Image: corbis.com
DENPASAR - Ratusan akademisi Tanah Air dan pakar asing yang menguasai sejarah Indonesia berkumpul di Bali guna berkontribusi dalam merancang masa depan Indonesia.
Dalam ajang internasional yang digelar sejak kemarin oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) itu, para pakar bertukar pemikiran dan gagasan tentang sejarah, perkembangan hingga dinamika politik Indonesia.
Pertemuan Internationl Conference and Summer School on Indonesian Studies (ICSSIS), sudah keempat kalinya digelar UI. Tema Unity Diversity dan Future diusung karena Indonesia punya ragam suku, agama hingga pandangan hidup. Semua itu, untuk memperkaya dan membuat kesatuan seluruh masyarakat.
"Forum diharapkan bisa berkontribusi dalan menata bangsa Indonesia ke depan menjadi lebih baik," ujar Ketua Departemen Kewilayahan UI Irmayanti Meliono, di sela kegiatan, Jumat (10/2/2012).
Karena itu, pihaknya mengajak seluruh akademisi dan Indonesianis untuk berkontribusi ke depan. Forum ini menjadi wadah agar Indonesianis yang tersebar di dunia, bisa saling berdiskusi untuk membangun Indonesia.
"Banyak pakar Indonesia dari luar. Karena itu kita bisa mulai mengajak pemerhati untuk bergabung sehingga ke depan diharapkan lahir semacam komunitas Indonesianis," katanya menambahkan.
Irmayanti menargetkan, diskusi bisa menghasilkan karya dalam satu buku laporan penelitian.
"Kami ingin menuangkan pemikiran akademisi dan Indonesianis nantinya akan disampaikan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai bentuk kongkret hasil penelitian," ungkapnya.
Kegiatan ini, sejatinya juga untuk menjawab tantangan Presiden SBY agar para Indonesianis itu bisa berkontribusi bagi masa depan Indonesia. Para pecinta Indonesia asal negara asing maupun dari seluruh Fakultas Humamiora, nantinya bisa melakukan riset untuk menggali kekayaan Indoensia dari Aceh sampai Papua.
Berbagai disiplin seperti arkeologi, antropologi, sejarah dan lainnya bisa saling menguatkan dan memperkaya kazanah pengetahuan dalam menggali warisan leluhur bangsa Indonesia.
"Banyak hal dari masa lalu sejarah Indonesia yang memiliki nilai-nilai harmoni atau local wisdom," Irmayanti mengimbuhkan.
Sejumlah pakar Indonesia maupun ahli ilmu humaniora asing ikut ambil bagian dalam pertemuan ini seperti dari Azerbaijan, Denmark, Tunisia, Pakistan, dan Vietnam.(rfa)