Getting Time...

UGM Pimpin Konsorsium Internasional

Riani Dwi Lestari
Selasa, 25 Oktober 2011 19:07 wib
foto: ugm.ac.id
foto: ugm.ac.id
YOGYAKARTA - Seperti yang kita tahu, berbagai wilayah di dunia tengah dilanda krisis energi, keterbatasan pasokan air, hingga ancaman tata ruang dan wilayah yang dieksplor terlalu berebihan.

Dengan kondisi tersebut maka pengelolaan sumberdaya alam secara lebih efisien dan berkelanjutan mendesak dilakukan dengan melibatkan banyak pihak. Untuk itu Hal inilah yang menjadi salah satu fokus pembahasan dalam pertemuan Center for Natural Resources and Development (CNRD) di UGM, Selasa (25/10/2011).

CNRD sendiri merupakan program networking dari konsorsium 11 universitas dari benua Amerika latin, Eropa, Asia dan Afrika yang bergerak di bidang kajian dan pengelolaan sumberdaya alam. UGM merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia dalam network tersebut.

Selain Indonesia, network ini terdiri dari perwakilan universitas di Nepal, Vietnam, Jordan, Mesir, Mexico, Chili, Brazil, Mozambique, dan Jerman. Demikian dikutip situs UGM, Selasa (25/10/2011).

Dosen Fakultas Geografi UGM Junun Sartohadi yang baru saja terpilih menjadi pemimpin konsorsium CNRD sampai satu tahun ke depan mengatakan, selain membahas berbagai program penting terkait pengelolaan sumberdaya alam para peserta dari perwakilan 11 universitas yang hadir juga akan melakukan kunjungan lapangan potensi sumberdaya alam Yogyakarta dari Gunung Merapi sampai Pantai Parangtritis.

"Memang salah satu topik pembahasan utama pada forum ini yaitu mengenai ketersediaan sumberdaya alam dan energi dunia serta langkah-langkah penyelamatannya," kata Junun.

Sementara itu, Dekan Fakultas Geografi, Suratman mengaku,  memberikan dukungan yang penuh untuk pengembangan program tersebut dengan memberikan kesempatan pada mahasiswa S2 dan S3 untuk mengambil mata kuliah dan mengerjakan penelitian di Jerman, Brazil dan Nepal.

Menurut Suratman, UGM juga mengirimkan dosen untuk mengajar ke negara partner antara lain ke Mexico, Brazil, Nepal, Vietnam dan Jerman.

"Kita bisa mengirim dosen untuk mengajar negara mitra maupun bagi mahasiswa S2 dan S3 untuk ambil mata kuliah dan penelitian di sana," tuturnya.
(rhs)
TWITTER »
twit