Image: corbis.com
JAKARTA - Ternyata data artefak kebudayaan Indonesia dapat menjadi rujukan dalam kajian mitigasi bencana di Tanah Air.
Hal ini dibuktikan oleh para peneliti dari Indonesian Archipelago Culture Initiative (IACI) yang bekerja sama dengan Bandung Fe Institute (BFI).
Mereka mendata sekira 15 ribu data artefak budaya Indonesia. Dengan dasar teori geometri dengan konsep fraktal, para ilmuwan muda ini mencoba menjelaskan hubungan keberagaman budaya dengan pola mitigasi bencana di Indonesia.
Pendataan dilakukan atas 15 ribu lebih artefak budaya Indonesia yang dikumpulkan dan dibagi ke dalam 16 kategori utama.
Baru-baru ini, mereka memaparkan hasil pendataan tersebut di depan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam (BSB) Andi Arief di kantor Sekretariat Negara.
Wakil BFI dan IACI, Rolan M Dahlan, menjelaskan konsep fraktal merupakan teori tentang bentuk yang tidak teratur, namun memiliki sifat kemiripan dengan diri sendiri.
Konsep ini digunakan untuk menjelaskan tingkat keberagaman budaya yang sangat tinggi di Indonesia.
Menurut BFI dan IACI, keanekaragaman budaya yang ditandai dengan banyaknya variasi suku, etnis, bahasa, dan agama melatarbelakangi eksistensi jutaan artefak budaya di Indonesia.
Hal itu tercermin dalam keragaman arsitektural, motif, lagu, masakan tradisional, dan lain sebagainya.
Rolan memaparkan, fraktal dapat menjawab representasi hubungan kesamaan atau perbedaan dalam variasi artefak budaya Nusantara, termasuk dalam pola-pola migrasi yang tercatat dalam artefak akibat terjadinya bencana alam di masa lalu.
BFI juga memaparkan 24 karya penelitian mitigasi bencana alam di berbagai jurnal internasional. Mereka memanfaatkan perkembangan terbaru dalam bidang matematika, fisika, kimia, komputer, biologi evolusioner, dan bidang lainnya.
Penemuan BFI dan IACI ini disambut positif oleh Andi Arief. Menurutnya, penemuan para peneliti muda tersebut adalah karya luar biasa.
"Dengan memanfaatkan teori matematika dan ilmu komputasi, para peneliti ini bukan saja mendata tapi juga meneliti dan mengaplikasikan hasil penelitian mereka dalam membuat puluhan software edukasi budaya. Ini merupakan inovasi dan pilihan baru untuk sarana edukasi masyarakat dan pelajar dalam mempelajari kebudayaan Indonesia," ujar Andi seperti dikutip dari keterangan tertulisnya kepada okezone, Kamis (8/12/2011).
Andi berharap, terobosan tersebut bisa menjadi awal dari revolusi sains serta transformasi sosial dan ekonomi. Dia menilai, perlu ada revitalisasi budaya ke arah mitigasi untuk menghadapi kembali potensi berbagai bencana besar yang dulu pernah menenggelamkan peradaban-peradaban besar di Indonesia.
Para peneliti muda ini akan memaparkan temuan mereka kepada para pemegang kebijakan dan tokoh-tokoh nasional di Binagraha pada 12 Desember mendatang.
Tidak hanya itu, untuk melengkapi formasi Mitigasi Bencana Alam dengan menggali nilai-nilai kearifan lokal dan Budaya Indonesia, mereka juga menggagas Gerakan Nasional Sejuta Data Budaya dengan memanfaatkan teknologi web 2.0 yang bersifat interaktif. Masyarakat bisa mengaksesnya di laman www.http://budaya-indonesia.org.(rfa)