Prosesi pengukuhan tiga profesor riset LIPI (Foto: Margaret P/okezone)
JAKARTA - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menambah koleksi profesor risetnya. Tiga profesor baru mereka berasal dari bidang ilmu berbeda, yakni Oseanologi, Hidrologi, dan Geofisika Terapan.
Pengukuhan terhadap tiga profesor riset ini dilakukan di Widya Graha LIPI, Jumat (11/11/2011). Di hadapan para tamu undangan yang berasal dari kalangan akademisi, ketiganya memaparkan hasil riset mereka.
Sekira pukul 13.42 WIB, upacara pengukuhan dimulai dengan iringian tiga calon profesor bersama para profesor LIPI lainnya. Prosesi ini diiringi lagu Padamu Negeri dan Indonesia Raya.
Pembukaan upacara diawali oleh Ketua LIPI, Lukman Hakim yang mempersilakan ketiga calon profesor memamparkan hasil penelitian mereka.
Edi Prasetyo Utomo, salah satu peneliti pada pusat penelitian Geoteknologi, memaparkan orasi berjudul Geofisika Tahanan Jenis: Pendalaman, Pengembangan, dan Penerapan pada Bidang Geologi Teknik dan Eksplorasi Sumber Daya Kebumian.
Edi mengungkapkan, metode Geofisika tahanan jenis sangat membantu penelitian. Terutama, yang terkait dengan perubahan di bawah permukaan yang relatif dangkal, seperti tanah longsor, air tanah, dan sumber daya mineral.
"Perpaduan metode tahanan jenis dan metode Geofisika lainnya, dapat digunakan untuk eksplorasi sumber daya mineral maupun sumber daya energi. Di antaranya, cebakan migas dan batu bara," ujar lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tersebut, Jumat (11/11/2011).
Dalam bidang Hidrologi, Robert M Delinom dikukuhkan melalui penelitian berjudul Strategi Pengelolaan Air Tanah di Daerah Perkotaan. Kondisi air tanah di perkotaan yang mengkhawatirkan menjadi alasan Robert memilih penelitian ini.
"Permasalahan air tanah di perkotaan di pengaruhi oleh beragam faktor. Mulai dari perubahan iklim global, jumlah penduduk, hingga kegiatan industri," kata peraih gelar S-3 di Chiba University, Jepang tersebut.
Pria kelahiran Prabumulih, 8 Juli 1954 ini menuturkan, pengelolaan air tanah yang tepat menjadi jawaban untuk menangani masalah tersebut. Di antaranya dengan menentukan zona lahan (land zoning) dan perkiraan bencana alam yang akan terjadi.
"Pengambilan air tanah melebihi kapasitas yang tersimpan dalam suatu cekungan menyebebkan ketidakseimbangan neraca air. Maka, keseimbangan pasokan dan konsumsi air tanah di daerah cekungan sangat penting," katanya menjelaskan.
Sementara dalam bidang Oseanologi, Dwi Eny Djoko Setyono dikukuhkan melalui penelitian bertajuk Biologi dan Inovasi Teknologi Budidaya Abalon Tropis untuk Meningkatkan Produksi Perikanan di Indonesia.
Menurut Dwi, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk membudidayakan siput abalon tropis.
"Abalon memiliki daya tahan tinggi terhadap perubahan lingkungan, mudah dipelihara, dapat tumbuh dengan cepat, biaya tenaga kerja murah, dan sumber daya pakan melimpah," ujarnya.
Inovasi teknologi budi daya abalon tropis, lanjutnya, masih perlu dikembangkan dan disempurnakan. Terutama peran serta dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian kelautan.
"Peran perguruan tinggi dan lembaga penelitian sangat diperlukan terutama untuk mendukung dan menjamin keberhasilan inovasi dan pengembangan budi daya abalon tropis di Indonesia," katanya.(rfa)