Getting Time...

Biskuit, Binder Cantik dengan Kulit buah

Rifa Nadia Nurfuadah
Rabu, 25 Januari 2012 10:18 wib
Binder Skin Fruit, binder cantik bersampul kulit buah (Foto: Dok. Biskuit)
Binder Skin Fruit, binder cantik bersampul kulit buah (Foto: Dok. Biskuit)
BISKUIT yang satu ini enggak bisa kita makan. Biskuit ini justru akan membuat penampilan buku catatan kuliah kita menjadi ciamik.

Kok bisa? Sebab, Biskuit yang diperkenalkan lima sekawan dari Prasetiya Mulya Business School (PMBS) ini adalah kependekan dari Binder Skin Fruit, alias binder bersampul kulit buah.

Vincent Julnardo Kuniadi yang bertanggung jawab pada proses produksi Biskuit menjelaskan, kulit buah dipilih ia merupakan limbah yang tidak bisa digunakan secara luas, berbeda dengan plastik maupun kaleng.

"Selama ini kita hanya membuang kulit buah. Padahal dengan menggunakan prinsip reduce, reuse, and recycle (3R), kita bisa memanfaatkan limbah organik ini untuk membuat produk berbasis green technology," kata Vincent ketika berbincang dengan okezone.

Dengan menggandeng empat teman sekelasnya, Vincent pun merancang binder bersampul kulit buah. Binder menjadi produk pertama mereka karena benda ini dipakai banyak kalangan, termasuk mahasiswa dan profesional, untuk menunjang kerja mereka.

Vincent, Louisa Yanuarini Imanuel, Cecilia Martha, Hafiz Hardi, dan Akbar Satria memilih lima buah untuk dimanfaatkan kulitnya menjadi sampul binder. Kelima buah itu adalah salak, melon, jeruk, lemon, dan semangka.

"Lima buah ini kami pilih karena mudah diproses. Selain itu tekstur dan coraknya juga bagus," Vincent mengimbuhkan.

Produk yang tadinya merupakan tugas mata kuliah Teknologi Bisnis itu pun berhasil lolos seleksi untuk ditampilkan pada Entrepreneur Day di kampus mereka. Event ini merupakan kegiatan rutin PMBS untuk mengapresiasi ide-ide bisnis mahasiswa mereka. Tidak hanya itu, produk-produk yang ditampilkan pun dinilai oleh para juri dari berbagai kalangan.

Biskuit dibanderol sekira Rp150-200 ribu. Vincent mengaku, harga itu memang agak mahal mengingat proses produksinya yang tidak mudah.

"Produk ini masih handmade, bukan pabrikan. Mulai dari proses penipisan, pengeringan, hingga pengepresan kulit buah. Selain itu, kami juga masih menggunakan produk orang lain untuk isi bindernya, jadi production cost-nya memang agak tinggi," Vincent memaparkan.

Mahasiswa angkatan 2011 ini mengklaim, meski agak mahal, produk mereka adalah one of a kind. Artinya, satu produk akan berbeda dengan yang lainnya. Hal ini dimungkinkan dengan perbedaan corak tiap kulit jeruk.

Proses pembuatan binder kulit buah dimulai dengan menipiskan kulit buah sehingga berbentuk menjadi lembaran-lembaran. Kulit buah itu kemudian dijemur hingga kering. Selanjutnya, lembaran-lembaran kulit buah kering tadi disatukan dengan mengepresnya sehingga menjadi lembaran lebar. Terakhir, lembaran lebar kulit buah siap dilem sebagai sampul binder.

Animo publik atas Biskuit pun, kata Vincent, cukup baik. Terbukti, usai pameran Entrepreneur Day awal Januari lalu, banyak pengunjung memesan Biskuit. Vincent mengaku, akan kewalahan memenuhi pesanan tersebut. Selain kesulitan modal, teknologi yang mereka gunakan pun masih sangat sederhana.

Ketika membuat prototipe produk untuk dipamerkan di Entrepreneur Day, Vincent dan kawan-kawan merogoh kocek pribadi untuk modal produksi. Mereka juga belum memiliki teknologi pengepresan yang menunjang, seperti yang digunakan bengkel furnitur.

"Saat ini kami masih mengepres dengan menyeterika kulit buah yang sudah dikeringkan. Jika kami memiliki teknologi pengepresan yang baik, kulit buah untuk sampul dapat kami jahit, sehingga lebih kuat," ujar Vincent.

Produksi massal Biskuit, diakui Vincent, belum dapat dilakukan karena kesulitan pada quality control. Pembuatan Biskuit memang rawan kesalahan.

"Saya pernah menyeterika kulit buah sampai agak gosong," kata Vincent sambil tertawa.

Meski berawal dari tugas kuliah, kelima mahasiswa semester pertama ini serius menggarap ide bisnis mereka. Kelimanya mengaku, sedang mengembangkan Biskuit agar dapat dilepas ke pasaran. Pengembangan ini termasuk memproduksi isi binder. Mereka juga berencana membeli mesin pengepresan. Dengan begitu, ongkos produksi dapat ditekan, dan harga jual pun dapat diturunkan.

"Sayang kalau Biskuit berhenti sampai Entrepreneur Day saja. Kami sudah bersusah payah mengembangkan dan membangun ide bisnis ini," kata Vincent menandaskan.(rfa)
TWITTER »
twit