Getting Time...

Merantau, Dani Rela Jadi Pedagang Asongan

Margaret Puspitarini
Minggu, 11 Desember 2011 10:02 wib
Foto : Kamdani Setyawan/Margaret Puspitarini(okezone)
Foto : Kamdani Setyawan/Margaret Puspitarini(okezone)
JAKARTA - Harga yang harus dibayar untuk mengenyam pendidikan di Indonesia sangatlah mahal. Apalagi untuk jenjang pendidikan yang  semakin tinggi. Bahkan, tidak ayal mahasiswa harus rela 'turun tangan' untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

Hal ini yang dialami Kamdani Setyawan, seorang mahasiswa jurusan Agronomi Agrikultra di Institut Pertanian Bogor (IPB). Demi membayar kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya, Dani, begitu dia biasa disapa, rela menjadi pedagang asongan di stasiun.

Dani memulai kuliahnya di IPB melalui program beasiswa. Namun, dalam penyalurannya, beasiswa ini mengalami kemacetan. "Saya masuk IPB melalui sebuah program beasiswa. Namun, di tengah jalan, penyaluran dana beasiswa tersebut macet sehingga saya harus mencari pekerjaan untuk menutupi kebutuhan tersebut," ujar Dani di Ballroom Djakarta Theatre, belum lama ini.

Walaupun penghasilan dengan menjadi pedagang asongan dan penjual baju tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, mahasiswa angkatan 2007 ini tidak pernah meminta uang kepada orangtuanya.

"Orangtua saya ikut program transmigrasi dan sekarang ada di Papua. Karena sudah tua, mereka tidak lagi menjadi petani. Kini, mereka berprofesi sebagai pedagang. Mana tega saya minta kepada mereka," kata pemuda yang hobi bermain sepak bola ini.

Dani menyebutkan, beban untuk membayar tagihan listrik, air, dan makan membuat nilainya menurun. "Biaya kosan memang sudah termasuk dari program beasiswa yang diberikan, namun untuk listrik, air, dan makan, saya tetap harus mencari dana sendiri. Pikiran ini yang membuat saya stres dan membuat nilai saya turun," tuturnya.

Meski harus menjadi pedagang asongan di stasiun atau sesekali menjadi pedagan baju, dia tidak merasa malu atas pekerjaan tersebut. "Saya tidak pernah merasa malu. Selama halal, kenapa tidak? Lagipula, masih ada teman-teman yang juga bekerja sama seperti saya," ujar anak bungsu dari enam bersaudara ini.

Pemuda yang menghabiskan masa remajanya di Merauke, Papua ini mengungkapkan, pihak kampus kerap kali memberikan kemudahan terkait kondisi yang dialaminya. Salah satunya melalui biaya pinjaman bagi mahasiswa yang disediakan oleh masing-masing departemen/fakultas di kampusnya.

"Dosen pembimbing saya sangat baik. Saya sering diberikan pinjaman untuk membayar kebutuhan hidup. Bahkan, kadang program dari departemen/fakultas ini dianggap sebagai pemberian, bukan sekadar pinjaman yang harus dikembalikan," tuturnya.

Berkat informasi dari dosen pembimbing itu pula, Dani mengetahui adanya program beasiswa Sime Darby 2011. Tanpa berharap banyak, dia mendaftarkan diri dan mengikuti serangkaian tes yang diberikan. "Dosen saya memberitahu ada beasiswa Sime Darby. Saya pun mencobanya dan alhamdullilah saya lolos," katanya sembari tersenyum.

Konsekuensi sebagai penerima beasiswa tentu harus selalu menjaga stabilitas Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Hal ini pula yang kadang menjadi beban tersendiri bagi Dani. "Kadang merasa terbebani. Tapi, karena dukungan dari keluarga dan teman-teman membuat saya santai untuk menjalaninya. Menurut saya, setiap pilihan yang besar akan diikuti dengan konsekuensi yang besar pula," ujar pemuda berkulit sawo matang ini.(mrg)
(rhs)
TWITTER »
twit