Image: corbis.com
BEIJING – Indeks Kutipan Ilmu Pengetahuan (SCI) melansir, sekira 10 persen penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia pada 2010, berasal dari China. SCI merupakan sistem indeks tesis terkemuka di dunia.
Hal ini terangkum oleh Institut Ilmu Pengetahuan dan Informasi Teknik China (ISTIC) yang disusun dalam laporan bertajuk Data Statistik Penelitian China (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) 2011.
Menurut laporan tersebut, China memproduksi 836.300 makalah ilmu pengetahuan dan teknologi pada 2001 hingga 1 November 2011. Dari sana, China berhasil mengumpulkan 5,19 juta kutipan. Hal ini membuat China masuk peringkat ke tujuh dalam daftar negara dengan kutipan tertinggi di dunia. Sementara, jika hanya dihitung pada 2010, China berada di peringkat ke delapan.
Pada 2011, penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan peneliti asal China rata-rata ada 6,21 kutipan. Dibandingkan tahun lalu, kutipan ini meningkat 5,8 persen. Namun menurut laporan tersebut, jumlah ini masih di bawah rata-rata dunia, yakni 10,71 kutipan.
Direktur ISTIC, He Defang mengatakan, peningkatan kutipan ini menunjukkan perkembangan penelitian ilmiah di China.
“Angka penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi dan rata-rata kutipan mereka merupakan refleksi dari keahlian ilmiah yang dimiliki negara,” jelas He seperti dikutip dari China Daily, Selasa (6/12/2011).
Dalam 10 tahun terakhir, tingkat kutipan penelitian ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan China meningkat rata-rata 30 persen setiap tahun. Ini lebih tinggi dibandingkan SCI, yang peningkatannya hanya 19 persen setiap tahun.
“Di luar angka-angka tersebut, kualitas dan tingkat kutipan dari penelitian kami juga meningkat. Pada tingkat kutipan, kemungkinan kami akan menjadi yang terbaik kelima di dunia pada 2014, atau enam tahun lebih cepat dari rencana kami,” tambah He.
Sebelumnya pada Maret, Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Inggris, Royal Society menerbitkan bahwa China, Brasil, India dan negara lainnya kemungkinan akan menjadi kekuatan ilmiah untuk menandingi Amerika Serikat.
Namun laporan ini mengatakan bahwa negara-negara tersebut kurang kuat fondasinya dalam ilmu pengetahuan. Karena itu disimpulkan bahwa kenaikan jumlah kutipan asal China tidak mencerminkan peningkatan pesat dalam hal investasi atau publikasi China sebagai suatu bangsa.
Sementara itu, Direktur Akademi Ilmu Pengetahuan China, Sun Song menghimbau para ilmuwan agar lebih memperhatikan kualitas makalah penelitian daripada kuantitas.
“Ada beberapa hambatan untuk mengejar kualitas. Sebagai contoh, ketika Anda menawar untuk proyek penelitian, menerbitkan sejumlah penelitian adalah hal yang harus dilakukan. Jadi beberapa peneliti dapat mengambil apa yang seharusnya ditulis dalam satu penelitian dan membaginya menjadi beberapa makalah hanya untuk memenuhi persyaratan. Hal inilah yang menurunkan kualitas dari penelitian,” jelas Sun.(rfa)