Gubes ITS : Membaca Bantu Temukan Dunia Baru

Rabu, 20 Juli 2011 13:58 wib | Margaret Puspitarini - Okezone

Gubes ITS : Membaca Bantu Temukan Dunia Baru Foto : Guru Besar ITS ke-100 Prof. Dr. Ir Abdullah Shahab/ITS JAKARTAMenilik lebih jauh perjalanan seorang guru besar (gubes) sebuah universitas dapat memberikan inspirasi tersendiri bagi orang lain, tidak terkecuali mahasiswa. Berikut kisah sukses Guru Besar ke-100 Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Prof. Dr. Ir. Abdullah Shahab.  
Shahab dinobatkan sebagai menjadi Guru Besar Teknik Mesin ITS minggu lalu sejak pengabdiannya selama 12 tahun di kampus perjuangan tersebut. Selama itu pula, ayah tiga anak ini mendedikasikan seluruh perhatiannya demi memajukan ITS.
 
“Saya besar di lingkungan pendidikan, ayah saya guru. Oleh karena itu, saya turut terpanggil untuk menjadi pengajar,” ujar Shahab seperti dilansir dari ITS online, Rabu (20/7/2011).
 
Pria yang menghabiskan masa kecilnya di Lawang, Malang mengaku, dibesarkan dalam keluarga dengan pendapatan rata-rata. Bersama sembilan saudaranya, ayah Shahab yang seorang guru, hanya mampu memberikan kehidupan sederhana bagi mereka.
 
“Saya ingat ibu saya bilang, ayah saya memang tidak pandai mengumpulkan uang. Tapi, ayah saya pandai mengumpulkan buku untuk kami. Bukunya ekstensif, tidak terbatas satu jenis buku saja,” tutur bungsu dari 10 bersaudara ini.
 
Pria yang mendapat gelar doktor dari Ecole Centrale de Nantes Perancis ini mengaku, banyak belajar lewat buku koleksi ayahnya. Baginya, dengan membaca dapat menemukan dunia yang bahkan belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Maka tidak heran, demi memuaskan keinginannya membaca, Shahab rela menyisihkan waktunya sebanyak dua hingga lima jam dalam satu hari hanya untuk membaca.
 
Meski kini telah menyandang gelar Guru Besar, dia merasa tidak ada perubahan yang berarti. “Guru Besar bukan sesuatu yang diberikan tiba-tiba, tapi melalui proses sedikit demi sedikit,” katanya menjelaskan. Secara jujur Shahab pun mengaku, sedikit enggan dengan urusan prosedural untuk menjadi seorang Guru Besar.
 
Menurut Shahab, usianya yang menuju enam dasawarsa tersebut sedikit terlambat dalam mendapat gelar Guru Besar. Dia pun berpesan agar para doktor di ITS untuk segera menyusul menjadi Guru Besar. “Semakin cepat menjadi Guru Besar, maka masih banyak waktu tersisa untuk mengabdikan diri untuk dunia pendidikan dan penelitian,” kata pria kelahiran 17 April 1952 ini menambahkan.
 
Akhirnya, dengan bijak Shahab memberikan petuah, yakni pentingnya harapan dan mimpi dalam mengembangkan diri dan cita-cita. Namun, dia pun memiliki filosofi sendiri untuk mensyukuri nikmat dari Sang Kuasa. “Jangan berharap banyak, maka kamu akan mendapat banyak,” pesannya.
(rhs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

SPEAK UP

Mahasiswa dan Suara Politik

Dalam urusan memilih pemimpin, apakah suara mahasiswa dalam pemilu juga penting dan ikut menentukan nasib bangsa di masa depan? Kirimkan pendapatmu melalui rubrik Suara Mahasiswa periode 29 Juni - 6 Juli 2014 dengan tema "Mahasiswa dan Suara Politik" ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.
. Jangan lupa sertakan data diri dan fotomu yang paling gaya, ya.

BACA JUGA »