Foto: dok. pribadi
ORGANISASI Front Pembela Islam (FPI) kini sedang mendapat banyak sorotan masyarakat. Bagaimana tidak? Jika kita menilik kembali pada catatan kelam umat dan bangsa ini dalam berhubungan dengan FPI, telah banyak bukti nyata yang mampu mendukung argumen masyarakat bahwa FPI merupakan organisasi tegas dan anarkis.
Sampai saat ini pun, kasus yang berujung anarkis masih terus ditunjukkan mereka. Bahkan baru-baru ini, sejumlah Organisasi Masyarakat (ormas) yang tergabung dalam Forum Masyarakat Kalimantan Kota Balikpapan menolak keberadaan FPI di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur. Mereka juga meminta pemerintah daerah segera membekukan organisasi tersebut. (Metrotvnews.com/21/2/2012).
Sebenarnya kegiatan mencegah kemungkaran yang dilakukan FPI tidaklah salah. Namun ada sedikit etika dan cara yang masih harus dibenahi. Tentu kita semua yakin, mereka memahami agama Islam dengan baik. Yakni sebagai agama yang cinta perdamaian dan kesejahteraan bagi pemeluknya, bukan sesuatu yang malah membuat rasa was-was dan momok bagi masyarakat.
Toh, Islam juga telah mengajarkan etika bagaimana seseorang bisa mencegah kemungkaran yang ada di hadapannya. Jika kemungkaran tersebut tidak mampu dicegah dengan lisan, maka hendaknya dicegah dengan tangan, jika masih belum ada hasil dengan tangan, maka hendaknya dengan hati nurani. Dengan cara mendoakan agar mereka yang masih menjadi pelanggar kemungkaran, kelak mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
Rasulullah SAW saja sebagai uswah kita, saat diberikan kesempatan oleh Malaikat untuk memberi hukuman kepada orang-orang yang telah menyakitinya, hanya meminta kepada Allah SWT agar umatnya senantiasa diberikan hidayah-Nya. Sebab, Rasul menilai, siapa tahu umatnya belum memiliki ilmu yang mumpuni.
Jika Rasulullah SAW saja mampu bersikap seperti itu, apakah FPI yang berstatus sebagai umat beliau tak mampu meniru sifat dan sikap Rasulullah SAW? Akhirnya, semoga umat dan bangsa ini senantiasa mendapatkan hidayah dan lindungan dari Allah SWT dan diampuni segala kekhilafan yang telah berlalu. Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin. Wallahu a'lam bish showab.
Mochamad Ichsan Effendi
Mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta(//rfa)