Undip Nostalgia Tentang Pak Harto

Kamis, 10 Mei 2012 12:03 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

Undip Nostalgia Tentang Pak Harto Foto : Buku Pak Harto "The Untold Stories"(gramediapustakautama.com) JAKARTA - Menguak sisi lain tokoh terkemuka tentu adalah hal menarik yang ingin diketahui banyak orang. Terutama tokoh besar yang memberikan banyak kontribusi bagi kemajuan Indonesia di eranya, yaitu H M Soeharto.

Untuk itu Lembaga Pers Mahasiswa Manunggal Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, bekerjasama dengan Yayasan Harapan Kita menggelar bedah buku bertajuk Pak Harto “The Untold Stories.” Pembahasan buku karya Mahpudi, Dwitri Waluyo, Donna Sita, dan Anita Dewi ini dihadiri 300 peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, guru, dan masyarakat umum.

Sejumlah elemen masyarakat dari berbagai aspek kehidupan mencoba memberi pandangan mengenai buku yang ditulis berdasarkan pengalaman 113 narasumber. Mulai dari keluarga, ajudan, rekan kerja, deretan menteri, hingga pemimpin negara lain berbagi kisah mengenai sisi lain presiden Indonesia kedua itu.

Dwitri Waluyo yang merupakan salah satu penulis buku yang juga redaktur pelaksana majalah Gatra didapuk sebagai moderator acara ini. Salah seorang pengamat politik, yakni Sukardi Rinakit yang hadir sebagai salah satu pembicara menyebutkan, gaya kepemimpinan Pak Harto yang banyak disebut otoriter oleh banyak pihak. "Namun, banyak pula pihak yang menyanjung setiap kebijakannya. Cara berpikirnya simpel, dan Pak Harto itu termasuk pribadi yang tekun dan jahil,” kata Sukardi seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Kamis (10/5/2012).

Salah satu kejahilan Pak Harto, lanjutnya, muncul ketika Ibu Tien memasak ikan cetol. Ketika sang ajudan memakan ikan tersebut, dengan iseng Pak Harto mencarinya. Dengan segera ajudan menghadap dan mengatakan ikan cetol itu sudah dimakan habis. Bahkan ketika ditanya rasanya, sang ajudan menjawab rasanya enak. "Kemudian Ibu Tien menyahut, Enak tho, orang ikan untuk presiden,” ujarnya mengenang.

Ternyata, di balik kewibawaannya, Pak Harto adalah seseorang yang sederhana. Singkong rebus dan mi instan menjadi salah satu makanan favorit presiden yang menjabat selama 31 tahun tersebut. Bahkan, melalui penulis pidato Pak Harto, Soenarto Soedarmo, tergambar sisi humanis dari ayah enam orang anak tersebut. Soenarto yang telah menulis pidato bagi Pak Harto selama 10 tahun ini menyebutkan, kebiasaan unik pria yang wafat empat tahun silam itu adalah selalu menambah dua paragraf untuk setiap pidato yang diserahkan.

“Dua paragraf tambahan itu berisi permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia dan pesan-pesan penting yang sangat perlu kita cermati. Sementara guyonan yang selalu diberikan Pak Harto pada para ajudannya adalah Pak Harto tidak ada salahnya, kenapa harus minta maaf?” ujarnya.

Sementara itu, dosen Komunikasi Undip Adi Nugroho memaparkan model komunikasi yang digunakan Pak Harto ketika menjabat sebagai presiden. Menurut Adi, Pak Harto memiliki gaya menarik dalam menjalin relasi dan menarik simpati orang yang mengenalnya. Adi mengungkapkan, keseharian dan perwatakannya sebagai mantan presiden yang bertanggungjawab dan sederhana sangat patut dicontoh. “Buku ini tidak bernuansa politik, tapi lebih ke kisah-kisah Pak Harto,” ungkapnya.

Hal senada juga dikemukakan Ernita Manik, ketua panitia bedah buku. Dia menyatakan, sosok Pak Harto perlu menjadi teladan. “Pak Harto memiliki banyak sisi positif yang belum banyak masyarakat tahu. Dalam acara ini akan lebih dikenalkan, seperti apa Pak Harto sebenarnya,” kata Ernita.

Buku setebal 609 halaman ini mengungkapkan banyak fakta kecil nan menarik yang belum banyak diketahui masyarakat. Bukan cerita di balik kebijakan Orde Baru yang dijabarkan, namun kenangan atas sosok Pak Harto. Bagi anak buahnya, Pak Harto digambarkan sebagai sosok yang kebapakan, sederhana, dan selalu memperhatikan kebutuhan anak buahnya. Selain itu, Pak Harto juga pribadi yang tidak banyak bicara, namun ketika biara selalu sarat dengan wejangan yang dalam.

Salah satu peserta bedah buku, Putri Galuh mengaku memperoleh wawasan dan mengubah persepsinya selama ini. Menurut pelajar SMAN 1 Demak ini, Pak Harto adalah sosok yang merakyat dan sangat menginspirasi. “Ternyata Pak Harto berhutang ke luar negeri itu untuk masyarakat Indonesia, yang sebelumnya saya pikir untuk keperluan pribadi,” tutur Putri.(mrg) (rhs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Mahasiswa dan Suara Politik

Dalam urusan memilih pemimpin, apakah suara mahasiswa dalam pemilu juga penting dan ikut menentukan nasib bangsa di masa depan? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 29 Juni - 6 Juli 2014 dengan tema "Mahasiswa dan Suara Politik" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »