Ilustrasi: ist.
JAKARTA - Kampus teknik di Jawa Timur ini telah menghasilkan banyak produk teknologi canggih. Tetapi, hingga saat ini nama Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) belum menjadi kiblat bagi perkembangan teknologi di Tanah Air.
Padahal, kreativitas para civitas academica ITS dalam berbagai inovasi teknologi patut diacungi jempol. Sebut saja dalam bidang otomotif. Salah satu guru besar ITS dalam bidang Teknik Mesin, I Nyoman Sutantra, berhasil membuat teknologi Condensor Discharge Ignition (CDI) untuk mobil. Dia juga dapat berkolaborasi dengan Kanzen.
Kerja sama ITS dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) bahkan menghasilkan berbagai teknologi pertahanan dan keamanan (hankam) seperti peledak, sistem radar, war game, dan masih banyak lagi. Meski demikian, TNI justru tetap mengimpor produk hankam.
Menurut guru besar ITS, Profesor Gamantyo Hendrantoro, salah satu penyebab ITS tidak menjadi acuan dalam dunia teknologi di Indonesia adalah kendala dalam pendanaan penelitian. Jumlah dana penelitian yang diterima ITS, tidak sejalan dengan pendapatan dari kerja sama dengan lembaga atau pihak di luar ITS.
"ITS juga belum maksimal dalam melakukan publikasi. Jumlah publikasi Internasional naik setiap tahun, tetapi publikasi nasional masih naik turun," papar Gamantyo seperti dikutip dari ITS Online, Kamis (23/2/2012).
Sekretaris 1 Bidang Penelitian LPPM ITS ini menambahkan, faktor lainnya adalah minimnya kesadaran para peneliti ITS dalam mematenkan penemuan mereka. Paten bagi ITS, menurut Gamantyo, adalah hal yang baru. Karena itulah, LPPM ITS terus menyosialisasikan pentingnya mendaftarkan paten atas semua hasil penelitian di ITS.
Gamantyo memaparkan, ITS juga tidak tinggal diam dalam memajukan inovasi teknologi. Menurutnya, ITS perlu berupaya lebih keras untuk mendorong dan menjembatani inovasi hasil penelitian dan produk yang siap dipasarkan.
ITS juga kerap bekerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan dan penelitian, baik dalam maupun luar negeri, di antara lembaga tersebut adalah Institut Teknologi Bandung (ITB) dan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST).
"Kunjungan kelembagaan tersebut dihelat ITS agar menemukan rumusan model pusat inovasi dan kreativitas, atau memiliki fungsi sejenis yang cocok untuk kebutuhan ITS," imbuhnya.(rfa)