Getting Time...

Unsri Akan Buka Prodi Jasa Penilai

Kamis, 09 Februari 2012 09:39 wib
Ilustrasi: ist.
Ilustrasi: ist.
PALEMBANG – Tidak lama lagi, Universitas Sriwijaya (Unsri) akan menghasilkan lulusan magister jasa penilai.

Hal ini didukung dengan kerja sama antara Program Pascasarjana Unsri dengan Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) pusat. Kerja sama tersebut merupakan dukungan awal Unsri untuk membuka program pendidikan baru magister yang bersertifikat sebagai jasa penilai.

Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri) Badia Parizade mengaku sangat mendukung kerja sama yang baru dilakukan ini. Dengan adanya program studi (prodi) baru, dia berharap Unsri bisa sejajar dengan perguruan tinggi lain (PTN) lain di luar daerah yang sudah lebih dulu menyediakan program pendidikan jasa penilai.

"Kami tentu menyambut baik adanya kerja sama ini. Terlebih, prodi ini memang belum banyak. Dengan adanya prodi ini, kita berharap bisa menciptakan lulusan yang ahli soal pengelolaan aset, terutama untuk daerah," ujarnya.

Terlebih, saat ini di Sumatra Selatan (Sumsel) perkembangan perekonomian semakin pesat, sehingga banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga-tenaga jasa penilai yang andal. Untuk alasan ini pula, dia mengaku optimistis kerja sama ini bisa direalisasikan dalam waktu dekat.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Pembinaan Usaha dan Penilai Publik PPAJP Kemenkeu Dadan Kuswardi menyatakan, hingga kini jumlah tenaga jasa penilai di Indonesia sangat minim, yakni hanya sekira 300 orang.

Padahal, jumlah pengguna jasa penilai itu terus meningkat seiring makin pesatnya pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Karena alasan itu pula, untuk meningkatkan jumlah lulusan Prodi ini, PPAJP Kemenkeu bersama MAPPI sudah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan beberapa universitas lain selain Unsri, yakni Universitas Sumatra Utara (USU), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Melalui MoU ini, diharapkan jumlah profesi jasa penilai bisa ditingkatkan lebih dari tahun sebelumnya, yang hanya mencapai 10–15 orang per tahun.

"Tahun ini kami target ada 25 lulusan jasa penilai. Jumlah ini tidak muluk-muluk karena 25 lulusan itu sudah termasuk cukup tinggi," ujar dia.

Dengan semakin banyaknya jumlah profesional yang ahli di bidang jasa penilai, diharapkan mampu meningkatkan value dari tiap-tiap perusahaan maupun instansi pemda yang menjadi pengguna utama profesi ini. Dengan begitu, ke depan percepatan pertumbuhan perekonomian makin lekas terwujud.

"Misalnya pemda, punya objek yang tidak terpakai, nah oleh jasa penilai objek ini bisa dimaksimalkan fungsinya dengan penilaian aset yang teliti. Dengan begitu, objek itu tidak mubazir dan justru menghasilkan value. Jadi semua aset bisa dioptimalkan," pungkasnya. (komalasari/koran si) (//rfa)
TWITTER »
twit