Getting Time...

Mahasiswa dan Alternatif Gerakan Perubahan

Senin, 30 Mei 2011 18:15 wib
Image: corbis.com
Image: corbis.com
SEORANG pemikir Islam, Hasan Al-Banna pernah mengatakan sejak dulu sampai sekarang pemuda adalah pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda adalah rahasia kekuataannya. Dalam setiap fikroh, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

Dalam setiap pergantian zaman, gerakan mahasiswa selalu menjadi primadona bagi banyak kalangan. Bukan tanpa sadar menjustifikasi itu. Hampir setiap periode penting kebangsaan, gerakan kaum muda (baca: gerakan mahasiswa) menorehkan banyak prestasi gemilang. Mereka dianggap sebagai unsur strategis pengusung isu kerakyatan.

Meski banyak juga kalangan mencibir, gerakan mahasiswa bagai seorang koboi. Koboi yang masuk kota penuh bandit, lalu memberantas kejahatan bandit. Ketika selesai tugasnya, sang koboi pergi menghilang. Tinggal masyarakat mencari siapa jagoan yang berani membunuh bandit. Pandangan ini dilontarkan seorang pemikir dan pejuang mahasiswa, Soe Hoek Gie.

Mahasiswa sendiri dipandang strategis karena memiliki kemampuan berpikir dan bertindak kritis. Sejarah 1966, 1974, 1978, 1998 dapat dikatakan periode emas mahasiswa. Terlepas perdebatan akademik banyak kalangan, dari banyak periode emas agaknya gerakan reformasi dapat dikatakan paling fenomenal.

Perlawanan “mengusir” Soeharto yang asyik menikmati kursi presiden selama 32 tahun mencapai puncak. Keresahan elemen masyarakat dimanfaatkan baik mahasiswa. Mereka mulai bergerak mengusung isu kerakyatan melalui gerakan parlemen jalanan. Aksi mahasiswa mendapat dukungan dosen, buruh, petani dan budayawan. Rakyat dan mahasiswa bersorak tepat 21 Mei 1998. Soeharto resmi melepaskan gelar presiden alias lengser keprabon.

Usai meruntuhkan Soeharto, mahasiswa kembali ke kampus. Mereka kembali meramaikan bangku kuliah sebagai pekerja akademis. Pascakampus sebagian “pahlawan mahasiswa” (baca: aktivis) bangkit bergerak mengisi posisi strategis lembaga pemerintahan. Terbukanya kran kebebasan memunculkan banyak partai politik. Para politisi mahasiswa berhasil “mendompleng” parpol dan muncul sebagai ikon “pelayan pemerintah” berjiwa muda.

Meski begitu, tak semua aktivis mau memilih politik sebagai sarana perjuangan baru. Sebagian justru enggan melepaskan idealisme khas “anak muda”. Mereka akhirnya menerjunkan diri di ranah LSM, lembaga kajian, dosen dan aktivis jalanan (baca: demonstran). Mereka bergerak mengusung ikon perlawanan yang ironisnya terpecah dalam berbagai kelompok gerakan. Masing–masing sibuk terjebak politik klaim–mengklaim sehingga kehilangan arah. Meski terkadang, dalam beberapa kesempatan mereka bertemu dalam sebuah isu yang sama.

Pascareformasi, mahasiswa dilanda degradasi gerakan. Mereka tidak lagi menakutkan bagi kalangan pemerintah. Setiap protes penolakan mahasiswa sering  dianggap angin lalu oleh penguasa. Salah satu sebabnya adalah pemerintah membuat kebijakan yang mengembalikan fragmatisme gerakan mahasiswa. Membanjirnya beasiswa, kebijakan akademik yang ketat, turunnya dukungan rakyat terhadap aksi mahasiswa dipandang sebagai faktor utama sepinya dinamisasi gerakan mahasiswa.

Periodesasi sekarang mahasiswa dihadapkan kultur baru gerakan yang berbeda dengan zaman sebelumnya. Jika masa sebelum reformasi wajar banyak demonstrasi terjadi sebab saluran aspirasi terputus. Ditambah sikap represif Orde Baru yang memasung kebebasan berpikir, berbicara dan bertindak sehingga menghasilkan gerakan frontal reformasi. Tapi pergantian zaman mengubah segalanya, sekarang gerakan aksi semakin meluas. Penulis menangkap setidaknya terdapat tiga tren baru gerakan mahasiswa.

