Image: corbis.com
KARYA anak bangsa terus bermunculan. Kali ini, Aloysius Alfa Adji Putra, mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya berhasil menyelesaikan karyanya berupa pintu otomatis.
Inspirasi mahasiswa membuat karya ini sebagai tugas akhir karena banyak mahasiswa yang sering terlambat mengikuti kuliah. Dari situ muncul ide menciptakan pintu otomatis di setiap ruang kelas kampus di kawasan Kedung Baruk tersebut. Hasil karya yang mendapat nilai A ini sekaligus untuk mendukung aturan kampus berupa nol menit bagi mahasiswa.
"Pintu ini terinspirasi banyaknya mahasiswa yang terlambat dalam mengikuti mata kuliah. Padahal aturannya proses pembelajaran untuk mahasiswa masuk harus nol menit," terang alumni SMA Karitas 3 Surabaya ini.
Menurutnya, keberadaan pintu ini sangat efektif. Di samping meningkatkan disiplin mahasiswa, proses pembuatannya juga tak menelan banyak biaya. Pembuatan pintu otomatis ini hanya menghabiskan dana sekira Rp1 juta. Itu pun paling banyak terserap untuk membeli microcontroler. Alat ini sangat penting karena menjadi otak penggerak pintu, kemudian elektrik door serta peralatan-peralatan lain.
Pintu otomatis ini juga tidak membutuhkan beban listrik tinggi karena dalam menggerakkan hanya butuh lima volt. Pintu otomatis ini bekerja tanpa menggunakan kabel (nirkabel).
Sistem kerja untuk mengunci pintu menggunakan wireles (gelombang radio). Selain itu, pengunci pintu dihubungkan dengan sistem yang mengacu pada detak jam dinding atau barang yang difokuskan sebagai tanda masuk.
"Semua sudah kami ujicobakan dan sukses," katanya saat mendemonstrasikan alatnya di depan wartawan.
Pria kelahiran 1987 ini yakin, hasil karyanya bisa dimanfaatkan di semua kantor, seperti STIKOM. Caranya, alat pengunci otomatis dipasang di komputer server. Sedangkan di pintu kelas diberi alat receiver. Kemudian ada petugas yang mengendalikan bernama petugas umum (PU) untuk mengawasi kinerja pintu. Bahkan dosen yang terlambat juga bisa terdeteksi, karena tidak bisa masuk mengajar. Tetapi, lokasi pengendali dengan pintu tidak boleh melebihi 16 meter.
"Jarak ini bisa dikembangkan menjadi lebih panjang," tuturnya.
Mengoperasikan komputer ini mudah sekali. Cukup dengan memasukkan data masa kuliah atau masa kerja, secara otomatis pintu akan bekerja melalui detak atau getaran. Jika jam masuk berdetak, pintu akan mengunci secara otomatis sehingga mahasiswa atau pegawai yang terlambat tidak bisa masuk. Namun dosen dan mahasiswa yang ada di dalam bisa keluar.
"Kalau mau ke toilet bisa, tetapi kalau mau masuk harus menghubungi petugas,"ungkapnya.
Harianto, dosen pembimbing Aloysius mengaku puas dengan karya anak didiknya. Menurutnya, Aloysius layak mendapatkan nilai A karena metode yang dipergunakan sangat bagus yakni memakai wireles. Selain itu, pembuatan alat ini juga tidak membutuhkan biaya banyak.
"Peralatan sangat efektif, karena menggunakan frekwensi," ujar dia.
Sambutan baik atas karya pintu otomatis ini juga di sampaikan Chairman STIKOM Budi Jatmiko, tetapi perguruan tinggi yang dipimpinnya saat ini belum memiliki niat memanfaatkan temuan Aloysius tersebut.
"Saat ini belum ada anggaran pengadaan peralatan ini, mungkin ke depan baru kita pikirkan," ucapnya. (arief ardliyanto/koran si)(//rfa)