expo 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป