Getting Time...

Angkie: Berubah, dari Diri Sendiri!

Margaret Puspitarini
Kamis, 12 Januari 2012 11:43 wib
Foto : Angkie Yudistia/Dede Kurniawan(okezone)
Foto : Angkie Yudistia/Dede Kurniawan(okezone)
MENJALANI hidup dengan segala warna-warninya bukanlah hal yang mudah bagi siapa pun. Apalagi bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Setidaknya hal ini yang dirasakan Angkie Yudistia.

Berbagai prestasi ditorehkan Angkie menjadi pembuktian bahwa keterbatasan sebagai seorang tuna rungu tidak menghalanginya untuk berkarya layaknya orang normal. Mulai dari menyandang gelar S-2 di usia yang terbilang masih muda, menjadi finalis Abang None Jakarta pada 2008, terpilih sebagai model favorit dalam ajang pemilihan di sebuah majalah, serta pendiri Thisable Enterprise, wadah bagi para warga disable.

Semua pencapaian itu diraih Angkie dengan dikelilingi orang-orang terdekat yang begitu mendukung semua kegiatannya. Namun, mahasiswa lulusan The London School of Public Relations (LSPR) ini kerap kali mengalami masa-masa sulit.

"Walaupun dikelilingi keluarga dan orang-orang terdekat yang pengertian dan penuh kasih sayang, aku sering mengalami masa-masa sulit, terutama saat pencarian jati diri. Aku suka bertanya kepada diri sendiri, 'Mengapa aku berbeda dengan yang lain dan akan jadi apa aku nanti?'" ujar Angkie ketika berbincang dengan okezone di sebuah kafe di kawasan Senayan, kemarin.

Dara kelahiran Medan, 5 Juni 1987 ini mengaku, pengalaman semasa sekolah hingga perguruan tinggi membuatnya ragu ketika akan memasuki dunia kerja. Beberapa kali melamar kerja, dara berparas cantik ini terpaksa ditolak karena tidak bisa mengangkat telepon.

Melalui berbagai pengalaman tersebut, Angkie akhirnya menemukan jati diri. "Aku tidak ingin menjadi apa dan siapa, aku hanya ingin menjadi Angkie Yudistia saja dengan segala keterbatasannya," tuturnya ramah.

Tidak jarang semua prestasi Angkie menjadi inspirasi bagi orang lain. Namun, bungsu dari dua bersaudara ini mengaku tidak pernah secara sengaja ingin menjadi sumber inspirasi. "Aku tidak pernah kepikiran menjadi inspirasi bagi orang lain. Ini kan penilaian dari orang lain. Jika ternyata mampu menjadi sumber inspirasi, ya, Alhamdulillah," kata gadis yang bercita-cita menjadi wanita karir ini.

Menurut Angkie, tidak sembarang orang bisa disebut sebagai seorang inspirator. Karena, lanjutnya, banyak orang yang bilang ingin mengubah dunia tanpa melakukan perubahan bagi diri sendiri. "Aku melakukan perubahan dan menolong diriku sendiri dulu. Saat aku merasa sudah berhasil melakukannya, baru dibagi dengan teman-teman lain," kata Angkie mengungkapkan.

Dia berpesan kepada para warga disable lainnya untuk terus berkarya tanpa dibatasi oleh keterbatasan yang mereka miliki. "Kita itu terbatas tapi tidak terbatas (limited but definitely limitless). Artinya, jangan karena kita memiliki keterbatasan lantas membatasi diri untuk berkarya. Bermimpilah setinggi-tingginya," tutur perempuan yang memiliki hobi kerja dan travelling ini.

Peraih S-2 di bidang Marketing Communication itu menyebutkan, pola pikir para disable harus terbuka, bukan hanya meratapi keadaan mereka. "Disable ini sudah bukan permasalahan medis lagi, tapi sudah menjadi masalah sosial. Terus-menerus meratapi diri dengan berharap datangnya perubahan tidak akan membuat kita maju. Untuk maju, perubahan harus datang dari diri kita," kata Angkie mengakhiri pembicaraan.(mrg)(rfa)
TWITTER »
twit