Image: corbis.com
INDUSTRI kreatif terus berkembang pesat, termasuk industri penerbitan. Namun, tak seperti jurusan lainnya, jurusan penerbitan hingga kini masih sepi peminat. Era industri kreatif yang baru tumbuh beberapa tahun belakangan ini terbukti mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Fenomena ini kemudian mendorong munculnya kelompok masyarakat baru,yaitu masyarakat kreatif. Kelompok masyarakat inilah yang lantas menyandarkan kehidupannya pada kreativitas mereka. Kementerian Perdagangan telah mengategorikan 14 bidang industri yang masuk dalam kelompok sektor industri kreatif ini, di antaranya penerbitan. Penerbitan merupakan industri kreatif yang kini tengah melebarkan sayapnya dan merupakan perpaduan antara aktivitas intelektual, akademik, dan karya.
Sayangnya, perkembangan industri ini tidak berbanding lurus dengan ketersediaan tenaga kerja. Lihat saja, sampai saat ini hanya ada dua politeknik yang menyediakan program studi penerbitan, yakni Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Sementara, di negara tetangga, Malaysia, program studi penerbitan telah tersedia hingga ke tingkat S-3. “Beberapa universitas di Malaysia memang menyediakan jurusan penerbitan sampai ke jenjang doktor. Namun, untuk masalah praktik bisnis di bidang penerbitan masih kalah jauh dengan Indonesia,” ujar Ketua Forum Editor Indonesia Bambang Trimansyah atau lebih dikenal dengan nama Bambang Trim.
Bambang bercerita, ketika Ketua Jurusan Pengkajian Media dari University Malaya, Dr Hamedi Moh Adnan, bertandang ke Indonesia, dia mengaku cukup terkejut dengan kemajuan penerbitan buku di Tanah Air, baik dalam hal editorial, produksi, maupun pemasaran.
Buku asing yang terbit di luar hanya dalam rentang beberapa bulan telah terbit versi Indonesianya. Keadaannya sangat berbeda dengan di Malaysia. Dikatakan Hamedi, desain-desain perwajahan isi dan sampul buku Indonesia sangat trendi, dan berbeda jauh dengan buku-buku terbitan Malaysia yang masih berkutat dengan model lama.
Buku laku di Malaysia masih pada tiras 3.000 eksemplar dalam rentang waktu beberapa tahun,tetapi di Indonesia kini muncul buku-buku pemecah rekor jual di atas 50.000 eksemplar. “Misalnya buku karangan Tung Desem Waringin dan Moamar Emka,” imbuh Bambang. Dengan makin bergeliatnya perbukuan di Indonesia, bidang ini masih sangat kekurangan tenaga ahli. Kendati demikian, tampaknya calon mahasiswa telah mulai melirik jurusan ini.
Hal ini terlihat dari jumlah peminat program studi penerbitan di PNJ yang terus berkembang setiap tahun. Menurut Ketua Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan PNJ Cecep Gunawan, PNJ menerapkan aturan tersendiri. Bagi mahasiswa semester 1-3 yang tidak lulus, mahasiswa tersebut terancam drop out. Sementara mahasiswa di semester 3-6 yang tidak lulus diminta untuk mengambil cuti akademik dan harus mengulang mata kuliah yang tidak lulus di semester bersangkutan beserta mata kuliah lain di semester tersebut.
Adapun di Polimedia yang membuka tiga program studi, yakni teknik grafika, penerbitan, dan desain grafis. “Yang berminat di jurusan penerbitan semakin bertambah,” kata Direktur Polimedia Bambang Wasito Adi Sh MSc. Jurusan penerbitan, lanjut Bambang, berupaya mencetak lulusan dengan profil menjadi penulis dan penyunting berwawasan bisnis dan teknologi.
Program ini dirancang untuk menyiapkan mahasiswa agar mampu menerapkan kreativitasnya dalam berwirausaha dan berorganisasi sebagaimana diperlukan dalam mengelola tahapan produksi berbagai jenis terbitan. “Sehingga ketika lulus nanti, lulusan Polimedia mempunyai beberapa kompetensi,” ujar Bambang yang mengambil gelar master manajemen perencanaan di Bradford University, Inggris, ini.
Kompetensi tersebut di antaranya lulusan mampu menciptakan kreasi editing dan penulisan aplikasi kebutuhan industri kreatif penerbitan, periklanan, televisi, broadcasting, game, video, hingga seni pertunjukan dan musik. Karena program vokasi mengarahkan mahasiswa untuk mempunyai kemampuan penalaran dan keterampilan masalah praktis, tentu pengajar di Polimedia diisi tenaga praktisi.
Para praktisi tersebut dari penerbit terkemuka, seperti Gramedia. Sama halnya dengan di PNJ, menurut Direktur PNJ Prof Dr Ir Johny Wahyudi Soedarsono DEA, porsi dosen yang merupakan praktisi jumlahnya lebih banyak yakni sekira 85%. Tentunya ketersediaan tenaga pengajar diikuti dengan fasilitas yang memadai. PNJ memiliki beberapa laboratorium dan bengkel kerja.
Sementara Polimedia dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang berfokus pada kebutuhan akademis yang dinamis. Di antaranya, mesin pracetak dan mesin cetak empat warna, mesin finishing dan binding, studio fotografi, studio desain, laboratorium penerbitan, simulasi penerbitan, hingga pusat kewirausahaan dan layanan bisnis. Ke depan, Polimedia berencana memberikan sejumlah beasiswa kepada putra-putri daerah untuk kuliah di politeknik ini.
Bambang Wasito Adi melihat perbukuan di beberapa daerah sedang berkembang, tetapi hal ini lagi-lagi tidak diikuti dengan ketersediaan tenaga ahli di bidang penerbitan. “Kami berharap nantinya putra-putri daerah ini mempunyai potensi bagus untuk mengembangkan daerah mereka masing-masing,” tuturnya. (sri noviarni/sindo) (//rfa)