Image: corbis.com
JAKARTA - Program Higher Education Leadership and Management (HELM) akan merangkul dan mengembangkan kualitas 50 perguruan tinggi di Tanah Air.
Program besutan US Agency for Internasional Development (USAID) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini mengalokasikan dana senilai USD19,7 juta atau sekira Rp170,5 miliar dalam program kepemimpinan dan manajemen universitas.
Spesialis Edukasi USAID Remy Rohadian menyebutkan, proyek tersebut ditujukan bagi 10 perguruan tinggi utama yang telah memiliki nama besar baik secara akademis maupun reputasi.
"Kami mengandalkan 10 perguruan tinggi yang lebih mapan, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kami rangkul dan perkuat mereka sehingga diharapkan mereka dapat membina minimal lima perguruan tinggi lainnya," kata Remy yang ditemui seusai peluncuran program HELM di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (26/1/2012).
Pemilihan 10 universitas sebagai divisi utama, lanjut Remy, tidak dilakukan begitu saja, namun melalui berbagai pertimbangan.
"Kami berkonsultasi dengan Ditjen Dikti. Namun, bisa diasumsikan lewat nama-nama besar universitas, seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), atau Universitas Airlangga (Unair) Surabaya," ujarnya menjelaskan.
Kesepuluh universitas ini selanjutnya diharapkan melakukan pembinaan kepada minimal lima universitas lain yang notabene masih berada di bawah mereka. Baik di sekitar kampus tersebut maupun lintas daerah.
"Jadi, minimal nanti ada 50 perguruan tinggi yang benar-benar kuat sehingga dapat menularkan good attitude program HELM ini," kata Remy.
Remy mengungkapkan, tidak ada paksaan terhadap perguruan tinggi yang nantinya akan diajak sebagai mitra kerja sama proyek HELM ini. Sebab, saat ini perguruan tinggi telah memiliki otonomi, jadi mereka berhak menentukan untuk menjalin kerja sama atau tidak.
"Tapi jika mereka memiliki program yang bisa ditawarkan bagi universitas lain tentu akan sangat baik. Karena sekarang sistemnya, perguruan tinggi yang maju akan semakin maju sementara yang tertinggal tidak akan mampu mengejar. Terutama bagi mereka yang berada di daerah dengan fasilitas dan infrastruktur yang tidak mendukung," ujarnya menerangkan.
Dia menuturkan, proyek HELM bukan sekadar memberikan dana dan berinvestasi pada perguruan tinggi Indonesia. Sejumlah program telah disiapkan untuk meningkatkan pengelolaan tata kelola keuangan di kampus maupun konsultasi untuk peningkatan kurikulum pendidikan di perguruan tinggi tersebut.
HELM sendiri bukanlah proyek pertama AS bagi pendidikan tinggi Indonesia. Sejumlah program serupa sudah pernah ada dan masih terus berlangsung.
"Banyaknya perguruan tinggi di Indonesia baik negeri maupun swasta, yakni sekira 3.000 kampus, tidak mungkin terjangkau melalui satu proyek saja. Maka, dilihat kembali mana perguruan tinggi yang belum terjamah untuk dikembangkan serta memperkuat perguruan tinggi yang telah berkembang," katanya.(rfa)