Maunya Lady Gaga(l) ke Indonesia? Kenapa?

Kamis, 24 Mei 2012 12:37 wib | -

Maunya Lady Gaga(l) ke Indonesia? Kenapa? Syayyidah Maftuhatul Jannah (Foto: dok. pribadi) INDONESIA merupakan negara yang penuh akan keanekaragaman. Bahasa, suku, adat, makanan khas, tarian hingga budayanya. Tak terhitung setiap daerahnya memiliki kekhasan tersendiri sehingga Indonesia menjadi negeri yang kaya, tidak hanya kaya secara sumber daya alamnya namun juga hiasan dan pernak-pernik kebudayaannya.  
Terkait dengan kultur Indonesia yang berwarna, masyarakat Indonesia juga diberi wahana untuk lebih mengeksplorasi diri dan pikirannya dalam berkreasi. Tak ada kungkungan bagi mereka untuk mengeluarkan uneg-uneg tentang segala hal pada era saat ini. Namun tetap tak terlepas dari norma dan etika yang memang sudah dimiliki Indonesia dan dipegang teguh sejak zaman dulu. Seperti yang tertuang dalam Pancasila dan semboyan Indonesia Bhinneka Tunggal Ika.
 
Kebebasan berpendapat di Indonesia diaktualisasikan melalui sistem demokrasi negeri ini. Mengacu pada masa yang sudah berjalan di era globalisasi ini, demokrasi dibutuhkan untuk mewadahi masyarakat agar bisa open minded. Tapi diingat kembali bahwa bagaimanapun juga segala sesuatu tetap tidak boleh bertentangan dengan ideologi Pancasila.
 
Berbicara mengenai demokrasi, saat ini marak sekali pembicaraan mengenai Lady Gaga. Penyanyi asal Amerika Serikat yang penuh kontroversi ini akan menggelar konser di Indonesia 3 Juni mendatang. Pro dan kontra terus bergulir hingga kini. Perdebatan sengit dari berbagai kalangan terus muncul dalam mempertahankan asumsi mereka anggap benar. Hal ini melibatkan berbagai ormas, aparat kepolisian, pejabat hingga adu pendapat dari hampir semua masyarakat yang turut berkomentar. Termasuk saya.
 
Semua orang mempunyai hak untuk berpendapat, menyatakan argumennya, mengeluarkan apa yang menjadi pandangannya. Ini yang menjadi salah satu titik perhatian di mana kita berada. Ya, demokrasi ada di negeri ini, Indonesia. Tapi lupakah Anda, saya yakin tidak, bahwa dulu saat SD atau SMP ada pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) yang salah satunya mengajarkan “toleransi”; sikap saling mengahargai dan menghormati antarsesama. Dan ini berlaku tidak hanya pada satu atau dua hal, tapi banyak hal seperti kasus ini, perbedaan pendapat.
 
Beberapa kontra dengan kedatangan Lady Gaga ke Indonesia, karena Gaga dianggap pemuja setan, selalu membuat kontroversi dengan gaya berbusanya yang dinilai tak lazim, sebagian lagunya dianggap lagu yang syarat akan hal mistis, cara bernyanyi yang seronok, dan sebagainya. Kalangan yang menyatakan pro menganggap bahwa masyarakat Indonesia yang melihat Lady Gaga nanti juga bukan orang yang berotak layaknya anak kecil, mereka sudah dewasa. Jadi menurut mereka tak perlu ada kekhawatiran berlebih karena ini dianggap hanya sebuah hiburan, terutama bagi fans Gaga, ini hanya bentuk apresiasi mereka terhadap karya-karya Gaga.
 
