Getting Time...

Kasus Suap Cek Pelawat DGS BI

"Ibu Miranda Cerdas, Tapi Mengecewakan"

Rifa Nadia Nurfuadah
Jum'at, 27 Januari 2012 15:56 wib
Miranda Goeltom (Foto: okezone)
Miranda Goeltom (Foto: okezone)
JAKARTA - Alumnus Universitas Indonesia (UI) ini kecewa pada Guru Besar UI Miranda Goeltom, hingga memutuskan tidak akan menjadi birokrat.

Tantia Dian Permata menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE) UI pada 2006. Dia mengagumi figur Miranda sebagai birokrat perempuan yang mumpuni dalam bidangnya.

"Saya mengagumi Ibu Miranda karena Indonesia tidak memiliki banyak birokrat perempuan yang berprestasi seperti beliau. Pengetahuan dan kapabilitas Ibu Miranda dalam bidangnya outstanding," kata Tantia ketika dihubungi okezone, Jumat (27/1/2012).

Gadis kelahiran 30 Maret 1990 itu berkisah, ekonom handal seperi Miranda-lah yang menjadi salah satu pendorongnya menekuni ilmu ekonomi pada studi sarjananya. Tetapi, Tantia mengaku kecewa ketika mengetahui Miranda ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap cek pelawat Deputi Gubernur Senior (DGS) Bank Indonesia. Kasus ini, kata Tantia,  memengaruhi semua bayangannya atas pribadi Miranda.

"Ini cukup mengecewakan. Saya sampai memutuskan untuk tidak jadi birokrat. Padahal keinginan menjadi birokrat sempat terlintas ketika melihat sepak terjang wanita birokrat di Indonesia," ujar Pemenang Utama Mahasiswa Berprestasi UI 2010 itu.

Tantia menilai, kasus suap yang kini menjegal Miranda tidaklah berhubungan dengan kehidupan akademisnya sebagai guru besar dan dosen di UI. Kualitas fakultas dan universitas pun, imbuhnya, tidak akan terlalu terpengaruh masalah tersebut.

Meski begitu, penyuka renang dan badminton ini mengaku, penilaiannya atas pencapaian-pencapaian Miranda tidak berubah. Tantia tetap menaruh hormat padanya.

"Kasus ini tidak terlalu mengusik saya sebagai anak UI. Beda halnya dengan kasus kisruh tata kelola UI," imbuhnya.

Gadis yang mahir memainkan piano itu memaparkan, kasus ini pun sebaiknya tidak memengaruhi pola pikir mahasiswa UI terhadap dosen-dosen yang sedang bermasalah. Menurutnya, setiap mahasiswa harusnya berpandangan terbuka ketika menuntut ilmu.

"Kita harus menyadari, ilmu itu datang dari mana dan siapa saja," tegasnya.

Sosok Miranda di mata Tantia adalah dosen yang tegas dan lugas. Semua materi pelajaran yang disampaikannya mudah dicerna dan dimengerti.

Selain itu, kata Tantia, ketika mengajar mata kuliah Perekonomian Indonesia di semester lima, tidak pernah sekali pun Miranda mengajarkan para mahasiswanya untuk menghalalkan segala cara demi mendapatkan tujuan.

"Makanya, saya melihat kasus ini terjadi karena Ibu Miranda terpengaruh lingkungan kerjanya untuk melakukan hal yang dirasanya benar saat itu. Saya rasa beliau juga tidak memiliki banyak pilihan," tutur cewek yang fasih berbahasa Inggris dan Jerman itu.

Tantia berharap, kampusnya dapat mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Menurutnya, status guru besar Miranda tidak harus dicabut, mengingat status tersebut adalah penghormatan atas pencapaian akademis seseorang.

"Biarlah Ibu Miranda dihukum sesuai kesalahannya dengan acuan hukum yang tepat," ujarnya menandaskan.(rfa)
  • isenklagee » 0 Tanggapan
    Pinter2 kok ngaco ngomongnya, namanya guru besar tuh panutan, nah dia harus ngasih contoh yg baik, ga bs dibenarkan semua tindakan dia karena ga punya pilihan, cabut status guru besarnya supaya jd peringatan buat dia maupun yg lain, pantes aja ga maju2 nih negara, generasi muda paling pintetnya aj kaya gini
    Beri Tanggapan Laporkan
  • bulkini » 0 Tanggapan
    Banyak sudah contoh lulusan UI yg kemudian jd koruptor saat mahasiswa punya idialisme saat menjabat sama saja. Sungguh sangat d sayangkan padahal rakyat bergantung pd lulusan UI untuk membangun bangsa ini malah jd perusak pd siapa lagi orang2 kecil ini menggantungkan harapan
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit