Deanna Jones, Mahasiswi Tuna Netra Mampu Taklukkan Pengadilan

Selasa, 09 Agustus 2011 16:36 wib | Hanna Meinita - Okezone

Deanna Jones, Mahasiswi Tuna Netra Mampu Taklukkan Pengadilan Ilustrasi pengadilan. (Foto: Corbis) MIDDLESEX – Deanna Jones, mahasiswi dengan kondisi tidak bisa melihat (tuna netra) berhasil memenangkan kasusnya sendiri. Pada Juli, Jones menggugat Konferensi Nasional Penguji Pengadilan (NCBE) karena dilarang menggunakan komputer dengan software akses layar saat ujian. Padahal software tersebut biasa digunakan mahasiswi pascasarjana ini saat membaca di bangku kuliah.
 
Dalam gugatannya, Jones menuding NCBE melanggar UU Amerika untuk Kaum Cacat. Jones merupakan mahasiswi di Vermont Law School yang ingin mempraktekkan hukum kecacatan. Agar bisa menjalankan praktek di Vermont, dia harus mengikuti ujian tanggung jawab profesional antar negara bagian (MPRE).
 
NCBE menolak permintaan Jones karena tingkat keamanan tes elektronik dinilai lebih berbahaya ketimbang dengan tertulis. Organisasi ini menawarkan Jones mengikuti ujian tes Braille, dengan huruf yang diperbesar dan menggunakan suara dari CD.
 
Namun hakim federal tidak menerima alasan kampus. Mereka memutuskan menerima permintaan Jones. Berbekal perintah hakim federal, Jones telah mengikuti tes dan diawasi secara ketat oleh pengawas dan perwakilan dari perusahaan penguji.
 
Jones mengaku sangat emosional ketika akhirnya bisa ikut ujian. “Saya pikir saya melakukannya dengan baik. Saya merasa bisa melewatinya,” jelasnya. "Sulit dipercaya apa yang harus saya alami agar bisa duduk di kursi itu.”
 
Dalam putusannya, Hakim Pengadilan Distrik Christian Reiss menyebut, "Kepentingan publik memaksa pengadilan untuk memberikan akomodasi terbaik guna menjamin akses bagi penyandang cacat mengikuti ujian profesional yang akan menentukan apakah dia bisa mempraktekkan profesi pilihannya.” Demikian seperti dikutip dari AP, Selasa (9/8/2011).
 
Kondisi Jones telah lama diuji. Dia mengalami kebutaan sejak usia lima tahun. Saat itu, dia tidak tahu bahwa dirinya tidak mampu belajar. Dia menggambarkan masa sekolahnya di sekolah Hightstown, NJ sebagai masa sulit. Selama sekolah, dia terus dibantu sang ibu. Bahkan Jones dropped out dari kampus pada tahun pertama karena IPK-nya hanya 0,92.


Pada usia 30-an, segalanya berubah. Dia belajar bahwa terjadi degenerasi makula pada setiap matanya. Dia juga baru mengetahui tidak punya kemampuan belajar.


Pada awal 2000, Jones belajar tentang software komputer yang memungkinkan dia bisa membaca yaitu The ZoomText Magnifier/Reader. Dia pun kembali ke perguruan tinggi.
 
“Jadi ketika saya ke Vermont College dengan software itu, saya bisa memindai buku apa pun di dunia dan membacanya. Itu tidak bisa dipercaya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup, saya bisa membaca buku. Ini sangat menakjubkan," katanya dengan air mata menggenang.
 
Saat menempuh pendidikan sarjana, Jones menghidupkan kembali impian masa kecilnya untuk belajar sekolah hukum. Dia tidak tahu persis apa yang dia akan lakukan sebagai pengacara. Dia berpikir untuk bekerja dengan perguruan tinggi dan sekolah hukum untuk memberikan pelatihan sensitivitas untuk penyandang cacat. Sejauh ini, dia punya nilai untuk membuktikan kesuksesannya, IPK-nya sebesar 3,28.
(rhs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia

Tahun ini Republik Indonesia memasuki usia 69 tahun. Bagaimanakah anak muda memaknai dan mengisi kemerdekaan Tanah Air? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 15-22 Agustus 2014 dengan tema "Kemerdekaan di Mata Anak Muda Indonesia" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »