Getting Time...

Maulid Nabi, STSI Menarikan Tarian Ibu Hamil

Iman Herdiana
Selasa, 07 Februari 2012 10:42 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
BANDUNG - Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang dilakukan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung lain dari yang lain.

Acara yang dihelat Senin, 6 Februari malam, di halaman STSI Bandung itu dibuka dengan tarian para penari yang berkostum seperti ibu hamil dari Wajiwa Bandung Dance Teater.

Kenapa tarian ibu hamil yang ditampilkan? Di dalam hadisnya, Nabi Muhammada SAW menyampaikan bahwa orang yang harus paling dihormati pertama-tama adalah ibu. Selain itu, peringatan Maulid Nabi SAW itu berbarengan dengan ulang tahun Wajiwa yang keenam. Sehingga, tema yang diusung jadi unik, yakni Maulid Nabi, Keagungan Perempuan.

Para penari melalui gerakannya menggambarkan penderitaan seorang ibu yang akan melahirkan anaknya. Penari yang merupakan mahasiswi seni tari STSI itu juga berkolaborasi dengan seorang penari sufi, Aprianto. Dengan berkostum ala sufi Persia, Aprianto memamerkan tarian yang berputar-putar searah jarum jam.

Aprianto sendiri merupakan penari senior di kelompok tari Wajiwa. Kelompok tari ini pada malam tersebut genap berusia enam tahun.

Usai menyuguhkan tarian, acara Maulid Nabi tersebut diisi dengan diskusi dengan narasumber Profesor Jalaluddin Rakhmat, pakar ilmu komunikasi yang juga dosen Universitas Padjdjaran (Unpad), serta Ketua STSI Bandung Profesor Endang Catur Wati.

Jalaluddin Rakhmat yang akrab disapa Kang Jalal atau Ustad Jalal menyatakan, tradisi peringatan Maulid Nabi sudah dilakukan masyarakat Indonesia sejak lama.

Kata Jalal, peringatan biasanya memadukan unsur agama dan seni, lewat teater, dibuatkan lagu khusus maulid. Yang terkenal misalnya ditulisnya buku Al Barzanzi yang dibacakan dengan iringan musik perkusi.

Jalal menilai, kesenian yang ditampilkan mahasiswa STSI lewat grup Wajiwa merupakan upaya kreatif mahasiswa seni.

"Saya lihat rada-rada post modern, yaitu upaya menciptakan karya seni di luar kaidah modern. Saya kira itu bagus. Itu tema kreatif dengan mengolah tema maulid Nabi tentang perempuan. Kan bosen kalau temanya itu-itu saja," ungkapnya, usai acara, Senin malam.

Dalam diskusi, Kang Jalal menyatakan bahwa bahwa posisi perempuan dalam mitos dan wacana selalu dibesarkan, bahkan didewakan. Misalnya, di Arab jaman jahiliah banyak tuhan yang perempuan, yakni Lata dan Uza.

"Dalam wacana, perempuan itu dipuja-puja dan disanjung. Tapi dalam tataran sosial perempuan dipojokkan dan mendapat diskriminasi," ungkapnya.(rfa)
TWITTER »
twit