Getting Time...

Data Mahasiswa Norwegia Dikomersilkan

Hanna Meinita
Jum'at, 17 Februari 2012 17:12 wib
Ilustrasi. (Corbis)
Ilustrasi. (Corbis)
SEBUAH perusahaan di Norwegia, Rekruttering AS dikecam karena ingin mendaftarkan lulusan perguruan tinggi di negara tersebut selama 15-20 tahun terakhir untuk kepentingan komersial. Nantinya, daftar ini menjadi bank data perusahaan untuk kegiatan rekrutmen pegawai.

Serikat mahasiswa dan universitas di Norwegia menolak permintaan perusahaan peminta data tersebut. Menurut mereka, perusahaan dinilai melanggar privasi.

Namun perusahaan membela diri. Mereka beralasan University of Bergen telah memberikan data 4.600 lulusan fakultas hukum sejak 1980. Apalagi, otoritas pendidikan mengatakan UU Data Pribadi Warga Norwegia memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan data mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi.

Namun kini, Norwegian Technological University (NTU) menolak memberikan data. Rekruttering AS pun mengajukan komplain secara resmi ke Departemen Pendidikan. Perusahaan ‘berlindung’ di balik undang-undang yang menyatakan perusahaan memiliki hak untuk mendaftarkan nama, alamat dan nomor telepon dari lulusan perguruan tinggi.

Bos Rekruttering AS Kjell F Klynderud mengaku setelah ditolak universitas, segera menghubungi Departemen Kehakiman untuk memastikan hak perusahaan. Menurutnya, nama, alamat, jurusan dan tanggal lulus bukan data pribadi yang sensitif jika dibandingkan dengan data pajak pribadi, yang setiap tahun diterbitkan media Norwegia.

“Departemen menegaskan bahwa saya punya hak untuk mengumpulkan daftar ini,” ujar Klyngerud seperti dikutip dari World University News, Jumat (17/2/2012).

Dia mengaku penolakan tidak hanya diterima dari NTU, tapi juga dari University of Oslo. Universitas tersebut menolak permintaan data pribadi 55 ribu mahasiswa.

Rektor University of Oslo Ole Petter Ottersen mengatakan secara hukum, universitasnya bisa memberikan data selama untuk penggunaan internal dan kondisi rahasia.

Selain empat universitas besar di Norwegia, perusahaan telah meminta data dari 20 perguruan tinggi lainnya. Rektor dari empat universitas besar di Norwegia sepakat tidak akan memberikan data kepada Rekruttering AS hingga Departemen Kehakiman mempertimbangkan banding dari perusahaan dan memperjelas masalah hukum. Para rektor mendapat dukungan penuh dari Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Norwegia (NAHEI).

Sementara Presiden Persatuan Pelajar Nasional Norwegia (NUS-Norway) menolak permintaan perusahaan. “Kami pikir ini melanggar privasi mahasiswa Norwegia. Perguruan tinggi bukan menjadi alat untuk kepentingan komersial dengan cara ini,” ujar Presiden Persatuan Pelajar Nasional Norwegia (NUS-Norway) Kim O Katardjiev.(rhs)
TWITTER »
twit