Foto: dok. pribadi
PEMBAHASAN tentang mahasiswa dan pemuda tak akan pernah habis. Bagaimana tidak? Merekalah tulang punggung negara, bahkan bangsa ini merdeka pun atas desakan golongan muda. Sehingga pantas jika ada yang mengatakan bahwa dalam setiap kebangkitan zaman, pemudalah yang menjadi pilar-pilarnya.
Mendengar kata pemuda dan mahasiswa, satu kata yang terbesit adalah pergerakan, sebagaimana peran pemuda dan mahasiswa yang merupakan agen perubahan, kontrol sosial, dan cadangan SDM masa depan. Namun pergerakan mahasiswa dan pemuda saat ini telah mengalami pergeseran, bukan pergeseran tujuan, akan tetapi lebih kepada cara atau metode yang dilakukan. Ini terjadi akibat kondisi masyarakat dan pemerintahan yang seiring berjalannya waktu mengalami perubahan, dunia perpolitikan yang semakin dinamis, serta kebebasan berekspresi yang tumbuh subur di era demokrasi ini.
Pada dekade awal reformasi, pola pergerakan mahasiswa - bisa kita katakan pemuda pada umumnya - lebih kepada menjalankan peran kontrol sosial, mereka menjalankan perannya dengan baik. Mengkritik kebijakan pemerintah, menuntut kesejahteraan rakyat dengan aksi turun ke jalan. Bahkan pada 2008, seluruh mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melahirkan Tugu Rakyat (Tujuh Gugatan Rakyat). Ketujuh gugatan itu mencakup nasionalisasi aset strategis bangsa; pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan merata; penuntasan kasus BLBI dan korupsi; kedaulatan di sektor pangan, ekonomi dan energi; jaminan ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok; reformasi birokrasi dan pemberantasan mafia peradilan; serta penuntasan lingkungan Indonesia dan menuntut Lapindo Brantas.
Ini merupakan hal yang positif. Mengapa? Karena aksi-aksi atau pergerakan yang dilakukan tumbuh dari naluri kepedulian dan wujud keprihatinan yang terhadap permasalahan bangsa. Pemerintah pun menganggap mahasiswa sebagai kekuatan yang besar, sehingga kontrol terhadap pemerintah bisa berjalan dengan baik.
Aksi semacam ini masih menjadi alat pergerakan utama mungkin karena pengaruh peristiwa ’98 yang pada saat itu dengan turun ke jalan, mahasiswa bergabung dengan rakyat mampu menjatuhkan rezim Orde Baru yang telah lama bercokol di tahta kepemimpinan RI 1. Mungkin gerakan semacam itu masih menjadi frame pergerakan pemuda beberapa tahun pasca peristiwa ’98, namun kini aksi dengan turun ke jalan atau unjuk rasa kini seakan-akan telah kehilangan peminatnya. Jumlah demonstran semakin berkurang dari aksi ke aksi, entah sudah jenuh dengan model pergerakan seperti itu atau mahasiswa sudah lelah karena tidak ada langkah nyata yang dilakukan pemerintah atau bahkan sangat memprihatinkan jika naluri kepedulian itu yang mulai berkurang.
Namun kini mulai merebak model pergerakan sosial atau sering kita kenal social movement, sebagai bentuk transformasi pergerakan turun ke jalan mengkritisi pemerintah, menjadi kontribusi nyata langsung ke masyarakat. Banyak model gerakan seperti ini sekarang yang sudah me-nasional, seperti Indonesia Mengajar yang digagas Anis Baswedan, Indonesia Berkebun oleh Ridwan Kamil, Indonesia Menanam serta banyak gerakan serupa yang memungkinkan mahasiswa terjun langsung ke masyarakat. Atas dasar keprihatinan dan dengan ide yang dimilikinya, mereka mencoba menuntaskan permasalahan rakyat.
Bahkan Ridwan Kamil mengatakan dalam seminar ‘Kontribusi’ PPSDMS, jika hanya mengandalkan negara saja, maka tidak akan selesai-selesai persoalan yang dihadapi, sehingga - yang merasa - pemudalah yang harus turun tangan karena manusia dilahirkan Indonesia pasti bukan tanpa tujuan, ada maksud tertentu mengapa kita dilahirkan di Indonesia. Dan salah satu maksud itu yakni mengambil peran untuk menyelesaikan polemik dan persoalan yang dihadapi masyarakat di negeri tercinta ini.
Gerakan sosial ini tumbuh begitu pesat, semakin tahun semakin banyak orang yang mendukung gerakan ini. Faktor yang paling mempengaruhi yaitu adanya perkembangan teknologi yang semakin maju seperti Facebook dan Twitter. Melalui media inilah gerakan ini mampu menyentuh nurani yang terdalam bahwa dengan kontribusi yang ‘kecil’ ternyata mampu memberikan manfaat langsung tanpa bantuan pemerintah. Contoh yang paling terkenal adalah kasus ‘Koin Untuk Prita’. Melalui media social network, gerakan ini mampu menjaring banyak pihak baik secara member dalam grup facebook atau pengumpulan langsung yang dilakukan di beberapa daerah.
Social movement memang menjadi model gerakan di era baru di saat mahasiswa mulai berkurang minatnya dengan aksi turun ke jalan ternyata gerakan ini mampu tampil men-transformasikan kepedulian dalam tindakan nyata.
Ginanjar Bagus Nugroho
PPSDMS Angkatan V Regional Bogor
Ketua Forum Mahasiswa Muslim dan Studi Islam FEM IPB Department of Resource and Environmental Economic FEM IPB(//rfa)