Semua pendapat dan pandangan orang-orang tersebut perlu dihargai. Bentuk menghargai tidak selalu dalam bentuk menyetujui dan mendukung 100 persen apa yang dilontarkan oleh banyak orang. Tapi bagaimana dengan beragamnya pendapat, tentu dengan segala perbedaannya, masyarakat Indonesia tidak memaksakan kehendak atas pendapatnya agar diterima dan diiyakan oleh orang lain yang belum tentu sepaham dengannya. Yang kontra memaksakan orang lain untuk ikut kontra dan juga sebaliknya.
 
Dari kaca mata ini, saya juga memiliki pandangan. Lady Gaga dengan segala sesuatu yang ada padanya juga manusia biasa yang mempunyai hak untuk berekspresi. Terlepas dari daerah asalnya yang memberi kebebasan sebebas-bebasnya, semua yang dilakukannya selama ini sudah menjadi sesuatu yang dia yakini hal baik. Tak ada asap kalau tidak ada api, begitu juga dengan Gaga. Dia begitu santai dan terkesan siap menerima saran dan kritik dari orang yang melihatnya. Artinya Gaga tahu apa dampak dari semua yang dilakukan dan siap menerimanya.
 
Berbagai tudingan yang diarahkan padanya dapat direspons bebas oleh masyarakat, boleh percaya ataupun tidak. Layaknya tudingan bahwa Gaga pemuja setan, biarlah itu menjadi urusannya dengan Tuhannya. Sama halnya dengan konser Gaga Juni mendatang. Anggap ini hanya sebatas hiburan bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi fans Gaga yang pasti sudah menantikan aksi idolanya tersebut. Masyarakat Indonesia juga mempunyai hak untuk mendapat hiburan. Namun tetap hiburan yang memang layak ditonton dan sesuai dengan nilai-nilai Indonesia.
 
Kalaupun yang ditakutkan oleh sebagian kalangan akan pengaruh buruk yang dibawa Gaga ke Indonesia, misalnya saja cara berbusana yang sering tidak etis dan mengundang nafsu, alangkah bijaknya jika hal ini diatasi dengan memberi ketentuan dan prasyarat bagi Gaga untuk lebih sopan dalam berbusana. Kemudian goyangan, tarian, dan lagu-lagu yang dianggap tidak layak dinyanyikan di Indonesia bisa diantisipasi melalui kebijakan pihak berwenang. Berikan saja Gaga aturan yang ada yang sesuai dengan adat dan budaya Indonesia. Buat kesepakatan bersama, apa saja yang harus dipatuhi Gaga selama di Indonesia. Gaga memang harus tahu bahwa dia akan berada di wilayah yang bukan asalnya, namun wilayah lain yang punya aturan tersendiri. Dan Gaga juga harus pandai menempatkan diri, di mana dia berada dan seperti apa orang-orang yang akan ditemuinya nanti.
 
Terlepas dari itu semua, komunikasi yang baik dan lancar sebenarnya akan mengurangi perdebatan yang sampai sekarang masih terjadi ini. Dengan sikap toleransi yang nyata terhadap semua pihak yang terkait, semua ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik. Pada dasarnya, Gaga hanya ingin menghibur. Indonesia bisa dan punya hak untuk memberi aturan yang harus dipatuhi Gaga, sesuai dengan nilai kita miliki. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan dan ditakutkan oleh pihak-pihak tertentu. Dan nantinya, seandainya konser Gaga Juni mendatang diizinkan, fungsi kontrol dan pengawasan menjadi penting dan harus dijalankan. Oleh karena itu, yang perlu diingat, sikap dinamis dan terbuka terhadap globalisasi memang perlu, tetapi Indonesia akan melewatinya dengan tetap menjadi negara berprinsip dan memegang teguh norma yang ada. Karena ini negera bersama, negara kita, negara Indonesia.
 
 
Syayyidah Maftuhatul Jannah
Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

(//rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia

Tahun ini Republik Indonesia memasuki usia 69 tahun. Bagaimanakah anak muda memaknai dan mengisi kemerdekaan Tanah Air? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 15-22 Agustus 2014 dengan tema "Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »