Anarkisme Mengancam kampus

Kamis, 15 Maret 2012 14:54 wib | -

Anarkisme Mengancam kampus Foto: dok. pribadi BENTROKAN antarmahasiswa adalah isu lama yang tak pernah selesai sampai sekarang. Mahasiswa yang selama ini diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai moral dalam masyarakat, justru merusaknya dengan tindakan-tindakan anarkis. Sungguh ironis. Mahasiswa yang mendapat predikat kaum intelektual ternyata tak mencerminkan etika intelektualnya dalam tindakan nyata.

Mahasiswa sebagai aktor intelektual, seharusnya mencerminkan sikap seorang akademisi dalam bertindak di tengah-tengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan harus dijadikan pijakan dalam menyikapi segala persoalan. Karena, jika mahasiswa tidak mencerminkan sikap akademisi dan intelektual, maka sesungguhnya itu telah menciderai dirinya sendiri sebagai mahasiswa dan perguruan tinggi sebagai wadah pencetak mahasiswa.

Dunia perguruan tinggi benar-benar terancam. Eksistensinya mulai dipertanyakan ulang oleh masyarakat luas. Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi kawah candradimuka bagi mahasiswa, agar menjadi pemimpin masa depan yang tangguh, telah berubah menjadi pabrik penghasil kaum anarkis. Kepercayaan masyarakat akan peran perguruan tinggi pun semakin memudar.

Perguruan tinggi seharusnya mampu melahirkan generasi yang unggul dan berkualitas. Selain itu, juga harus melaksanakan fungsi dan tanggungjawabnya sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Yaitu melakukan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian pada masyarakat.

Pemicu Anarkisme


Budaya anarkis sesungguhnya telah merasuk ke seluruh sendi kehidupan mahasiswa. Tindakan ini seolah tidak bisa dibendung lagi. Hampir setiap terjadi permasalahan atau perselisihan antarmahasiswa, penyelesaian dengan pendekatan fisik lebih dominan daripada proses negosiasi yang berkualitas. Akibatnya, pertikaian, perkelahian, dan bentrokan menjadi hal yang wajar di antara mereka.

Pada dasarnya, tindakan anarkis itu muncul karena ketidakpuasan individu atau kelompok terhadap hal tertentu. Dalam konteks kemahasiswaan, ketidakpuasan ini kemudian terakumulasi dan terorganisasi dalam sebuah kelompok. Umumnya, setiap kelompok fanatik terhadap kelompoknya sendiri dan cenderung menganggap kelompok lain lebih rendah. Inilah yang kemudian menyebabkan tindakan anarkis semakin tumbuh subur.

Sebenarnya, benih-benih anarkisme ini sudah terlihat sejak  awal. Yaitu sejak mahasiswa menjalani Masa Orientasi Mahasiswa baru. Pada masa inilah, mahasiswa menjalani prosesi penggemblengan mental oleh senior-senior mereka sesuai dengan fakultas masing-masing.

Bukan bermaksud menyalahkan, akan tetapi pengelompokan berdasarkan fakultas ini, ternyata semakin mempertegas jurang pemisah antara mahasiswa satu dengan yang lain. Karena setiap fakultas dipastikan memiliki maskot dan yel-yel yang berbeda, dan cenderung mengejek serta merendahkan fakultas lain. Begitu pula sebaliknya.

Penanaman benih anarkisme dan sikap saling ejek ini dilakukan secara terstuktur dan turun-temurun oleh senior-senior mereka. Maka tidak heran jika antara mahasiswa fakultas satu dengan mahasiswa fakultas yang lain sering berselisih dan timbul pertentangan. Itu semua karena sejak awal menginjakkan kaki di perguruan tinggi, nilai-nilai yang ditanamkan pada mereka adalah sikap saling ejek. Bukan sikap saling terbuka dan menghargai kelompok lain.

Tidak Pantas


Pada umumnya, tindakan anarkis, apa pun bentuknya, siapa pun pelakunya dan apa pun motifnya, adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Anarkis adalah tindakan perusak dan itu tentu tidak patut dilakukan oleh siapa pun. Apalagi oleh mahasiswa, generasi yang diharapkan menjadi calon pemimpin masa depan dan sekaligus penerus estafet kepemimpinan bangsa. Sungguh tidak pantas.

Akan tetapi, kenyataan di lapangan sangat berbeda. Hampir setiap aksi yang dilakukan oleh mahasiswa selalu diwarnai tindakan anarkisme. Akibatnya, masyarakat menjadi bosan dan cenderung apatis dengan aksi mahasiswa. Padahal, sesungguhnya aksi yang dilakukan itu adalah untuk kepentingan masyarakat (rakyat).

Stigma negatif masyarakat terhadap mahasiswa tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Masyarakat telah jenuh karena terlalu sering melihat mahasiswa bentrok, mahasiswa berkelahi, membakar gedung, saling serang dan tindakan-tindakan lain yang tidak sepatutnya dilakukan.

Arti Mahasiswa


Kondisi ini  tentunya harus segera dihentikan. Mahasiswa harus mulai disadarkan kembali tentang hakikat, fungsi dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa, kaum intelektual.

Jika merujuk dari akar katanya, sungguh tidak pantas jika mahasiswa lebih mengutamaan kekuatan otot dari pada pendekatan akal. Kata mahasiswa adalah gabungan dari dua kata "maha" yang berarti besar dan "siswa" yang berarti pelajar. Pemaknaan seperti ini mengindikasikan bahwa mahasiswa menempati posisi tertinggi di antara pelajar-pelajar lain. Oleh karena itu, dalam menyikapi segala permasalahan, dia harus bisa mencerminkan sikap kebesaran jiwa dan kematangan berfikir. Bukan justru bersikap seperti anak-anak yang suka berkelahi, bertikai, sampai saling pukul. Jika itu yang terjadi, bukan mahasiswa namanya. Melainkan preman yang berbaju mahasiswa.

Selain derajatnya yang paling tinggi dibanding dengan pelajar, dia juga sekaligus menjadi tulang punggung bangsa. Di pundak merekalah cita-cita bangsa dan negara digantungkan. Keberadaanya saat ini adalah untuk menjadi penerus dan pemimpin di masa depan.

Mahasiswa juga harus sadar peran dan tanggung jawabnya. Yaitu sebagai agent of social change. Menjadi agen perubahan adalah harga mati bagi mahasiswa karena merekalah yang memiliki berbagai kemampuan. Bekal ilmu yang mereka dapatkan di perkuliahan harus bisa termanifestasi dalam tindakan nyata. Hingga akhirnya tujuan untuk mengubah tatanan masyarakat menjadi baik akan terwujud dengan sendirinya.

Jika generasi bangsa yang diharapkan menjadi pemimpin masa depan tidak sadar diri serta tidak sadar tugas dan fungsinya, lantas bagaimana dengan kondisi bangsa dan negara di masa mendatang? Akankah segala permasalahan bangsa diselesaikan dengan adu jotos? Saling pukul? Wallahu ‘alam bi al-Shawab.

Misbahul Ulum
Instruktur HMI Cabang Semarang
Senat Mahasiswa Fakultas Dakwah
IAIN Walisongo Semarang (//rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Mahasiswa dan Suara Politik

Dalam urusan memilih pemimpin, apakah suara mahasiswa dalam pemilu juga penting dan ikut menentukan nasib bangsa di masa depan? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 29 Juni - 6 Juli 2014 dengan tema "Mahasiswa dan Suara Politik" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »