Getting Time...

Kualitas Guru Rendah karena Malas Belajar

Rifa Nadia Nurfuadah
Sabtu, 28 Januari 2012 19:04 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
JAKARTA - Motivasi belajar yang rendah menjadi penghambat dalam peningkatan mutu dan profesionalitas guru.

Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Satria Dharma menyebut, karena fokus pada tugasnya mengajari siswa, kebanyakan guru melupakan belajar untuk meningkatkan kompetensinya.

"Padahal, kalau berani mengajar, maka guru harus berani belajar," kata Satria seperti dikutip dari keterangan tertulisnya kepada okezone, Sabtu (28/1/2012).

Satria mengimbuhkan, implikasi dari rendahnya motivasi belajar di kalangan guru adalah apatisme dalam pembelajaran. Pemicunya adalah ancaman kelulusan pada ujian nasional yang menjadi tujuan utama dalam sistem pembelajaran di Indonesia.

"UN melemahkan sistem pembelajaran bermutu. Guru jadi malas berinovasi dan kreatif," imbuhnya.

Hingga saat ini, IGI masih melihat mutu dan profesionalitas guru sebagai tantangan utama pendidikan nasional. Sementara, program sertifikasi dan peningkatan kesejahteraan guru belum serta merta meningkatan mutu dan profesionalitas mereka.

Padahal, menurut Satria, mutu guru adalah ujung tombak mutu pendidikan nasional. Tanpa guru yang bermutu, pendidikan berkualitas pun akan sulit didapat.
 
"Karena itu, upaya peningkatan profesionalitas guru jangan diganggu kegiatan politik praktis. Banyak guru menjadi korban pertarungan politik dalam pilkada. Bila tidak mendukung salah satu kandidat, seorang guru bisa dimutasi dan demosi. Ini menciderai profesionalitas guru," tegasnya.

IGI, kata Satria, tidak berpolitik praktis. Organisasi guru se-Tanah Air ini sendiri fokus pada  upaya peningkatan mutu dan profesionalitas guru melalui berbagai seminar dan pelatihan.

Selain mengajak semua pihak terlibat dalam pembangunan pendidikan Tanah Air, Satria juga mengimbau anggota IGI untuk tidak berhenti mencari terobosan dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah masing-masing.

"Kita fokus pada peningkatan pendidikan di daerah. Carilah cara terbaik agar seluruh daerah bisa meningkat kualitas pendidikannya," ujar Satria menandaskan.(rfa)
  • DEETJE E. KARU » 0 Tanggapan
    Diklat PLPG yang berakhir tahun ini, tidak menjamin guru menjadi profesional karena dari pengamatan saya,,, yang belum pantas untuk lulus diklat," diluluskan", akhinya dari cara mengajar sebelum profesional, sama saja dengan sesudah mendapatkan sertifikat tenaga yang profesional........
    Beri Tanggapan Laporkan
  • DEETJE E. KARU » 0 Tanggapan
    Pengawasan secara berkala dari pihak diknas atau yang berkompeten dibidang pendidikan, khususnya yang sdh menyandang gelar guru profesional dan mendapatkan imbalan gaji yang besar, harus diberdayakan karena guru yang sudah sertifikasi, tidak mengajar sesuai dengan tuntutan guru profesional......adakah peningkatan kwalitas peserta didik setelah diajar oleh guru prof ???? kembali ke diri kita masing-masing,,, yang harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah di terima. BELUM ADA KESADARAN YANG SESUNGGUHNYA TUK MENJALANKAN PROFESINYA.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • Aan » 0 Tanggapan
    aduh kasian deh para bpk/ibu guru yg slalu jadi kambing hitam rendahnya mutu pendidikan, ortuku kduanya guru smp skr ttp ngajar dg baik, menurut saya yang perlu diperbaiki itu MORAL para Pengelola Pendidikan yg sudah berbudaya BIROKRATIS danKAPITALIS. banyak guru pinter karena kritis malah dipinggirkan dan dikucilkan. ingin tahu bukti di PAKIS kab.Malang, untuk tentukan Guru Berprestasi yg hasilnya nanti akan jadi KS; kriterisnya tdk jelas. Guru berprestasi rangking pertana, tahun 2011 kemarin ikut PSG tidak lulus, bisa lulus krn ikut ujian ulang, tetapi ttp promosi KS.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • bram » 0 Tanggapan
    Setiap kali ada demo u/ peningkatan kesejahteraan guru,rasa nya kok miris bgt..diam2 udah jadi kapitalis..apalagi klo tdk mau meningkatkan mutu pengajaran..pecat aja..yakin!!banyak yg mau ngelamar jadi guru klo cuman orientasi nya materi..saran : klo mau mencari dan menumpuk harta,sebaiknya jadi pengusaha/pedagang..Guru jaman dulu,banyak yg idealis..bukan opportusi
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit