Getting Time...

Hanya 6 % Mahasiswa AS Mau Jadi PNS

Hanna Meinita
Rabu, 08 Februari 2012 13:00 wib
Ilustrasi: Survei membuktikan hanya sekira 2.100 mahasiswa Amerika Serikat yang mau jadi pegawai pemerintah. (Corbis)
Ilustrasi: Survei membuktikan hanya sekira 2.100 mahasiswa Amerika Serikat yang mau jadi pegawai pemerintah. (Corbis)
POLLING yang dilakukan lembaga nirlaba Partnership for Public Service (PPS) menemukan ‘hanya’ enam persen sarjana Amerika Serikat, atau sekira 2.100 orang, yang mau bekerja di sektor pemerintahan. Mereka bersedia bekerja di semua level, mulai dari level federal, negara bagian, hingga pemerintah lokal.
 
Survei dilakukan pada awal 2011 atas 35.000 mahasiswa di 599 perguruan tinggi di 50 negara bagian Amerika, yang ditanya mengenai aspirasi karier mereka. Survei menemukan, mayoritas mahasiswa lebih tertarik untuk melanjutkan kuliah ke pascasarjana, bekerja di lembaga nirlaba dan sektor swasta ketimbang di sektor pemerintahan.

PPS juga menemukan minat mahasiswa untuk bekerja di sektor pemerintahan menurun selama dua tahun terakhir. Dalam jajak pendapat serupa pada 2009, mahasiswa yang tidak tertarik bekerja menjadi pegawai pemerintah sebesar 10,2 persen, sementara pada 2009 menurun menjadi 7,4 persen mahasiswa.

Survei PPS muncul di tengah kondisi sektor publik yang terus berjuang untuk mempertahankan tenaga kerja. Resesi mendorong jutaan orang Amerika kehilangan pekerjaan, mengurangi penerimaan pajak pemerintah dan menekan defisit di tingkat lokal, negara bagian dan federal.

Akibatnya, 700 ribu pekerjaan di pemerintahan dipotong dalam tiga tahun terakhir. Pada 2011, pegawai negeri mengalami PHK lebih banyak dibandingkan kelompok lain dan dan gaji pegawai federal diperkirakan akan terus menyusut sepanjang tahun.

Pengurangan yang terjadi di sektor publik mungkin menjadi salah satu alasan mahasiswa tidak tertarik bidang pemerintahan. Dalam survei PPS, mahasiswa ditanya kualitas apa yang dipertimbangkan untuk pekerjaan pertama. Hasilnya, peluang untuk perkembangan diri ada di peringkat pertama, diikuti keamanan kerja.

Pemotongan anggaran menyebabkan pejabat pemerintah memangkas gaji pegawai pemerintah di tingkat negara bagian dan lokal. Namun pengurangan gaji tampaknya tidak menjadi alasan utama mahasiswa untuk ‘malas’ bekerja di sektor pemerintahan. Pasalnya berdasarkan survei PPS, kurang dari sembilan persen responden yang memasukkan kategori ‘gaji awal yang tinggi’ sebagai kriteria utama untuk pekerjaan pertama. Demikian seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (8/2/2012).

Di sisi lain, ‘keengganan’ mahasiswa bekerja di sektor pemerintahan, kemungkinan disebabkan angka pengangguran di Amerika, yang mengalami penurunan. Tampaknya mahasiswa optimistis bisa mendapat pekerjaan di sektor swasta.

Namun hal ini berbeda dengan mahasiswa yang lulus dalam kondisi resesi ekonomi, yang justru ingin mencari pekerjaan di bidang pemerintahan. Kini, dengan kondisi ekonomi yang membaik, di mana 250 ribu lowongan kerja tersedia bulan lalu, mahasiswa tentunya memiliki alasan untuk percaya diri mendapatkan pekerjaan di sektor swasta.
(rfa)
  • eddiyabani » 0 Tanggapan
    Rata-rata di negara yang sudah maju rakyat suka bekerja diswasta dibanding pegawai negeri faktor penyebab gaji yang ditawarkan swasta lebih baik,dan mendidik seseorang bagaimana mau maju dan selalu berusaha unutuk maju lain hal dengan pegawaim negeri dia pikir cukup bulan dapat gaji dan cukup umumr pansiun ,tapi bukan semua.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit