Getting Time...

Daerah Tertinggal RI Rawan Konflik & Bencana

Marieska Harya Virdhani
Selasa, 21 Februari 2012 16:25 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
DEPOK – Indonesia dan Jepang adalah negara kepulauan yang sama–sama terletak pada lempeng utama dunia dan jalur ring of fire.

Kondisi ini mendorong Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Kajian Wilayah Jepang UI dan Pusat Studi Kajian Pengembangan Perkotaan (PSKPP) UI menggelar simposium untuk mengetahui seberapa siap siaganya masyarakat Indonesia menghadapi bencana.

Pembicara dalam simposium bertema 'Learning From Japan 4th Symposium 2012' adalah Deputi Bidang Pengembangan Daerah Khusus Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal Suprayoga Hadi. Dia mengungkapkan, dari 183 kabupaten dan desa tertinggal di Indonesia, 75 persen di antaranya rawan bencana alam. Bahkan, tak hanya itu, daerah dan kabupaten tersebut juga rawan konflik sosial.

"Rata–rata bencana alam disebabkan oleh letak geologis dan juga keteledoran dalam hal memelihara lingkungan. Umumnya, bencana alam di Jawa bagian Selatan, dan Sumatra bagian barat. Sementara Kalimantan cenderung aman," papar Suprayoga kepada wartawan di Pusat Studi Jepang UI, Selasa (21/2/2012).

Pemerintah, kata Suprayoga, telah menaikkan anggaran hingga 0,8 persen untuk penanggulangan bencana.

Di sisi lain, konflik sosial lebih disebabkan karena konflik komunal seperti konflik etnis, dan juga tawuran antarkampung. Paling banyak khususnya terjadi di wilayah Indonesia Timur seperti di Maluku, Papua, dan NTT

"Karena itu kami lakukan maping ini agar penyelesaiannya lebih fokus, baik secara treatment hingga fungsi budgeting, agar tepat sasaran, kami juga terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)," tegasnya. (rfa)
TWITTER »
twit