Menjaga Budaya Bangsa

Rabu, 23 Mei 2012 12:46 wib | -

Mukhamad Zulfa (Foto: dok. pribadi) Mukhamad Zulfa (Foto: dok. pribadi) BUDAYA merupakan tolok ukur peradaban sebuah bangsa. Penghormatan terhadap budaya lain merupakan bagian kebesaran sebuah bangsa. Nilai-nilai keluhuran yang dimiliki bangsa inilah yang perlu dijunjung tinggi.
 
Menilik sejarah panjang bangsa, kita bermula dengan nusantara. Nusantara merupakan bentukan dari berbagai kebudayaan yang ada, bukan berarti menyerap semua unsur budaya yang masuk. Pada zaman animisme dan dinamisme misalnya, datang agama Hindu dan Budha beserta perangkat kebudayaan yang melatarbelakangi keduanya. Proses asimilasi berlangsung selama sekian tahun. Banyak hasil kebudayaan yang dihasilkan. Candi Borobudur, Prambanan, dan lain sebagainya. Dilanjutkan datangnya Islam yang dibawa oleh warga muslim. Mereka tidak serta merta menghapuskan budaya yang ada. Wayang sebagai salah satu ikon bangsa tidak dibumihanguskan. Bahkan oleh penyebar agama Islam (Sunan Kalijaga) dijadikan media untuk berdakwah. Ini menunjukkan penjagaan akan budaya lokal, kebaikan terhadap sesama, dan interaksi sosial yang mengedepankan kekeluargaan.
 
Pada dasarnya, Indonesia memiliki banyak keragaman. Ditambah dengan banyaknya budaya yang berkembang di tiap daerah, suku-suku yang ada juga memperkaya kehidupan bangsa. Sebagai generasi penerus bangsa, kita mempunyai kewajiban untuk melestarikan kebudayaan yang telah diwariskan oleh leluhur. Gotong royong, saling membantu, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
 
Tentu perlu dilakukan inovasi, kreativitas dan ada nilai-nilai yang transformatif demi kebaikan khalayak. Mahasiswa sebagai mercusuar bangsa harus memulainya dan berpartisipasi aktif untuk menjadi teladan masyarakat.  Misalnya, bulan lalu kaum muda Indonesia di Solo mengadakan kegiatan Menari 24 Jam. Hal ini, tidak hanya memberikan kontribusi yang baik untuk masyarakat Indonesia, mata dunia juga tertuju pada kita.
 
Mentalitas dan moralitas
 
Kemajuan suatu bangsa tidak bisa terlepas dari moralitas dan mentalitas yang dimiliki bangsa tersebut. Karakter yang kuat untuk memegang teguh nilai-nilai nasionalisme, cinta akan Tanah Air, menjunjung tinggi konstitusi yang berlaku dan lain sebagainya. Hal inilah yang harus selalu kita dengungkan pada masyarkat kita sendiri.
 
Masyarakat yang mempunyai mental “tempe” (lemah) akan mudah terombang-ambing oleh budaya, sosial, ideologi, dan politik yang tergolong baru. Masyarakat yang hanya mengikuti arus inilah yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Upaya perbaikan bangsa, dengan menguatkan moralitas dan mentalitas perlu dilakukan, untuk membentuk jatidiri bangsa yang luhur dan bermartabat tinggi.
 
Demokrasi adalah proses
 
Sifat majemuk bangsa menjadi hal yang dikedepankan dalam menyangga keutuhan Indonesia. Persatuan antara elemen bangsa tidak membedakan suku, agama, ras, ideologi, golongan, kelompok dan strata sosial masyarakat. Penjagaan terhadap rekatan sosial di antaranya  dilakukan dengan proses penyadaran satu sama lain. Dialog dan musyawarah pun menjadi wadah untuk memperjelas bagaimana sebenarnya yang dinginkan oleh individu atau kelompok.
 
Pemerintah sebagai penyelenggara negara harus mempunyai sikap yang adil, tegas, dan bijaksana. Kepanjangan tangan dari pemerintah adalah salah satunya Kepolisian RI. Semboyan melindungi, mengayomi dan melayani, harus ditegakkan dengan baik. Inilah salah satu harapan yang diinginkan oleh bangsa Indonesia. Tidak hanya membiarkan warganya terjadi benturan akibat perbedaan (pro dan kontra) hanya untuk membahas Lady Gaga. Lebih baik diarahkan untuk membahas kemiskinan, pemberantasan korupsi, proses kemajuan bangsa, pencerdasan kehidupan bangsa dan lain sebagainya yang membawa perubahan Indonesia lebih dewasa.
 
Dalam konsep Islam, untuk menanggulangi sebuah kemungkaran tidak diperbolehkan terjadinya kemungkaran yang lebih lanjut. Tentu hal ini menuntut langkah-langkah yang harus ditegakkan. Misalnya melalui pencegahan dengan kekuasaan (power), tulisan atau pernyataan, dan pembiaraan (diam) dengan syarat tidak mengakui adanya kemungkaran tersebut. Proses pencegahan ini secara tidak langsung termasuk sebagai proses transformasi kebudayaan.
 
Menyitir Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) Said Aqil Siradj, “Sejuta Lady Gaga datang ke Indonesia, iman warga NU insya Allah tak akan goyah. Iblis, setan, dari dulu sudah ada. Mengapa kepada Lady Gaga saja takut. Yang penting adalah iman. Contoh: dari dulu yang namanya ibu-ibu kalau ikut pengajian selalu memakai jilbab, siapa yang memerintah? Iman. Mereka menjalankan shalat, berpuasa, ngaji, shalat tahajud malam, berbagi sedekah, tidak ada yang memerintah, kecuali iman mereka. Iman itu inspirasi, bukan aspirasi, seperti diaspirasikan Front Pembela Islam itu. "Kalau umat Islam Indonesia semuanya adalah warga NU, insya Allah, iman, aman,".
 
Pramono Anung selaku ketua DPR RI menyatakan, “Hal ini merupakan dari proses demokrasi. Jadi, kita serahkan kepada masyarkat yang hendak menonton konser tersebut. Atau bila ada fatwa haram dari Majelis Ulama Indonesia tidak mau menonton, ya silahkan saja”. Ia juga menghimbau agar negara tidak membatasi dan melarang konser Lady Gaga. "Karena itu diperbolehkan negara kok," tegasnya.
 
Hal yang perlu menjadi garis bawah adalah perbedaan dijadikan sebagai proses katalis bangsa untuk membuat harmonisasi bangsa. Bukan menjadi ajang perpecahan bangsa. Bahwa sistem negara kita, demokrasi bukanlah barang final yang jadi, masih dalam proses menjadi. (wallahu a’lam)’
 
Mukhamad Zulfa
Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang
Aktif di Ideastudies 
(//rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 24
    April
    Kamis, 24 April 2014
    Serunya Ikut PNJ Fair 2014
  • 26
    April
    Sabtu, 26 April 2014
    Korean Culture Day 2014 di UI
  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014

SPEAK UP

Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini

Dulu, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan agar bisa setara dengan laki-laki; dalam pendidikan dan banyak hal. Setelah kesetaraan gender tersebut tercapai, bagaimana kita bisa mengisi refleksi perjuangan Kartini?  Kirimkan opinimu melalui rubrik Suara Mahasiswa Periode 21-27 April 2014 dengan tema "Refleksi Perjuangan Kartini di Masa Kini" melalui email ke alamat kampus@okezone.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป