Getting Time...

Menyikapi Ormas Secara Cerdas

Sabtu, 25 Februari 2012 10:45 wib
Foto: dok. pribadi
Foto: dok. pribadi
KONDISI pelik yang dialami bangsa Indonesia, ternyata tidak hanya berakibat pada mandegnya roda pemerintahan dan keadilan. Logika berpikir kaum terpelajar dan ulama, ikut terbelokkan. Sudut pandang mereka seringkali terisolasi dalam suatu isu yang jamak dibicarakan, kuriositas yang dimiliki dan tanggung jawab ilmiah untuk meneliti lebih mendalam suatu masalah, hilang. Bagai seseorang yang kehausan di tengah fatamorgana.

Itulah sebabnya, ketika Front Pembela Islam (FPI) tidak mendapat sambutan positif, bahkan ditolak oleh sebagian masyarakat Kalimantan Selatan, opini publik secara serentak berpusat pada pembubaran organisasi kemasyarakatan (ormas). Dimulai dari pembeberan fakta-fakta kekerasan yang dilakukan ormas terkait, tindak kejahatan yang dilakukan anggota ormas, sampai akhirnya tuntutan pembubaran. Padahal, jika isu-isu tersebut diperluas, kemudian diadakan proses klarifikasi tentang akar masalah yang sedang terjadi, pembuburan ormas tidak sesederhana yang dipikirkan.

Ormas dan Pemerintah

Dibentuknya sebuah ormas, tentu tidak seperti membuat martabak telur, sebagaimana disampaikan mendagri. Mereka memiliki keinginan bersama untuk sebuah tujuan, biasanya karena rasa tanggung jawab membangun negara dan alasan membela masyarakat. Jika ormas di Indonesia saat ini sudah mencapai puluhan ribu organisasi, itu patut dihargai dan disikapi secara positif. Ini bukti bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang progresif.

Jika kemudian ada ormas yang melakukan hal-hal tidak baik, misalnya berusaha mempengaruhi ketenangan-kerukunan masyarakat dan bertindak anarkis. Maka perlu dilakukan evaluasi antara dua belah pihak; ormas dan pemerintah. Evaluasi harus dilakukan secara mutualisme, ormas milik rakyat sebagaimana pemerintah juga milik rakyat. Bisa jadi salah satu di antara mereka yang tidak beres, atau bahkan keduanya.

Karena itu, usulan membubarkan ormas, apalagi ormas tersebut sudah memiliki banyak massa, perlu dipertimbangkan ulang. Penyelidikan terhadap esensi masalah harus dilakukan secara mendalam, demi mendapatkan langkah solutif dari pilihan membubarkan atau memperbaiki sistem yang ada di dalam ormas tersebut. Sebab, langkah pembubaran ormas sendiri memiliki sejarah panjang nan mengerikan, yang kemudian berujung pada absolutisme di masa orde baru.

Selain  permasalahan absolutisme, pembuburan ormas yang tidak dilakukan secara cerdas, juga memiliki ancaman reaktualisasi misi dan ideologi yang sama dalam nama dan bentuk organisasi yang berbeda. 

Hal ini menjadi rumit, sebab antara ormas dan pemerintah sama-sama tidak memiliki wibawa di mata masyarakat Indonesia yang sedang krisis ini. Jadi, yang perlu diperdalam untuk mengatasi tindakan ormas yang meresahkan adalah, apa tujuan ormas tersebut melakukan tindakan tersebut, jika tujuannya baik, kemudian berjanji tujuan itu dipenuhi, apakah tindakan anarkis akan dihapus dari agenda ormasnya?

Pemerintah harus jujur, analitis, dan tegas dalam memahami permasalahan ini. Andai pemerintah mau jujur, ketua majelis tanfidz FPI, Habib Rizieq, pernah menyampaikan tantangannya kepada pemerintah bahwa, jika pemerintah bisa tegas terhadap hal-hal mudharat yang ada di Indonesia, maka secara otomatis, FPI tidak akan melakukan tindakan anarkis. Tetapi sampai saat ini, pemerintah belum menangkap bola liar FPI ini. Sebaliknya, pemerintah malah masuk ke dalam mata rantai korupsi yang semakin hangat.

Selain itu, pemerintah juga tidak analitis, sehingga hal-hal anarkis tidak dipahami secara bijaksana, mereka tidak turun sebagai pemberi solusi, malah memposisikan diri sebagai hakim. Jika tidak menyalahkan ormas, pemerintah akan menyalahkan korban ormas. Hitam-putih di dalam pemerintahan menjadi kabur, bahkan abu-abu.

Kasus ormas memang bukan masalah mudah, akan tetapi ketegasan pemerintah dengan tidak hanya membubarkan ormas yang bermasalah, akan segera membuat semuanya tuntas secara perlahan. Pemerintah harus tegas menghakimi oknum sebagai masalah utama, baru kemudian permasalahan ormas. Sikap seperti ini tidak kemudian menjadi tindakan petani yang membakar lumbung padi karena seekor dua ekor tikus sedang menyusup di dalamnya. Wallahu a’lam bisshawab.

Ach. Nurcholis Majid

Alumni PP. Al-Amien Prenduan
Mahasiswa The Institute of Islamic Studies, Cairo(//rfa)
  • Zhieckly » 0 Tanggapan
    Setujuuuuu....... kalo bisa pemerintah tidak memandang sebelah mata, ibarat kertas putih maka tidak selamanya ia akan bersih dari kotoran namun pazti ada meski secuil..... JANGAN HANYA SISI NEGATIFNYA YANG DIBONGKAR TAPI SISI POSITIFNYA JUGA HARUS DILIHAT!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • L. M. Sulhan Z. » 0 Tanggapan
    FPI, lanjutkan saja bila pemerintah tidak bisa tegas !
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit