Getting Time...

Kritis Terhadap Media Majukan Bangsa

Kamis, 09 Februari 2012 14:28 wib
Foto: dok. pribadi
Foto: dok. pribadi
INFORMASI aktual sehari-hari serta wawasan bagi suatu masyarakat dapat bersumber dari media massa yang berada di suatu negara. Media massa tersebut bisa berupa media elektronik dan media cetak. Di era globalisasi ini, seolah informasi tak perlu lagi dicari, tapi ia datang layaknya banjir yang tak bisa dihindari kedatangannya. Surat kabar, majalah, radio, film, dan televisi (free to air, berbayar, satelit, atau kabel), semuanya menyuguhkan informasi yang berbeda-beda dengan pasar yang berbeda-beda pula.

Hal yang unik dan powerful dari media massa kemampuannya menyasar khalayak (audience) yang luas, heterogen, dan anonim. Dan perlu diketahui pula, media massa diproduksi bukan oleh individu atau kelompok kecil, melainkan oleh perusahaan/badan yang sangat terorganisasi dan terstruktur yang menanamkan investasi besar. Dalam ilmu komunikasi, sifat media massa adalah dikontrol oleh banyak gatekeepers, dengan pesan yang bersifat publik, dan memiliki delayed feedback (tingkat interaktivitas yang rendah).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan media massa di Indonesia antara lain perubahan politik, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, serta kondisi ekonomi. Tentunya kebebasan pers menjadi lebih terasa pascajatuhnya orde baru yang antara lain dengan ditiadakannya izin penerbitan pers bagi media cetak dan menurunnya peran pemerintah dalam mengontrol isi media. Kepemilikan media juga semakin terasa beragam, yaitu dimiliki oleh swasta komersial, publik, pemerintah, dan komunitas.

Perlu diingat, sifat publik media massa sangat berpotensi mempengaruhi masyarakat. Media massa mempengaruhi dengan cara memberikan model, membentuk dan mengukuhkan stereotipe, serta mempengaruhi life-experience kita.  Misalnya, tidak semua tokoh dalam serial kartun memberikan model terbaik untuk anak-anak dan tidak semua tampilan yang ada dalam suatu sinetron menggambarkan keadaan masyarakat yang sebenarnya. Namun justru tampilan tersebutlah yang dapat membentuk masyarakat. Isi media ibarat dewa Janus yang memiliki dua wajah, yaitu muatan positif yang prososial yakni informasi dan pendidikan, serta muatan negatif yang antisosial seperti seks, kekerasan, bahasa kasar, konsumerisme, mistik, dan gosip.

Dengan potensi media massa yang sangat besar pengaruhnya pada masyarakat, semestinya media massa menyadari potensi tersebut untuk memberikan program-program dan informasi terbaik yang dapat membangun bangsa dengan kemasan yang semenarik mungkin. Masalah-masalah media massa yang utama di Indonesia adalah orientasi utamanya yang berupa profit dengan iklim kompetisi yang ketat, intervensi pemilik, dan kemampuan SDM serta komitmen profesional yang juga terbatas. Terbayangkan suatu impian yang ideal, di mana ada sekelompok SDM dan profesional yang membangun media massa untuk membangun karakter masyarakat yang terbaik sehingga dampaknya adalah Indonesia yang maju dan bermartabat.

Selain dari pihak media, apa yang bisa kita lakukan untuk media massa yang terbaik di Indonesia? Caranya adalah memiliki kemampuan media literacy, yaitu sifat kritis terhadap produk media agar kita tidak selalu mentah-mentah menerima apa yang ditawarkan oleh media melainkan ada proses mengkritisi produk media tersebut. Sifat kritis tersebut berada di bawah kesadaran bahwa media massa bisa dimiliki oleh komunitas tertentu dan mungkin saja tujuan tertentu, maka pilihlah produk media yang tujuannya membangun karakter masyarakat yang cerdas dan kritis.

Kemudian yang kedua adalah bergabung menjadi media watch, yaitu orang-orang yang begitu merasa ada produk media yang meresahkan atau lebih banyak dampak negatifnya, maka mereka bisa melaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) serta pihak berwenang lainnya. Selain itu, menggunakan situs jejaring sosial dan dunia maya untuk mengritisi produk media yang tidak produktif juga dapat dilakukan sehingga produk media tersebut bisa dihilangkan atau dimodifikasi menjadi lebih baik lagi.

Semoga dengan niat yang baik untuk membangun Indonesia yang maju dan bermartabat, semua pihak memiliki kemauan untuk membangun media massa Indonesia dengan produk-produknya yang terbaik, bukan untuk kepentingan golongan tertentu, melainkan kepentingan masyarakat Indonesia secara luas.

Muhammad Irfan Hasan
Mahasiswa Berprestasi Utama FMIPA UI
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI)(//rfa)
TWITTER »
twit