Image: corbis.com
ADAKAH di dalam dada kita tertancap rasa optimistis menatap masa depan Indonesia? Harus! Sebab optimistis menjadi keniscayaan untuk menyulut api perubahan hidup bervisi keadilan dan kesejahteraan yang merata.
Kekayaan bumi dan seisinya yang dimiliki bangsa Indonesia harus segera diselamatkan dari praktik pejarahan. Puluhan tahun manusia Indonesia hidup di tengah kekayaan bumi yang melimpah, tetapi masih saja terjerat kemiskinan. Miskin bukan karena malas atau bodoh, tetapi dimiskinkan dan dibodohkan oleh sistem. Sistem yang sengaja dibuat untuk melancarkan persekongkolan dengan otak-otak imperalis.
Meski demikian, apa pun yang terjadi dengan bangsa Indonesia dewasa ini, Indonesia adalah tanah kelahiran kita. Di Bumi Pertiwi inilah sejarah Indonesia diukir oleh nenek moyang dengan tetesan keringat dan nyawa sebagai taruhannya. Dan tugas kita sebagai generasi muda adalah melanjutkan spirit perjuangan para pendahulu untuk mengubah nasib bangsa ini lebih baik.
Walaupun sektor pendidikan, kesehatan dan pemerataan pembangunan ekonomi belum merata hingga ke akar rumput, tak perlu berkecil hati. Dan tak usah banyak menggantungkan masa depan kita dengan pemerintah. Nyatanya selama puluhan tahun pemerintah tak serius mengurus kesejahteraan rakyat. Kita punya cara sendiri untuk bisa hidup mandiri dalam memberdayakan hidup untuk keluarga dan lingkungan di sekitar kita.
Bertahun-tahun penguasa tirani menindas nenek moyang kita dan itu berlanjut hingga sekarang. Dan itu membuat rakyat miskin mati sakjeruning urip. Dimatikan di dalam hidup. Perlakuan ini amat sadis, karena membiarkan orang hidup dalam ketersiksaan. Sementara oknum pejabat berlagak hipokrit demi mendapatkan, melanggengkan kursi kekuasaan, menumpuk kekayaan materi. Praktik haram itu dilakukan demi melayani gaya hidup hedonis.
Adalah sebuah kebanggaan bisa hidup apa adanya, tidak mengada-ada. Kesederhanaan, keuletan, kedisplinan, totalitas dan berani berkorban demi kemaslahatan bersama adalah ruh kita untuk mengubah nasib lebih mujur. Warisan adiluhung itu patut dijaga dan dilestarikan hingga generasi berikut. Berangkat dari pemahaman ini, peradaban baru kita mulai.
Peradaban kita mulai dalam diri sendiri bukan di luar diri kita. Kita tak perlu banyak menuntut orang-orang di luar diri kita. Diri kitalah yang harus dituntut menjadi lebih baik dan arif. Belajar terus untuk mengais ilmu di mana pun berada. Sebab ilmu merupakan bahan bakar perubahan menuju sebuah kepastian. Kepastian laku perubahan yang murni dan tanpa pamrih. Bukan untuk mencari kedudukan dan menumpuk materi.
Implementasi laku hidup demikian itu merupakan upaya riil dalam memancarkan cahaya perubahan, dari kegelapan menuju kebenderangan. Demikian itu merupakan bentuk perlawanan terhadap penguasa yang kian hari terperdaya dengan tipu muslihat dunia. Dunia yang terus menggila dan menggerus rasa kemanusiaan, menindas dan memeras sesama.
Sudah tak terhitung para penguasa menzolimi rasa kemanusiaan. Jika tidak melawan, perubahan menuju kehidupan lebih baik mustahil bisa diraih. Melawan tidak dengan cara anarkis. Itu bukan solusi yag solutif. Sejarah membuktikan perubahan sosial yang diwarnai anarkisme telah telah merugikan kekayaan negara bahkan merenggut banyak nyawa. Adakah konsep revolusi tanpa tumbal atau mengorbankan, menumpahkan darah rakyat tak berdosa? Di sinilah nurani dan rasa kemanusiaan harus dikedepankan sebagai tolok ukur untuk mengadakan perubahan hidup lebih beradab.
Saya percaya bahwa di sekeliling kita masih banyak orang mengimani nurani dan rasa kemanusiaan. Masih ada banyak orang yang ingin berjuang demi Indonesia yang semestinya. Dan orang-orang macam demikian suatu saat akan menemukan momentumnya dalam mereasisasikan idealisme kemanusiaan dan ketuhanannya.
***
Puluhan tahun Indonesia merdeka. Tetapi melihat kondisi yang ada, memaksa kita untuk terus merenung. Masih banyak aib dan kekurangan di berbagai tempat. Tak lupa pula banyak prestasi yang diraih dan itu mesti ditingkatkan sambil memperbaiki kekurangan yang ada. Di samping itu, kearifan, kebijaksanaan, kehati-hatian dalam mengambil keputusan menjadi harga mati dalam mendorong gerak perubahan menuju keberhasilan bersama.
Merebaknya korupsi di berbagai lini, tindakan anarkis yang menjadi agenda tahunan, ketidakadilan sosial, berbagai bencana alam kian menuntut untuk bisa bersikap dan bertindak secara hati-hati dan arif. Untuk melawan berbagai macam tindakan dehumanisasi mulailah dari diri kita sendiri, kalangan kita sendiri dengan menajamkan rasa kebersamaan, senasib dan sepenanggungan.
Jika seandainya rumusan itu benar-benar direaliasikan bukan tidak mungkin pelan tapi pasti Indonesia akan segera bangkit dari keterpurukan, keterjeratan praktik korupsi yang merugikan dan membangkrutkan negara. Bayangkan saja jika masing-masing kita di dalam tempat yang berbeda memulai hal-hal terkecil seperti menerapkan ilmu yang kita peroleh dari bangku sekolah atau kuliah entah dalam hal agama, pedidikan, ekonomi, kesadaran berbangsa dan bernegara dengan prinsip keadaban, keadilan sosial, ketuhanan, maka bukan tidak mungkin hal demikian itu akan melahirkan perubahan berarti bagi bangsa Indonesia.
Maka lawanlah penguasa tirani dengan kecerdikan, kesedernahaan, kerendahan hati, ketulusan dan ketotalitasan dalam bertindak. Seperti tercermin pada Mahatma Ghandi tokoh kebangsaan India yang berhasil menggerakkan massa dan menyingkirkan kesewenang-wenangan para penguasa tanpa pertumpahan darah. Berkat kecerdikan, perjuangan dan kesederhanaan pola hidup Mahatma Gandhi, kehidupan berbangsa dan bernegara menuju kesejahteraan dan ketentraman hidup secara meluas mampu dicapai.
Arif Rahman Hakim
Intelektual Muda NU(//rfa)