Foto: dok. Unsoed
JAKARTA - Batu besar yang diyakini merupakan batu meteor ini digarap mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) sebagai potensi pariwisata baru di Banyumas.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kuliah kerja nyata (KKN) Pariwisata Unsoed di Desa Klinthing Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa sederhana yang tadinya tidak diketahui masyarakat itu, kini tenar berkat promosi pariwisata tentang keberadaan Batu Meteor Watu Lintang dan Agrowisata Jambu Biji oleh tim KKN Unsoed.
Tim yang digawangi Hanif Adhiyatmika sebagai Koordinator mahasiswa desa (Kormades) Klinthing, Lilik Siyaga, Pramandhono Seno, Azka Nurdiana, dan Ilah Sholihah itu memprioritaskan Watu Lintang sebagai program pemberdayaan masyarakat dalam penggarapan obyek wisata selama periode KKN Januari-Februari 2012 ini. Hanif dan kawan-kawan didampingi Sri Lestari, S.E., M.Si dan dosen pembimbing lapangan (DPL) Najmudin, S.E., M.Si.
Warga Klinthing meyakini, batu besar berukuran sekira 6x8 meter yang menyembul di antara pepohonan di pegunungan Kendheng itu merupakan batu meteor. Mereka pun menyebut batu tersebut sebagai Watu Lintang. Lokasinya yang asri dan mitos yang menyertai Watu Lintang itulah yang mendorong tim pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kecamatan Somagede memasukkannya sebagai salah satu obyek wisata. Demikian seperti dikutip dari laman Unsoed, Kamis (23/2/2012).
Mahasiswa KKN Tematik Unsoed pun mengupayakan permohonan penelitian secara ilmiah, baik ke perguruan tinggi maupun ke Pemerintah Kabupaten Banyumas, untuk membuktikan kebenaran Watu Lintang sebagai batu meteor.
Tidak hanya keunikan Watu Lintang, Kepala Desa Klinthing Sudir dan dan Kelompok Tani Sekarsari juga mendukung tim Hanif untuk menggagas agrowisata jambu biji di desa tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan jambu biji di daerah yang mencapai tujuh kuintal per hari, mereka pun menanam 38 bibit jambu biji di kawasan obyek wisata Watu Lintang.
Warga desa berharap, dengan dijadikannya lokasi watu lintang sebagai agrowisata jambu biji, maka taraf hidup dan perekonomian warga setempat akan meningkat.
Konsep pengembangan pariwisata di desa Klinthing sebenarnya melibatkan tiga obyek yaitu Pure Giri Kendheng, Watu Lintang, dan Lemah Abang. Tetapi, pengembangan potensi wisata di Lemah Abang tidak dapat dilaksanakan karena keterbatasan waktu pelaksanaan KKN.(rfa)