Getting Time...

Pelajar Asia akan Malas Kuliah di Australia

Hanna Meinita
Kamis, 23 Februari 2012 18:00 wib
Ilustrasi. (Corbis)
Ilustrasi. (Corbis)
AUSTRALIA - Universitas di Australia gagal menjalin ‘hubungan erat’ dengan Asia, yang merupakan pasar terbesar mahasiswa internasional. Hal ini disampaikan pakar pendidikan Asia, Profesor Greg McCarthy dalam sebuah konferensi tentang pendidikan tinggi di Australia.  
Kepala Studi Ilmu Sosial di University of Adelaide ini menyatakan banyak perguruan tinggi di Australia yang mengabaikan studi Asia dan mengekspolitasi mahasiswa asing.
 
Masalah dengan universitas di Australia adalah kita telah memarginalisasi Asia selama puluhan tahun karena sangat sedikit fakultas sejarah yang memiliki studi Asia. Ada juga penurunan fundamental dalam pengajaran bahasa Asia. Kondisi ini lebih buruk dibandingkan tahun 1960-an dalam hal bahasa Asia,” jelas McCarthy.
 
Menurutnya, universitas di Australia tidak lagi bersaing untuk siswa dengan sejarah, budaya dan bahasa yang tidak mereka pahami atau hargai. Data menunjukkan, pada 2009, hanya 300 siswa dari latar belakang keturunan non-China yang belajar bahasa Mandarin pada kelas 12. Kondisi mengenaskan juga terjadi dalam studi bahasa Indonesia.
 
“Apakah kita terlibat dalam kondisi global saat ini, ‘Era Asia’, jika pelajaran bahasa Indonesia untuk kelas 12 justru akan menghilang dalam lima tahun mendatang?” tanya McCarthy seperti dikutip dari The Conversation, Rabu (23/2/2012).
 
Menurut laporan yang dirilis Lembaga Pendidikan Asia (AEF), proporsi pelajar di semua tingkat belajar yang belajar satu dari empat bahasa utama Asia (China, Jepang, Korea dan Bahasa Indonesia) turun dari 24 persen menjadi 18,6 persen antara 2000 dan 2008. Dan hanya sebagian kecil dari siswa kelas 12 yang belajar tentang Asia dalam pelajaran Sejarah, Bahasa Inggris, Geografi, Ekonomi, Politik dan Seni.
 
Menurut McCarthy hal ini akan melemahkan daya tarik untuk belajar di Australia. Apalagi pemerintah China, Jepang, dan Korea Selatan terus meningkatkan anggaran untuk universitas.
 
“Ada upaya strategis untuk melebihi Australia dalam hal penelitian dan peringkat mengajar. Dan ini akan membuat sistem pendidikan kita tidak bermutu, dan mereka akan melihat kita seperti itu. Kita tidak akan menjadi tujuan siswa asal China. Saya pikir kita sedang mengalami kemunduran,” jelas Profesor McCarthy setelah konferensi.
 
Australia hanya akan menarik bagi siswa asing yang sangat kaya, yang tidak bisa masuk universitas berkualitas di negara sendiri. “Mahasiswa cerdas dan sangat kaya tidak akan menempuh pendidikan di Australia, mereka akan mengejar gelar di Amerika, atau universitas di negara mereka sendiri, yang peringkatnya jauh lebih baik dari kita,” ujarnya.
 
Sebelumnya, Presiden Dewan Mahasiswa Internasional Arfa Noor mengeluhkan usaha tidak maksimal dari universitas di Australia. Menurutnya, universitas di Australia tidak berbuat banyak untuk menjamin mahasiswa internasional berinteraksi dengan mahasiswa lokal, dalam hal pengalaman budaya dan bahasa.
 
Setiap kali ada peningkatan jumlah siswa internasional, setiap kali ada peningkatan pendapatan yang masuk ke sektor pendidikan tinggi, pemerintah mengatakan hal itu bagus. Tapi tidak ada pembicaraan cara meningkatkan kualitas pengalaman para siswa ketika berada di sini (Australia),” jelasnya.
(rhs)
TWITTER »
twit