Foto: dok. pribadi
SEBAGAI wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati cukup tinggi di belahan bumi ini, Indonesia menjadi suatu negara yang sangat potensial yang mampu menyediakan berbagai kebutuhan bagi penghuninya. Tidak heran bila pada masa kolonialisme, Indonesia menjadi sasaran wilayah yang dieksploitasi sumber daya alamnya, kemudian diangkut menjadi sumber tambahan kekayaan bagi negara penjajahnya.
Sebagai seorang pribumi yang peduli terhadap Tanah Air, tentu saja pelanggaran terhadap hak asasi ini tidak dibiarkan begitu saja. Kebebasan individu yang direnggut, kemudian diperas dengan bekerja di bawah telunjuk penjajah, menimbulkan berbagai rentetan perlawanan para pahlawan di setiap daerah. Alhasil, pada 17 Agustus 1945 Kemerdekaan pun diraih, hasil perjuangan rakyat Indonesia membuahkan pengaruh signifikan bagi setiap era pemerintahan, baik orde lama, orde baru, reformasi, maupun pascareformasi.
Namun, status Indonesia sebagai negara merdeka, tidak lantas menjadikan negara lain yang berkepentingan terhadapnya, diam begitu saja. Setiap perkembangan negeri jamrud di khatulistiwa ini, selalu menjadi sorotan dunia dan 'mereka' akan cukup gatal bila diam begitu saja membiarkan pencapaian prestasi terus diraihnya.
Salah satunya adalah sistem globalisasi. Suatu media yang efisien untuk memberikan cengkraman negara adidaya kepada Indonesia, mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, dan mengatur kebijakan sekehendaknya. Sehingga model penjajahan pun kembali berjalan yang saat ini kita kenal dengan istilah modern colonialism.
Para pemuda yang menganggur dan berafiliasi kepada kriminal, masyarakat yang konsumtif dan menjadi ajang pengusaha uji produk, akademisi yang sebatas berpikir untuk kesejahteraan pribadi, dan pemerintah yang tidak tegas terhadap kebijakan publik, menjadikan indikator kesuksesan kolonialisme modern benar-benar terjadi.
Hal ini tentu menjadi pertanda dibutuhkan kembali sosok pahlawan kontemporer. Mereka yang dapat mengemas ancaman kolonialisme modern menjadi peluang kebangkitan Indonesia yang kedua, yaitu dengan membentuk generasi muda menjadi sumber daya manusia strategis dan memberikan inspirasi untuk selalu berkontribusi. Misalnya, Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri, salah satu asrama pembinaan yang fokus terhadap pembentukan karakter mahasiswa agar memiliki jiwa leadership tinggi. Ada juga program Indonesia Mengajar, yaitu gerakan inspirasi dari Anis Baswedan yang mampu membangun kepedulian pemuda, sehingga lebih tersalurkan melalui sarana pendidikan-pengajaran.
Kolonoalisme akan terus berkembang menyesuaikan diri atau membentuk zaman yang mereka inginkan. Namun, para pahlawan pun tidak akan tinggal diam dan akan terus bermunculan. Karena mereka mengikrarkan diri untuk peduli terhadap perkembangan bangsanya dan berjanji setia mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Deden Amwar
Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Universitas Padjadjaran (Unpad)
PPSDMS Nurul Fikri Regional II Bandung(//rfa)