1. Gerakan Mahasiswa Berbasis Riset

Semakin hari persoalan rakyat Indonesia semakin kompleks. Naiknya harga sembako, melambungnya BBM dan krisis ekonomi membuat masyarakat dilanda putus asa. Di tengah kegelisahan itu, mahasiswa sebagai kaum intelektul mendapat tugas sejarah memberikan solusi terhadap problematika masyarakat. Tantangan itu menjadi sebuah kesempatan mahasiswa untuk mulai menggalang gerakan berbasiskan riset.

Aktivitas riset/penelitian sendiri dianggap sebagai sebuah upaya ilmiah mahasiswa mengkritisi dan menghasilkan solusi efektif. Sebab masyarakat sekarang menanti bagaimana protes mahasiswa berjalan seimbang antara gerakan jalanan dan solusi konkret. Konteks ini mendorong mahasiswa lebih memainkan peranan sebagai problem solver melalui berbagai kajian komperehensif atas berbagai isu yang berkembang. Sehingga terciptalah gagasan dan produk baru yang bermanfaat sebagai pertanggungjawaban kapasitas intelektual organik mahasiswa.

Pemerintah dan kampus sendiri terus mendorong budaya riset sebagai kultur akademik. Berbagai dana hibah, proyek penelitian dan kompetisi ilmiah membanjiri dunia kampus. Potensi ini harus dapat dimaksimalkan sebagai salah satu alternatif memposisikan misi besar agent of change. Sehingga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat terus dikembangkan dan fungsi kampus menghasilkan manusia intelektual berjalan sempurna.

2. Gerakan Mahasiswa Berbasis Wirausaha

Data pengangguran di Indonesia masih meninggalkan keprihatinan mendalam. Bagaimana tidak, berdasarkan data BPS jumlah pengangguran di negeri ini mencapai delapan persen dari jumlah angkatan kerja. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan 0,18 persen pengusaha. Masih jauh dari angka ideal jumlah pengusaha di negara berkembang yang minimal sebesar dua persen.

Masih tingginya pengangguran menandakan kemiskinan masih menjadi hantu menakutkan bagi Indonesia. Ancaman kemiskinan menjadi persoalan bersama semua elemen strategis bangsa Indonesia. Kondisi ini tentu mengancam kepemimpinan Indonesia di masa mendatang. Untuk itu diperlukan peran mahasiswa untuk membantu terciptanya kesejahteraan masyarakat.

Banyak cara mengatasi persoalan ini, misalnya menyuburkan tradisi wirausaha. Menggalakkan seminar, workshop, dan diskusi wirausaha dapat menjadi alternatif gerakan perekonomian. Sehingga membantu percepatan mengatasi masalah ekonomi dan kesenjangan sosial. Munculnya aktivitas mahasiswa berbasiskan wirausaha berpotensi membantu mengurangi angka pengangguran kaum intelektual. Sehingga pascakampus, tidak hanya dilahirkan mahasiswa pengangguran.

3. Gerakan Mahasiswa Berbasis Sosial Kerakyatan

Munculnya kemiskinan berujung tumbuh berkembang masalah sosial lainnya. Akar kemiskinan menghasilkan kebodohan, kriminalitas, busung lapar dan berbagai masalah sosial lain. Kondisi ini diperparah gelombang bencana alam yang melanda Indonesia. Gempa bumi, tsunami, banjir seolah menjadi akrab terdengar di telinga kita.

Situasi ini sepantasnya membuat hati mahasiswa terketuk. Mereka dapat mengadakan gerakan alternatif menggalang dana, membuat comdev (community development), sekolah gratis, dan lembaga sosial atau zakat. Selain mengasah kepekaan sosial, pembentukan lembaga itu juga membantu memutuskan sebuah lingkaran setan terhadap berbagai kasus sosial yang marak berkembang.

Perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah jalur kehidupan. Sekarang pergantian periodesasi harus mampu ditangkap jika gerakan mahasiswa ingin mempertahankan esksistensinya. Pilihan pada pelaku sejarah itu sendiri, apakah mereka sadar konstelasi yang sudah berubah atau masih terlelap dalam tidur panjangnya.

Inggar Saputra

Ka. Departemen Humas PP KAMMI
Analis Insure(//rfa)
TWITTER »
twit