Pusat Studi Pancasila UGM Gelar Kongres Budi Pekerti

Rabu, 14 Maret 2012 10:14 wib | -

Image: corbis.com Image: corbis.com YOGYAKARTA – Konsep pendidikan di Indonesia dinilai tidak selaras dengan sistem pengajaran ketimuran. Pengajarannya hanya menitikberatkan pada ilmu pengetahuan atau intelektual individu dan mengabaikan masalah budi pekerti.

"Sistem pengajaran ini merupakan konsep pengajaran Barat. Sedangkan pengajaran ketimuran, selain intelektual, juga tetap memperhatikan pada budi pekerti," kata Ketua Tim Ahli Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM Sutaryo kemarin.

Saat ini antara pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan dilakukan secara terpisah. Padahal tujuan pendidikan dan pengajaran seharusnya untuk kebudayaan, yakni memanusiakan manusia berdasarkan kebangsaan. Bila filosofinya dipisah maka undang-undangnya pun jadi terpisah dan pelaksanaannya akhirnya ikut terpisah. "Harusnya ketiganya tidak boleh dipisah," tandasnya.

Sutaryo menjelaskan, pelaksanaan pendidikan bukan hanya memajukan intelektual, tetapi juga menumbuhkan budi pekerti. Dengan begitu, melalui pendidikan akan tumbuh anak didik yang mempunyai pikiran dan berjiwa jati diri bangsa. Bukan hanya mengangkat derajat bangsa dan negara, tapi juga memuliakan segenap manusia.

"Bidang pengajaran dilaksanakan untuk memberi ilmu pengetahuan serta kepandaian guna memajukan kecerdasan pikiran serta berkembangnya budi pekerti. Ini yang membedakan konsep pendidikan ketimuran dengan Barat," paparnya.

Untuk mengembalikan konsep tersebut harus segera dicari solusi, bukan hanya kebijakan dan strategi pendidikan nasional, tapi juga konsep dasar pendidikan dan aplikasinya serta pendidikan dalam pembangunan peradaban dan kebudayaan. Semuanya itu dapat mengintegralkan pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan.

"Konsep ini penting lantaran antara pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan," papar dosen Fakultas Kedokteran UGM tersebut.

Atas dasar itu, PSP UGM berencana menyelenggarakan kongres Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Kongres ini akan dilangsungkan selama dua hari, yaitu 7–8 Mei mendatang di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM.

"Kami berharap melalui kongres ini, konsep pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan nasional dapat disatukan kembali," kata Sutaryo dalam kongres nanti selaku ketua tim pengarah.

Ketua Panitia Pelaksana Kunjana Rahardi mengatakan kongres tersebut akan mengusung tema "Pembangunan Karakter Bangsa melalui Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dalam menghadapi Globalisasi".

Kegiatan itu mengundang peserta dari perwakilan perguruan tinggi negeri (PTN), perguruan tinggi swasta (PTS), guru, dosen, peneliti, mahasiswa, birokrat, legislator, politisi, dan tokoh-tokoh masyarakat. "Hasil dari kongres ini kami rekomendasi kepada pengambil kebijakan. Agar pendidikan nasional kita kembali ke khitahnya," kata dosen Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta ini.

Selain Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh yang akan menjadi pembicara kunci, beberapa tokoh dari kalangan akademik, budaya, dan masyarakat juga diagendakan diundang menjadi pembicara. Di antaranya KH Mustofa Bisri, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, dan Wakil Menteri Pendidikan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti. (priyo setyawan/koran si) (//rfa)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

  • 27
    April
    Minggu, 27 April 2014
    Menggila di Hammersonic 2014
  • 02
    Mei
    Jum'at, 02 Mei 2014
    ITS Expo 2014

SPEAK UP

UN Perlu Pakai Ritual Nggak Sih?

Ujian nasional (UN) sudah di depan mata. Duh, harus rajin belajar nih. Sebelum menghadapi UN, perlu ritual khusus nggak sih buat kalian? Kirimkan pendapat kalian ke rubrik Suara Mahasiswa periode 8-16 Maret 2014 dengan tema "UN Perlu Pakai Ritual Nggak Sih?" ke alamat email kampus@okezone.com. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling kece pastinya.. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA ยป