Image: corbis.com
DEPOK - Sebagai negara berkembang, sejatinya Indonesia mampu meningkatkan jumlah publikasi hasil penelitian berupa karya ilmiah.
Namun, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, melihat grafiknya, sejak 1996 publikasi karya ilmiah di Indonesia konsisten, alias tidak ada peningkatan.
Padahal, Nuh mengimbuhkan, menulis karya ilmiah sebenarnya tidak perlu dipersulit. Civitas academica, pasti bisa menulis apa pun yang diketahuinya.
"Kita kan bukan menulis apa yang tidak diketahui. Ada perbedaan antara tidak mau dengan tidak bisa. Kalau tidak bisa akan kami dorong untuk terus belajar," ujar Nuh usai membuka Rembuk Nasional Pendidikan di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Kemendikbud, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Senin (27/2/2012).
Mantan rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini memaparkan, berdasarkan data, publikasi jurnal ilmiah Indonesia berada di urutan terbawah setelah Malaysia, Turki, China, Thailand, Mesir, dan India.
"Indonesia itu ibarat gajah yang sedang tidur. Bayangkan saja Indonesia menghasilkan 4.000 sarjana setiap tahun, paling banyak dibanding negara berkembang lainnya. Nah, untuk membangunkan gajah yang sudah keasyikan tidur ini perlu usaha yang gigih," tuturnya.
Usaha yang gigih itu pun diterjemahkan Kemendikbud dengan mengeluarkan kebijakan mewajibkan penulisan dan publikasi karya ilmiah bagi para mahasiswa untuk semua jenjang pendidikan tinggi. Namun, kebijakan yang akan diberlakukan mulai Agustus 2012 itu menuai kontroversi. (rfa)
getting time ...
Yes, lepas baju putih abu-abu nih. Sekarang bisa pakai baju bebas alias jadi mahasiswa. Tapi, mau pilih jurusan apa ya? Bingung nih. Nah, sebelum masuk SNMPTN dan SBMPTN, sharing tips dan trik milih jurusan yuk buat mereka yang merasa kebingungan ke rubrik Suara Mahasiswa periode 14 Mei-31 Mei 2013. Kirim ceritamu ke kampus@okezone.com disertai data diri dan foto paling oke.
Rabu, 19 Juni 2013 20:20 WIB
Rabu, 19 Juni 2013 20:07 WIB
Rabu, 19 Juni 2013 18:47 WIB
Disclaimer
HJ » 0 Tanggapan
Pak menteri, jelas semua sarjana pilih jadi PNS terutama pajak, kerja cuma berapa tahun duitnya miliaran. Negara harus memberikan imbal balik yg setimpal kpd penulis hasil kerja karya ilmiah yg bermutu
Beri Tanggapan Laporkan