Getting Time...

Kuliah di Luar Negeri

Setelah Honey Moon Terbitlah Culture Shock

Margaret Puspitarini
Selasa, 14 Februari 2012 16:03 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
JAKARTA - Penyesuaian atau adaptasi adalah hal yang sangat sulit ketika seseorang memasuk dunia baru. Terutama ketika menghadapi lingkungan yang jauh berbeda dengan keseharianmu.

Kesulitan ini pula yang dialami Fasli Djalal. Mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) ini mengaku kesulitan untuk menyesuaikan diri ketika berada di negeri orang.

"Biasanya secara psikologis dimulai dengan honey moon period, yakni merasa senang dengan kondisi lingkungan yang baru. Setelah itu, kita akan mengalami culture shock," ujar Fasli selepas acara Seminar "Why Indonesia Should Invest in International Education?" di Hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (14/2/2012).

Menurut Fasli, culture shock atau gegar budaya merupakan keadaan di mana seseorang merindukan keadaan di tempat asalnya. Mulai dari makanan, budaya, dan orang-orang terdekat.

"Kalau tidak mampu atau gagal mengatasinya, maka akan berdampak pada menurunnya prestasi belajar dan nilai-nilai akademis mahasiswa tersebut," ujarnya menerangkan.

Alumnus Cornell University, Amerika Serikat (AS) ini menyebutkan, ketika mengalami gegar budaya, dukungan dari orang-orang sekitar sangat diperlukan oleh mahasiswa tersebut.

"Dukungan dari teman-teman sebangsa di negara tersebut serta keluarga di Tanah Air bisa menjadi obat ampuh untuk membantu mengatasinya," tutur Fasli.(rfa)
TWITTER »
twit