Getting Time...

Sekali Teguk Narkoba, Pemuda & Bangsa Jadi Korban

Selasa, 31 Januari 2012 11:01 wib
Foto: dok. pribadi
Foto: dok. pribadi
DEWASA ini marak pemberitaan terkait tragedi maut di halte Tugu Tani. Mulai dari televisi, surat kabar, radio, sampai media online ramai memperbincangkan kejadian naas ini.

Seperti diketahui minggu pagi hari tanggal 22 Januari 2012, mobil Xenia hitam yang dikemudikan Afriyani Susanti menabrak trotoar dan halte di kawasan Tugu Tani. Insiden ini menyebabkan sembilan pejalan kaki tewas seketika serta empat orang lain dalam kondisi kritis di rumah sakit. Usut punya usut, ternyata Afriyani Susanti mengendalikan kendaraannya di bawah pengaruh narkoba. Menurut hasil pemeriksaan tim medis, keempat pengguna mobil tersebut juga positif pengguna narkoba.

Pribahasa "Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui" sedikit menggambarkan kejamnya narkoba. Belajar dari kasus Afriyani Susanti, narkoba yang dinikmatinya dan penghuni mobil naas itu hanyalah memberikan kenikmatan sesaat. Pasalnya, usai pesta narkoba, mereka harus mempertanggungjawabkan tindakannya sebagai pengkonsumsi narkotika. Tragisnya lagi, kasus tabrakaan ini menyebabkan sembilan nyawa melayang serta empat lainnya tergolek di rumah sakit.

Hukuman mental pun digelontorkan oleh publik. Masyarakat merasa gerah dan kesal dengan tindakan Afriyani Susanti. Kecaman itu datang bertubi–tubi menuntut agar Afriyani Susanti dihukum dengan hukuman seberat–beratnya.

Ironis memang, pemuda sebagai generasi penerus dan pewaris bangsa harus tunduk pada narkoba. Padahal sejarah perkembangan dan perubahan negeri ini dimulai dari seorang pemuda. Pemuda dianggap sebagai kalangan yang disegani dan dianggap sebagai inspirator melalui gagasan dan tuntutannya.

Pemuda memang memiliki keingintahuan dan suka dengan hal–hal baru. Namun, apa jadinya negeri ini jika para pemudanya memiliki ketergantungan pada narkoba? Narkoba telah turut serta merusak masa depan anak negeri , sekaligus menyumbang kemunduran bangsa ini. Karena masa depan bangsa terletak di tangan para pemuda negerinya.

Kasus Afriyani Susanti yang mengonsumsi narkoba sambil mengemudikan kendaraan menjadi sebuah tamparan keras sekaligus sebagai pembelajaran hidup yang luar biasa bagi pemuda-pemudi Indonesia. Terbukti, narkoba tidak hanya membahayakan diri sendiri namun juga orang lain. Sebab, sekali meneguk narkoba, pemuda dan bangsa menjadi korbannya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari kasus ini.

Zulvah

BEM Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya 2011/2012(//rfa)
  • Fikha » 0 Tanggapan
    Mahasiswa sekarang it kaya anak tk. Tiap hari tawuran terur g bijaksana. Masa kalah am anak sma yg bs bikin mobil. Yg kreatif dong jangn ky preman
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit