Foto: dok. pribadi
SEJARAH memberi tahu kita akan baik buruknya masa lalu, sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga agar kita dapat mengarungi kehidupan lebih baik di masa datang. Dan jangan sekali-kali mengaku melupakan sejarah (Jas Merah), seperti yang dikatakan Bapak Pendiri Republik ini, Soekarno. Dia menyadari betul bahwa kesadaran sejarahlah yang akan membuat bangsa Indonesia terus melaju, namun kealpaan sejarah jualah yang akan menyengsarakan bangsa ini dikarenakan mandeknya roda pemerintahan.
Apa pasal? Pemerintah akan mengulangi kesalahan yang sama, akan sibuk dengan masalah yang sama tiap tahunnya. Dan jikalau benar-benar bangsa ini memahami sejarah, mungkin saja kita akan telah melampaui kesuksesan para pendahulu kita, seperti Majapahit dan Sriwijaya atau Atlantis sekali pun.
"Dongeng" Atlantis, itulah salah satu perkataan seorang arkeolog Indonesia terhadap penemuan spektakuler Prof Dr Aryisio Nunes des Santos. Penemuan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang, Indonesia adalah Pusat Peradaban Dunia dianggap hanyalah wujud sensaional seorang Santos. Tapi apa salahnya jika hal tersebut bermanfaat bagi bangsa ini?
Mungkin itu menjadi polemik di kalangan para ahli, namun masyarakat awam bisa jadi akan merasa bangga dengan prestasi emas Nusantara di masa lalu. Anak-anak intelektual bangsa akan termotivasi melampaui kesuksesan Indonesia sebelumnya. Bahkan akan menjadi pelecut utama untuk meningkatkan keingintahuan akan sejarah besar yang pernah hinggap di Tanah Air. Layaknya anak kecil yang selalu meminta diceritakan dongeng sebelum tidur atau bagai anak kecil yang selalu ingin tahu tentang apa yang kali pertama dilihatnya.
Apabila saat ini kita melontarkan pertanyaan tentang sejarah bangsa kepada masyarakat atau mahasiswa (yang lebih intelek), belum tentu mereka mengetahui banyak akan sejarah emas Nusantara. Karena memang dalam pelajaran sejarah yang diberikan kepada kita di sekolah banyak adanya ketidaksesuaian. Buktinya adalah bantahan-bantahan berbagai sejarawan. Ingatlah tentang peristiwa G30S/PKI yang ternyata banyak dipelintir pemerintah Orba dalam buku sejarah. Sebelum akhirnya di era Reformasi peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan G30S.
Selain itu dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, tak pernah di ungkap kebesaran masa lalu Nusantara. Kebesaran Kerajaan Majapahit yang pernah menguasai tujuh titik perdagangan dunia. Yang berarti maritim digunakan sebagai jalan untuk menyebarkan produk agraria kita. Pernahkah diungkap? Agaknya tidak. Yang ada hanya sekelumit pendiriannya dan keruntuhanya saja, sehingga tidak ada manfaat belajar sejarah yang bisa anak bangsa dapatkan.
Maka tepat penulis katakan saran Prof Dr Jimly Asshiddiqie untuk ditindaklanjuti, yaitu memasukkan tema Atlantis ke dalam kurikulum Pendidikan Nasional. Bahkan tidak hanya itu, penulis menambahkan untuk menyempurnkan lagi dengan sejarah keemasan Nusantara yang lebih komprehensif. Sejarah peradaban Nusantara yang disebut Atlantis dan bukti-bukti penemuannya, sejarah keemasan Kerajaan Jawa yang memiliki kekuatan armada laut melebihi China dan mengusai tujuh titik perdagangan dunia. Sejarah Pahlawan bangsa yang baru terkuak seperti Tan Malaka dan sejarah emas lainnya.
Kini masyarakat dihadapkan dalam posisi di tengah kecaman para ahli terhadap rencana pengeboran Gunung Sadahurip Garut. Penulis beranggapan seharusnya publik dapat bersikap dengan mengambil sudut pandang manfaat sejarah. Seperti yang kita ketahui, Tim Katastropik Bencana Purba saat ini sedang melakukan penelitian terhadap Gunung Sadahurip yang dalam analisa awalnya terungkap bahwa terdapat benda kuno di dalamnya. Walaupun belum berani disimpulkan bahwa piramidalah yang terdapat di dalam Gunung tersebut namun sudah menjadi buah bibir bahwa penelitian ini bertujuan mengungkap adanya sebuah piramida yang lebih tua dari piramida Gyza di Mesir yang dibangun pada 2800 SM.
Mungkin penelitian ini dianggap sebuah mimpi dan sensasi tapi betapa besarnya manfaat yang didapat bila terungkap. Bagaimanapun juga penemuan barang kuno adalah harta tak ternilai bagi sebuah bangsa seperti yang telah diungkapkan di muka. Selain itu masih ada manfaat yang didapat kalaupun tak ada benda kuno di sana. Karena selalu ada pelajaran dari sebuah kegagalan. Entah pelajaran terkait di bidang keilmuan macam geologi ataupun arkeologi maupun pelajaran berharga lainnya.
Jadi ini adalah sebuah tantangan bagi tim peneliti untuk dapat membuktikan kebenarannya. Dan ini pula tantangan bagi generasi muda bangsa agar terpacu mempelajari sejarah bangsa sehingga diharapkan mampu menjadi generasi yang besar, agar mau terus menggali sesuatu yang belum terungkap secara nyata, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulunya. Dan bangsa yang sombong dan akan hancur adalah bangsa yang tak menghargai para pendahulunya. Merekalah yang disebut bangsa mati hati. Yang hanya bisa meyalahkan kegagalan para pendahulunya. Semoga kita semua tidak termasuk ke dalam golongan itu, JAS MERAH Nusantara.
Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor(//rfa)